Bencana Banjir Bandang dan Longsor Menewaskan 174 Orang di Aceh, Sumbar, dan Sumut
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) hingga Jumat (28/11) menyebabkan sedikitnya 174 orang meninggal dunia. Ribuan petugas dikerahkan untuk mengevakuasi puluhan ribu warga terdampak bencana di tiga provinsi tersebut.
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa hingga Jumat (28/11/2025) sore, tercatat total 174 orang meninggal dunia dan 12.546 kepala keluarga (KK) mengungsi. Namun, dia menegaskan bahwa angka tersebut masih dapat berkembang, karena masih terdapat sejumlah wilayah yang belum bisa diakses dan proses pendataan terus berlangsung.
Di Provinsi Sumatera Utara, jumlah korban meninggal tertinggi, yaitu 116 orang dan 42 orang masih dalam pencarian. Korban meninggal terbanyak tercatat di Tapanuli Tengah, yang mencapai 34 orang; Sibolga 30 orang. Sementara itu, 677 warga berhasil dievakuasi dari berbagai lokasi terdampak.
Di Sumatera Barat, tercatat 22 orang meninggal dunia dan 12 orang masih dicari. Kantor SAR Padang melaporkan korban tewas terbanyak berada di Kabupaten Agam dengan 10 orang. Basarnas melaporkan, hingga Jumat (28/11), jumlah warga yang telah dievakuasi di ketiga provinsi tersebut mencapai 29.152 orang.
Sementara, untuk wilayah Aceh, tercatat 645 orang dievakuasi, sementara ribuan lainnya telah mengungsi. Jumlah pengungsi terbesar berada di Aceh Utara, yang mencapai 3.507 orang dan Aceh Timur yang mencapai 2.456 orang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan enam orang meninggal dunia dan 11 dinyatakan hilang, berdasarkan laporan Bupati Bener Meriah dan Gayo Lues. Namun, dalam perkembangan informasi Jumat petang, dinyatakan bahwa 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan 8 warga luka-luka, dalam bencana hidrometeorologi di Aceh.
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, mengatakan, kondisi di lapangan hingga saat ini masih kritis, terdapat warga yang terjebak banjir, hilang, serta beberapa wilayah yang sepenuhnya terisolasi. “Kita perlu langkah awal bahwa kondisi masih ada yang dalam banjir dan harus dievakuasi segera. Masih ada orang hilang dan perlu dicari. Kita juga perlu menjangkau masyarakat yang terisolir,” kata Nasir, dalam rapat darurat penanganan bencana banjir dan longsor di Kantor Gubernur Aceh, Jumat.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Akses Jalan
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa proses pencarian korban dan evakuasi terus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. “Hujan masih sangat intens, debit sungai naik, dan beberapa akses jalan tertutup material longsor. Tim tetap bekerja hati-hati,” ujarnya.
Berbagai peralatan diterjunkan, seperti ekskavator, perahu karet, dan drone pemantauan. Personel tambahan juga telah dikirim ke lokasi terdampak. Selain itu, helikopter HR-3604 diterbangkan ke Sumatera Barat untuk menyisir permukiman terdampak banjir. KN SAR Purworejo diberangkatkan dari Tanjung Pinang menuju Lhokseumawe, membawa 30 personel, 12 perahu karet, dan 2 unit Starlink untuk komunikasi.
“Semua langkah ini dirancang untuk mempercepat penanganan, memperluas jangkauan pencarian, dan memastikan masyarakat terdampak mendapat bantuan secepat dan seaman mungkin,” kata Syafii.
Ahli ITB: Penyebab Bencana Tidak Tunggal
Fenomena banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara belakangan ini tidak terjadi secara tunggal. Menurut peneliti dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), bencana tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor atmosfer, kondisi geospasial, serta kapasitas tampung wilayah.
Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah, menyampaikan bahwa kawasan Sumatera bagian utara saat ini memang sedang berada pada puncak musim hujan. “Wilayah Tapanuli dan sekitarnya memiliki pola hujan sepanjang tahun, atau dua kali puncak hujan dalam satu tahun,” ujar Rais, Jumat (28/11/2025).
Rais menjelaskan bahwa curah hujan dalam periode ini tergolong sangat lebat, bahkan mencapai kategori ekstrem di sejumlah lokasi. Data lapangan dan laporan media menunjukkan beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan curah hujan di atas 300 milimeter, yang termasuk kategori ekstrem.
Sebagai gambaran, curah hujan ekstrem di Jakarta pada awal Januari 2020 mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari dan memicu banjir besar di kawasan Jabodetabek.











