Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap berbagai ancaman kesehatan akibat bencana banjir yang sedang melanda sejumlah daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar terhadap kesehatan fisik maupun mental anak-anak yang terdampak bencana.
Ancaman Kesehatan Fisik yang Mengintai Anak-Anak
Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak-anak menghadapi risiko tinggi terkena berbagai penyakit infeksi, seperti diare, penyakit kulit, campak, tetanus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), leptospirosis, hingga demam berdarah. Penyebab utama adalah kontak langsung dengan air banjir yang terkontaminasi oleh kuman dan bakteri.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk meminimalisir risiko ini, seperti penggunaan obat-obatan dan vaksinasi. Namun, capaian imunisasi dasar lengkap (IDL) di wilayah Sumatra Barat dan Aceh masih jauh di bawah target nasional. Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak belum mendapatkan perlindungan kesehatan yang cukup.
Penyakit yang Muncul Pasca-Banjir
Diare dan infeksi kulit merupakan dua penyakit pertama yang muncul setelah banjir. Studi kesehatan tahun 2018 menunjukkan bahwa penyakit-penyakit ini biasanya muncul dalam 10 hari pertama banjir. Infeksi kulit seperti tinea dan bacterial dermatitis juga sering ditemukan pada anak-anak yang terpapar air banjir.
Di Sumatra Utara, IDAI melakukan pemeriksaan kesehatan anak-anak di beberapa lokasi terdampak banjir. Di Binjai, misalnya, dari 66 anak yang diperiksa, 37 terinfeksi ISPA, 18 mengalami diare, 7 mengidap tinea, dan 4 terinfeksi bacterial dermatitis. Di Langkat, dari 125 anak yang diperiksa, 55 terinfeksi ISPA, 12 diare, 35 tinea, dan 23 bacterial dermatitis. Di Medan Barat, mayoritas anak-anak terjangkit ISPA.
Sementara itu, di Sumatra Barat, penyakit yang sama juga dilaporkan menyerang anak-anak. Di Kota Padang, misalnya, tercatat 80 kasus ISPA, 4 diare, 6 penyakit kulit, dan 4 kasus campak. Selain itu, empat anak meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor.
Ancaman Penyakit Lain Setelah Banjir Surut
Ketika banjir mulai surut, ancaman penyakit lain mulai muncul, seperti leptospirosis dan tetanus. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi oleh urin hewan, terutama tikus. Gejalanya mencakup demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mata merah, serta kuning pada kulit dan mata.
Tetanus adalah infeksi bakteri Clostridium tetani yang masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Jika tidak segera ditangani, tetanus dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia dan insufisiensi pernapasan. Imunisasi DTP menjadi salah satu cara pencegahan yang efektif.
Selain itu, genangan air pasca-banjir menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, yang bisa menyebabkan demam berdarah.
Masalah Kesehatan Mental dan Tumbuh Kembang Anak
Selain ancaman fisik, anak-anak juga menghadapi tantangan kesehatan mental dan tumbuh kembang. Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, dokter Kurniawan Taufiq Kadafi, menyoroti pentingnya memperhatikan aspek tumbuh kembang anak, termasuk pendidikan dan identitas mereka.
Selain itu, kondisi pengungsian bisa meningkatkan risiko paparan kekerasan dari orang tua atau lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus terhadap kesejahteraan psikologis anak-anak.
Kebutuhan Dasar Anak-Anak Korban Banjir
IDAI menyarankan agar anak-anak korban banjir mendapatkan akses terhadap air bersih, makanan bergizi, dan imunisasi. Contohnya, mi instan yang sering diberikan harus diolah dengan baik dan dibersihkan sebelum dimakan.
Selain itu, ibu dan bayi korban banjir disarankan terus memberikan ASI karena lebih aman daripada susu formula, terutama jika air tidak layak minum.
Kebutuhan lain seperti popok bayi, pakaian layak, selimut, perlengkapan mandi, dan obat-obatan juga sangat penting untuk dipenuhi.
Peran Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana
IDAI juga mengajukan permohonan agar pemerintah menetapkan bencana banjir di tiga provinsi di Sumatra sebagai bencana nasional. Hal ini penting untuk memastikan penanganan yang lebih cepat dan efektif.
Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan akan melakukan segala upaya untuk mengatasi kesulitan yang dialami korban bencana. Ia juga menyatakan bahwa pengiriman bantuan akan terus berlangsung setiap hari.











