Kasus Pembunuhan Ibu Muda di Batam: Ritual dan Penyiksaan yang Berujung Kematian
Empat pelaku pembunuhan terhadap DP (25), seorang ibu muda asal Lampung Barat, hanya terdiam dan menundukkan kepala saat kasus mereka diungkap di Mapolsek Batuampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Keempat pelaku mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye dan masker. Mereka adalah Wilson alias Koko (28), kekasihnya Anik Istikomah alias Mami (36), serta dua koordinator agensi LC, Putri Enjelina alias Papi Tama (32) dan Salmianti alias Papi Carles (32).
Korban meninggal setelah dianiaya secara keji di sebuah rumah di Perumahan Jodoh Permai, Kelurahan Sungai Jodoh, Kecamatan Batuampar. Informasi kematian korban pertama kali viral pada Sabtu (29/11). Kepala RS Bhayangkara Polda Kepri, dr Leo, mengungkap korban diperkirakan meninggal antara 24 hingga 72 jam sebelum jenazah diterima rumah sakit. Kondisi korban sudah mengalami pembusukan lanjut.
Autopsi menunjukkan banyak luka memar di wajah, kepala, dada, lengan, dan paha. “Ada cairan darah bercampur air sekitar 150 cc pada rongga dada. Ini mengindikasikan korban masih bernapas saat cairan masuk,” jelas dr Leo. Temuan autopsi ini diperkuat Kapolsek Batu Ampar, Kompol Amru Abdullah. “Korban mengalami banyak luka akibat benda tumpul dan tajam. Kami pastikan ini pembunuhan,” ujarnya.
Ritual ‘Janggal’ Sebelum Penyiksaan
Kronologi berawal dari ritual wajib bagi anggota baru agensi LC yang dipimpin Wilson. Korban disebut tidak mengikuti ritual dengan sungguh-sungguh, terutama saat menolak minum alkohol. Sikapnya membuat Wilson marah besar. “Hasil penyelidikan kami menemukan di lokasi sering dilakukan ritual sebelum orang masuk kerja,” kata Kompol Amru. Emosi Wilson semakin memuncak setelah Mami memperlihatkan dua video rekayasa yang dibuat bersama Papi Carles. Dalam video tersebut, korban seolah mencekik pelaku. “Video ini dibuat untuk mengancam korban apabila suatu saat diperlukan,” tambah Amru.
Wilson yang terprovokasi kemudian menyiksa korban secara brutal bersama tiga pelaku lainnya. Pelaku sempat mengira korban pura-pura pingsan. Di ruang kecil dekat mesin cuci, korban terus disiksa dengan dipukuli, dilakban, dan ditelanjangi. Ketika korban tak bergerak, Wilson mengira korban berpura-pura pingsan. “Pelaku bahkan sempat meminta asistennya membeli tabung oksigen untuk menghidupkan lagi korban,” jelas polisi. Namun korban sudah meninggal.
Upaya Menghilangkan Jejak: CCTV Dicabut, Rekaman Dihapus
Para pelaku mencopot sembilan unit CCTV di lokasi penyiksaan dan menghapus rekaman dari ponsel Wilson. Namun mereka lupa satu hal penting: kartu memori kamera masih terpasang. “Dari memori itu terlihat jelas bagaimana para pelaku menganiaya korban. Video ini sekarang menjadi barang bukti utama,” ujar Kapolsek. Rencana Kubur Korban tanpa Identitas Setelah panik, Wilson menghubungi seorang rekannya yang berprofesi sebagai dokter dengan memberikan cerita palsu. Atas saran temannya, korban dibawa ke RS Elisabeth Sei Lekop tanpa identitas. “Pelaku mendaftarkan korban sebagai Mrs X untuk menghilangkan jejak,” kata Kompol Amru. Ketika rumah sakit menyatakan korban telah meninggal, para pelaku tidak melapor ke polisi. Mereka justru berencana menguburkan korban sendiri dengan bantuan seorang ustaz.
Jenazah Dipulangkan ke Lampung Barat
Humas Ikatan Keluarga Besar Lampung (IKBL) Batam, Ali Islami, mengatakan pihaknya mendampingi proses autopsi dan pemulangan jenazah. “Kami berharap pelaku dihukum seadil-adilnya. Secara pribadi saya melihat perbuatan mereka layak dihukum mati,” ujarnya. Jenazah dipulangkan pada Minggu (30/11) dan dimakamkan di kampung halaman korban di Kecamatan Gedung Surian, Lampung Barat, Senin (1/12) sebelum Zuhur.











