Penyintas Hipertensi Paru: Kebutuhan Fisik yang Tak Terlihat
Bagi sebagian orang, mendapatkan tempat duduk di transportasi umum adalah hal sepele. Namun bagi penyintas hipertensi paru, penyakit langka yang membuat penderitanya mudah sesak, cepat lelah, dan tak mampu berdiri lama, kursi di transportasi umum bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan fisik yang mendesak.
Itulah yang dialami Yusnita Dewi, seorang ibu tiga anak yang mengidap hipertensi paru. Tanda-tanda sesak hingga bengkak di kaki kerap tak dipercaya dan dianggap sehat. Berdiri terlalu lama bukan sekadar membuat penderitanya lelah. Ada risiko medis yang nyata.
Diduga ‘Masih Sehat’, Padahal Menahan Sesak
Kala itu Yusnita hendak kontrol rutin. Seperti biasa, ia memilih naik kereta dari Stasiun Rawa Buntu. Tubuhnya sudah terasa berat sejak pagi, napas cepat, kaki bengkak, dan detak jantung tak beraturan. Tetapi, sebagaimana para penyintas penyakit kronis yang tampak “baik-baik saja” dari luar, tak satu pun penumpang yang melihat tanda-tanda itu.
Di perjalanan, ia memberanikan diri meminta tempat duduk. Sayangnya, masih saja ada penumpang yang tidak percaya. “Kadang saya sampai harus menunjukkan berkas dari rumah sakit, tanda saya pasien jantung. Tapi tetap nggak ada yang percaya,” ucapnya lirih pada diskusi media Bulan Kesadaran Hipertensi Paru 2025 yang diselenggarakan MSD Indonesia, Kamis (27/11/2025).
Ketika Sakitnya Tidak Terlihat, Dukanya Tidak Dianggap
Perjalanan Yusnita menuju diagnosis pun berliku. Awalnya ia diduga gagal jantung, kemudian dokter lain menyampaikan ada indikasi hipertensi paru. Rasa letih yang tak wajar, sesak saat naik tangga, hingga bengkak di kaki membuat kehidupannya berubah pelan-pelan tanpa ia sadari.
Namun beban terberat justru bukan dari medis, melainkan dari emosional. Momentum yang paling ia ingat terjadi di ruang dokter. Mengingatnya saja membuat suaranya bergetar. “Saya memang saat itu menangis di toilet karena saya malu untuk nangis di depan dokter. Dokternya bilang kalau saya kan kuat. Jadi di depan dokter saya sok-sok kuat aja. Setelah keluar dari ruangan dokter baru deh saya nangis di sana,” papar Yusnita.
Ia menahan semua itu sendirian, sampai akhirnya mengenal Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI). Komunitas itu, baginya, seperti pelukan besar yang menampung semua air mata dan ketakutan. “Sampai akhirnya saya ketemu di YHPI. Di sana saya ketemu banyak pasien yang menceritakan kisah hidupnya sama saya. Dengan dukungan mereka yang selalu men-support saya,” lanjutnya.
Dari sana, ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak menangis. Bahwa menjadi pasien penyakit kronis bukan tentang menyerah, tapi tentang belajar berdamai.
Kenapa Pasien Hipertensi Paru Tidak Boleh Berdiri Lama?
Berdiri terlalu lama bukan sekadar membuat Yusnita lelah. Ada risiko medis yang nyata. Dokter pemerhati hipertensi paru, dr. Hary Sakti Muliawan, PhD, Sp.JP, FIHA, menjelaskan urgensinya. “Pada dasarnya kalau pasien hipertensi paru, diri pun itu kalau terlalu lama itu dapat menimbulkan beban fisik ya, sehingga tentu saja kalau misalnya berdiri terlalu lama aliran darah juga menjadi lebih berat, tekanannya akan meningkat sehingga akan pasien jadi tambah sesak gitu ya,” kata dr Hary menjelaskan.
Ia menegaskan bahwa pasien hipertensi paru seharusnya mendapatkan prioritas untuk duduk di transportasi umum demi menjaga kestabilan kondisi fisiknya. “Kalau bisa pasien hipertensi paru memang tidak berdiri lama, kalau bisa duduk,” jelas dr Hary.
Tantangan Ganda: Tidak Tampak, Lalu Disalahpahami
Selain sulit mendapatkan tempat duduk, Yusnita juga harus menghadapi stigma. Banyak orang mengira hipertensi paru adalah penyakit paru biasa yang menular. “Ketika saya jelasin hipertensi paru, disangkanya ini penyakit paru menular. Sudah dijelaskan, dibilangnya penyakitnya menular,” kata Yusnita.
Ketidaktahuan masyarakat membuat para penyintas sering dilihat sebelah mata. Padahal hipertensi paru bukan penyakit menular, melainkan kondisi kronis yang membuat jantung bekerja lebih keras memompa darah ke paru-paru. Ia hanya berharap masyarakat punya sedikit lebih banyak kepekaan.
Tidak semua penderitaan terlihat. Tidak semua sakit tampak dari luar. Dan tidak semua orang yang berdiri di kereta dalam diam sebenarnya sehat. Dan bagi para penyintas seperti Yusnita, satu kebaikan kecil itu bisa menyelamatkan napas mereka.











