Pelatihan GASELOR: Peran Ayah dalam Mengurangi Stunting di Kabupaten TTS
Pelatihan Panduan GASELOR Pangan dan Gizi yang digelar oleh ICRAF menjadi langkah penting dalam menghadapi masalah stunting di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Acara ini bertujuan untuk melibatkan tokoh agama Kristen Protestan dalam memperkuat peran ayah sebagai konselor pangan dan gizi keluarga. GASELOR sendiri merupakan akronim dari Gerakan Ayah Sebagai Konselor, yang fokus pada peran ayah dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga.
Pelatihan ini dilaksanakan di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten TTS, pada Jumat (28/11/2025) dan Sabtu (29/11/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten TTS bersama PERSAGI dan ICRAF dengan tujuan menekan angka stunting di wilayah tersebut.
Pengalaman dan Motivasi di Balik Inisiasi GASELOR
Murni Nurhasan dari CIFOR-ICRAF berbagi pengalamannya dalam menginisiasi kegiatan ini. Ia menyatakan bahwa selama diskusi, ia menemukan bahwa perhatian para ayah terhadap masa kehamilan ibu hingga 1000 hari pertama kehidupan anak sangat minim. Bahkan, banyak ayah lebih antusias menantikan kelahiran hewan ternak daripada menemani istri melahirkan.
Menurutnya, hal ini berkontribusi pada tingginya angka stunting di TTS. Ketika peran ayah hanya sebatas mencari nafkah tanpa dukungan emosional atau keterlibatan dalam pola asuh, makan, dan hidup keluarga, maka risiko stunting pada anak meningkat.
Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Laeli Sukmahayani, Gender Expect CIFOR ICRAF, menekankan pentingnya peran aktif ayah dalam tumbuh kembang anak. Di masyarakat patriarki seperti TTS, peran pengasuhan sering dikaitkan dengan perempuan, sementara ayah hanya dianggap sebagai pencari nafkah.
“Peran ayah dalam pengasuhan itu sangat besar. Di masyarakat kita yang tergolong sangat patriarki ini, peran pengasuhan, perawatan anak, gizi anak, urusan domestik itu selalu dikaitkan dengan perempuan, sedangkan ayah hanya pencari nafkah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi yang sering terjadi adalah ketika suami tidak mau mengambil peran setelah bekerja. Mereka lebih memilih tidur daripada mengecek keluarga, isi kulkas, membantu anak mandi, atau memastikan anak sudah makan.
“Hal-hal inilah yang mau kita promosikan. Melalui panduan yang kebetulan secara partisipatif kami buat, kemudian berpedoman pada konteks lokal yang relevan, berdasarkan data, survei, yang kemudian dijadikan satu. Panduan ini akan berkembang dan diadaptasi para pendeta yang juga punya jemaat, sehingga pendeta punya andil untuk menyampaikan hal ini kepada jemaatnya,” tambah Laeli.
Tanggung Jawab Bersama dalam Mengurangi Stunting
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr. RA Karolina Tahun, menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa berjalan sendiri dalam menekan angka stunting. Ia berterima kasih kepada ICRAF dan mitra yang telah mendukung upaya ini.
“Kondisi stunting di TTS ini kita dilihat dari beberapa faktor yang kemudian kami tidak bisa bergerak sendiri. Terima kasih ICRAF, Terima kasih Bapak dan Ibu Pendeta yang juga membantu meringankan beban kami. Kami percaya bahwa di mimbar gereja maupun kegiatan rohani, peran ayah sangat kuat dalam meningkat khususnya untuk pemenuhan pangan dan gizi bagi kesehatan masyarakat,” ujar dr. Karolina.
Ia menjelaskan bahwa persoalan stunting di TTS tidak sesederhana bagaimana memenuhi isi piring, tetapi erat kaitannya dengan kemiskinan ekstrem. Bagaimana masyarakat berdaya untuk memenuhi gizi makanan mereka sendiri.
“Bagaimana kita membicarakan isi piring sedangkan kita tidak punya uang, kondisi miskin ekstrim di sebagian besar masyarakat masih jadi hambatan. Balita paling banyak dikasih bubur toh,” tegasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Solusi Berkelanjutan
Pelatihan GASELOR menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam menekan stunting dan kemiskinan ekstrem di TTS. Upaya merangkul Kaum Bapak untuk sama-sama mengkompromikan kesejahteraan keluarga menjadi langkah penting, karena Kaum Bapak adalah pengambil keputusan dalam keluarga.
Kegiatan ini diikuti oleh pendeta, suami pendeta, Majelis Harian GMIT, pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas, Bappeda, Dinas P3A, dan BKKBN Kabupaten TTS. Selain sebagai kegiatan pelatihan panduan GASELOR, kegiatan tersebut juga dilaksanakan untuk mendapatkan rekomendasi dari peserta terkait penyesuaian dan penyempurnaan panduan.











