Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kisah Pilu Korban Ledakan SMAN 72: Cita-cita Terancam Kandas, Jangan Tinggalkan Apis

Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Mengungkap Perasaan Pilu

Korban ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta, yaitu Hafiz atau dikenal dengan nama Apis, mengalami luka parah hingga tidak bisa berbicara. Dalam kondisi kritis, ia hanya mampu menulis pesan-pesan melalui kertas untuk menyampaikan perasaannya kepada orangtuanya.

Saat pertama kali sadar di rumah sakit, Apis tampak bingung dan tidak mengingat kejadian yang dialaminya. Ia bahkan bertanya kepada dokter mengapa dirinya berada di rumah sakit. Setelah memulihkan ingatannya, Apis mulai menyadari betapa seriusnya cedera yang ia alami. Dengan menggunakan secarik kertas dan pensil, ia menulis pesan yang penuh haru: “Jangan tinggalin Apis ya.”

Selain itu, Apis juga menyampaikan permintaan khusus kepada orangtuanya. Ia meminta agar kasus ini segera diusut tuntas dan pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku. Pesan tersebut membuat ayahnya, Andri, terharu dan sedih. Menurut Andri, isi pesan Apis sangat menyentuh hati, terutama karena ia memohon agar pelaku segera diproses secara hukum.

“Yang membuat saya sedih adalah ketika dia menulis ‘tolong mah, ayah, diusut kenapa Apis bisa begini’,” ujar Andri sambil menahan air mata.

Kondisi Kesehatan Apis yang Memilukan

Menurut pengakuan Andri, Apis mengalami luka serius hingga 50 persen tubuhnya terkena dampak ledakan. Selain luka bakar, korban juga mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Matanya sebelah kiri kabur, sedangkan telinga sebelah kiri tidak bisa mendengar. Bahkan kakinya mengalami patah tulang.

Andri menjelaskan bahwa saat kejadian, Apis sedang berada di dalam masjid dan duduk di dekat tiang yang berdekatan dengan bom rakitan. Bom tersebut disimpan oleh terduga pelaku FN. Akibat ledakan tersebut, Apis menjadi korban paling parah dan harus dirawat intensif di ICU.

“Dari kemarin kondisinya semakin baik. Tingkat kesadarannya meningkat setiap hari. Tapi untuk luka-lukanya belum bisa dipastikan akan pulih sepenuhnya. Dia masih di ICU,” jelas Andri.

Harapan Ayah yang Penuh Kesedihan

Andri merasa sedih karena cita-cita Apis sebagai abdi negara, seperti menjadi tentara atau polisi, kini terancam kandas akibat insiden ini. Ia khawatir apakah anaknya akan pulih sepenuhnya atau tidak.

“Andai saja bisa sembuh total, itu akan menjadi kebahagiaan bagi saya. Tapi sampai sekarang saya belum tahu bagaimana masa depannya,” ujar Andri.

Pengalaman Berharga dari Korban

Selain menulis pesan haru kepada orangtuanya, Apis juga sempat memberi informasi tentang kejadian yang dialaminya. Meskipun tidak bisa berbicara, ia mencoba menjelaskan situasi yang ia alami melalui tulisan. Hal ini menunjukkan bahwa meski dalam kondisi kritis, Apis tetap sadar dan ingin menyampaikan kebenaran tentang kejadian tersebut.

Perasaan pilu dan harapan yang tersembunyi dalam pesan-pesan Apis menjadi bukti bahwa ia memiliki semangat kuat untuk bangkit kembali. Semoga kondisi kesehatannya dapat segera pulih dan masa depannya bisa kembali cerah.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *