Penyelidikan Bareskrim Polri atas Kayu Gelondongan yang Terbawa Banjir Bandang di Sumatra
Pihak Bareskrim Polri kini sedang melakukan penyelidikan terhadap kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatra pada akhir November 2025. Temuan ini memicu dugaan adanya praktik penebangan liar (illegal logging) di wilayah tersebut yang terdampak.
Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen M Irhamni mengonfirmasi bahwa penyelidikan telah berjalan. Ia menyebutkan bahwa pihaknya masih mendalami asal-usul kayu-kayu tersebut. “Bentuk tim untuk penyelidikan, saat ini sedang penyelidikan. Belum tahu asalnya,” kata Irhamni melalui pesan singkat, Selasa (2/12/2025).
Irhamni juga membenarkan bahwa penyelidikan dilakukan terhadap seluruh temuan kayu gelondongan yang muncul dalam bencana di wilayah Sumatera. Ketika ditanya apakah penyelidikan terkait di wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat, ia hanya menjawab dengan singkat, “Ya.”
Perbedaan Pandangan Antara Pemerintah dan LSM
Sebelumnya, banjir bandang di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera menunjukkan banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus hingga ke sungai dan pantai. Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengklaim bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari pohon lapuk, pohon tumbang, dan area penebangan.
“Hasil analisis sumber-sumber kayu itu. Satu adalah kayu lapuk, kedua kayu yang akibat tadi pohon tumbang dan ketiga di area-area penebangan. Kayu-kayu dari area penebangan,” ujar Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto, Jumat (28/11/2025).
Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari pohon yang sengaja ditebang. Direktur WALHI Sumatra Utara (Sumut), Rianda Purba menganggap kayu-kayu itu merupakan bukti masih adanya penebangan yang masif dan terstruktur.
“Tampak dari potongan-potongan kayu yang hanyut tersebut merupakan bekas-bekas potongan [baik] kayu besar, kayu kecil. Itu potongan-potongan yang dibuat manusia, bukan dari pohon yang hanyut karena longsor,” kata Rianda dalam acara Breaking News di Kompas TV, Senin (1/12/2025). “Kalau pohon-pohon yang hanyut karena longsor, itu masih ada akar dan ranting-rantingnya. Ini kan jelas dan dalam skala besar.”
Isu Investasi dan Kerusakan Ekosistem
Rianda menegaskan bahwa banyaknya kayu gelondongan saat banjir menunjukkan adanya aktivitas penebangan yang sangat masif dan terorganisir. Ia juga mengeluhkan hutan-hutan di Sumatara yang kini menjadi objek investasi.
Menurut dia, Sumatara bagian tengah dan barat merupakan jajaran Bukit Barisan. Jajaran itu merupakan ekosistem hutan alami yang menopang siklus hidrologis dan menjadi wilayah tangkapan air. Namun, ekosistem itu rusak karena alih fungsi lahan.
“Dari hutan menjadi pertambangan, dari hutan menjadi objek investasi pembangunan infrastruktur, kemudian dari hutan menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit,” ujar dia.
Kritik terhadap Kemenhut
Bupati Tapsel, Gus Irawan membongkar peran Kementerian Kehutanan dalam pembabatan hutan di wilayahnya. Bahkan, ia menyebut pada bulan Oktober 2025, Kemenhut kembali mengeluarkan izin penebangan hutan di sana, padahal sebelumnya sudah ada larangan.
Gus Irawan sempat menyampaikan surat protes kepada Kemenhut sebelum bencana banjir besar terjadi. Kader PSI Dedy Nur Palaka meminta agar Kementerian Kehutanan Republik Indonesia di bawah menteri Raja Juli Antoni tidak disalahkan atas bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara.
“Bencana alam bisa hadir kapan saja, ada baiknya kita tidak saling menuding ini salah siapa,” ungkap Dedy di media sosial X, dikutip Warta Kota pada Selasa (2/12/2025). Dia mengatakan, dalam kondisi pasca-bencana, langkah yang paling tepat dilakukan adalah saling menolong, bukan mencari siapa yang salah.
Data Korban Banjir Bandang di Sumut
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (30/11/2025), korban meninggal dunia di Sumut mencapai 172 orang. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, di Sumut saat ini ada 147 orang yang dilaporkan hilang.
Listrik dan air di lokasi bencana relatif sudah pulih. Meski begitu, masih banyak lokasi yang masih terputus listrik dan air. “Listrik, air ini juga relatif sudah pulih tapi masih banyak yang padam kami tahu dari PLN sudah menyebar personelnya mohon ini lebih cepat lagi khususnya di daerah-daerah yang terisolir karena itu juga sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.











