Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kisah Guru Honorer di Desa Terpencil Bandung Barat

Perjalanan Keras Menuju Pendidikan

Setiap tahun, peringatan Hari Guru Nasional dirayakan pada 25 November. Namun di tengah berbagai penghormatan dan apresiasi terhadap guru, nasib sejumlah guru honorer di sekolah terpencil Kabupaten Bandung Barat masih memilukan. Di Sekolah Dasar Negeri Gentramukti kelas jauh Cipiring, kehidupan para guru penuh tantangan dan kesulitan.

Murid SD itu hanya terpekur mendengarkan wejangan Santi Irmawati, 31 tahun di depan kelasnya siang itu. Sembari menggendong bayinya, Santi mengoreksi sang siswa terkait dengan pelajaran hitung-hitungan. Di ruangan kelas lain, Santika, 25 tahun mengajak para siswanya untuk berdoa sebelum pulang sekolah. Begitulah aktivitas mengajar sejumlah guru di Sekolah Dasar Negeri Gentramukti kelas jauh Cipiring di Kampung Cipiring, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

Sekolah kelas jauh terpencil di lembah tepi Sungai Cisokan itu berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Cianjur. Untuk tiba di sana, perjalanan harus melewati wilayah hutan, jalur setapak disertai “bonus” pemandangan jurang di tepi jalannya.

Rute Perjalanan yang Sulit

Dari jalan utama dekat Kantor Desa Cicadas, perjalanan menuju sekolah kelas jauh tersebut memakan waktu sekitar 30-45 menit. Dari jalan utama yang mengarah ke obyek wisata Curug Malela, jalur menuju sekolah mulai menurun. Medan jalan bergelombang dengan lubang-lubang menganga. Namun, akses itu masih bisa dilintasi sepeda motor hingga mobil. Akses yang bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat itu hanya sampai di Kampung Pasirpanjang.

Selanjutnya, jalan setapak cukup untuk perlintasan motor dan didominasi jalur tanah dan batu menjadi medan yang harus dilewati. Jalan lalu berkelok dan terus menurun dengan pemandangan hutan dan jurang di tepian. Tanda ada perkampungan mulai terlihat saat hutan jurang terlewati. Ya, sawah-sawah dengan beberapa atap rumah mulai terlihat menandakan perjalanan telah tiba di Cipiring. Berjarak sekitar dua kilometer dari jalan utama dan Kantor Desa Cicadas, Cipiring tersembunyi oleh rimbun hutan dan kedalaman lembah Cisokan. Di antara berbagai permukiman warga, kelas jauh Cipiring menyembul di tepi jalur setapak.

Sekolah yang Terbatas

Sekolah tersebut hanya memiliki empat lokal atau ruangan kelas. Satu kelas dipakai untuk siswa PAUD. Sementara sisanya untuk siswa-siswa SD. Santi menuturkan, total jumlah siswa SD kelas jauh Cipiring mencapai 29 siswa. Tak Lulus PPPK dan Lanjut S1

Karena ruangan yang tersedia cuma tiga, pembelajaran murid dua kelas dilakukan secara bersamaan. Jadi, setiap ruangan diisi oleh siswa-siswa dari dua kelas yang berbeda. Selain Santi yang mengajar kelas V dan VI dan Santika kelas I dan II, pengajar lain adalah Yenyen Rahmayanti, 27 tahun di kelas III dan IV.

Yenyen yang mengajar kelas III dan IV terbilang baru menjadi guru. Ketiga guru tersebut dipertautkan oleh status yang sama. Ya, mereka masih berstatus guru honorer. Santi dan Santika sempat berusaha meningkatkan statusnya dengan mendaftar sebagai guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Cuman teu lolos (Tetapi kami tidak lolos),” katanya. Santi menilai, mereka tidak lolos lantaran syarat jenjang pendidikan tak memenuhi. Ketiga guru di sekolah terpencil itu memang lulusan SMA, bukan jenjang sarjana strata 1 (S1).

Tantangan Pendidikan yang Berat

Untuk meneruskan jenjang S1 di sekolah terpencil Cipiring memang bukan perkara mudah. Selain persoalan medan jalan yang berat, guru-guru honorer yang bermukim di Cipiring tersebut juga terbentur biaya kuliah. SDN Gentramukti sebagai sekolah induk sebetulnya menawarkan peluang beasiswa untuk kuliah S1. Persoalannya, Santi terbentur kondisinya yang telah menikah dan memiliki dua anak. Beasiswa itu mensyaratkan calon penerima belum menikah dengan umur yang lebih muda. Jika harus merogoh kocek sendiri alias membayar kuliah, Santi terbentur kondisi ekonominya. Sang suaminya pun masih bekerja secara serabutan.

Kendala biaya dan juga dirasakan oleh Santika. Sebagai guru honorer, Santi dan Santika memperoleh honor mengajar Rp 300 ribu per bulan. Sedangkan Yenyen yang masih baru, mendapat Rp 250 ribu. Di tengah gaji yang minim dan kondisi wilayah yang terpencil, perjuangan para guru honorer mencerdaskan anak bangsa layak diapresiasi.

Warga Memilih Sekolah di Cianjur

Mereka tetap menjalani peran sebagai guru di tengah segala keterbatasan. Guru dari sekolah induk sebetulnya masih datang untuk menengok kelas jauhnya di Cipiring. Tetapi, persoalan akses memang menyulitkan kehadiran tersebut. Tiga guru honorerlah yang menjadi garda terdepan menyalakan pelita pendidikan di Cipiring. Kendala akses tak menyurutkan trio pendidik itu mengajar siswanya.

Santika mengungkapkan pula pengalamannya saat akses Cipiring tertutup longsor beberapa waktu lalu. “Bade mangkat teh dipaculan heula (Mau berangkat untuk kegiatan sekolah, timbunan longsor harus disingkirkan dulu).” tuturnya. Kala hujan, kondisi jalur lebih memprihatinkan lagi. Ban motor bahkan harus menggunakan rantai yang dililitkan agar masih bisa melintasi akses Cipiring.

Keberadaan kelas jauh pun penting agar anak-anak Cipiring tak putus sekolah dan memiliki opsi belajar di wilayah sendiri. “Tahun kamari seueurna ka Cianjur (Tahun kemarin masih banyak anak-anak Cipiring yang bersekolah ke wilayah Cianjur).” ucapnya. Akses bersekolah ke Cianjur dinilai lebih baik dan tak melintasi kawasan hutan. Kini, masih ada sekitar sembilan anak yang bersekolah di Cianjur.

Kerap Dibandingkan

Tak adanya guru kelas jauh yang berstatus PNS juga menjadi salah satu alasan orang tua murid menyekolahkan anak ke Cianjur. Terkadang, warga juga membanding-bandingkan perbedaan yang terjadi antara sekolah di Cianjur dan di kelas jauh Cipiring. “Naha di dieu mah teu ulangan (Kenapa di Cipiring tidak ulangan),” ujarnya mencontohkan. Padahal, hal itu terjadi lantaran perbedaan waktu dan sistem pendidikan di KBB dan Cianjur.

Berbagai keterbatasan yang dihadapi membuat Santi tak banyak menaruh harapan muluk akan perbaikan nasibnya sebagai guru. “Abdi mah sadar diri (Saya sadar diri).” ujarnya. Meski begitu, keinginan agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 hingga menanggalkan status honorer ke tingkat yang lebih tinggi masih tetap ada. Namun semua berpulang kepada pemerintah tentunya. Apakah mereka yang mengabdi di tepi demi menyalakan pelita pendidikan tersebut masih memiliki arti bagi yang berkuasa?

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *