Tantangan Pencarian Korban Longsor di Banjarnegara
Pencarian korban longsor yang terjadi di Dusun Situkung, Desa/Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu faktor utama adalah kondisi tanah yang masih basah dan berlumpur, yang membahayakan kegiatan tim SAR gabungan.
Memasuki hari keempat pencarian, Rabu (19/11/2025), masih ada 26 orang yang hilang kontak. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Kapusdatin BNPB) Abdul Muhari menjelaskan bahwa kondisi material longsor yang basah membuat pergerakan personel pencarian menjadi sangat berisiko.
“Sebenarnya, modifikasi cuaca sudah dilakukan di langit Banjarnegara. Tapi, kendala pencarian di hari Selasa kemarin, upaya penarian beberapa kali dihentikan karena kondisi material longsoran masih basah dan bergerak sehingga membahayakan personel di lapangan kalau melakukan pencarian,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan area permukiman terdampak longsoran yang menghalangi alur longsoran. Hal ini menyebabkan pergerakan tanah yang masih aktif dapat sangat membahayakan tim SAR gabungan yang sedang bekerja.
Dalam pencarian korban longsor Pandanarum ini, tim SAR gabungan mendapat pendampingan dari Badan Geologi. Petugas dari Badan Geologi memberikan rekomendasi apakah pencarian bisa dilanjutkan atau ada hal-hal lain yang harus diperhatikan terkait kondisi tanah di lokasi longsor.
“Badan Geologi menyarankan apakah upaya pencarian dihentikan sementara untuk melihat pergerakan tanah membahayakan dan menimbulkan fatalitas atau tidak. Ini yang sangat kami pertimbangkan di lapangan, jangan sampai pencarian korban menimbulkan fatalitas yang baru,” imbuhnya.
Pagi ini, pencarian korban longsor Banjarnegara dimulai pukul 06.00 WIB. Data BNPB, Rabu pagi, menunjukkan bahwa longsor Banjarnegara mengakibatkan dua orang tewas dan 26 warga belum bisa dihubungi. Warga yang hilang kontak ini diduga tertimbun longsor.
Pengiriman Alat Bantu untuk Pencarian
Abdul Muhari menjelaskan bahwa tim SAR telah melakukan pemetaan wilayah menggunakan drone terkait lokasi longsor. “Kami sudah mengidentifikasi secara presisi mana-mana titik rumah sebelum longsor terjadi sehingga site pencarian sudah bisa dilakukan secara detail.”
Meski begitu, Muhari memastikan bahwa lokasi longsor Banjarnegara bisa ditembus tim SAR gabungan meski menimbulkan tantangan. Rencananya, pihaknya akan mengirim bantuan alat berat dan anjing pelacak untuk memaksimalkan pencarian korban longsor Banjarnegara.
“Alat berat dan K-9 (anjing pelacak) dari Cilacap akan digeser ke Banjarnegara, juga dari tempat lain. Dukungan perangkat ini diharapkan membuat pencarian bisa optimal,” katanya.
Sebelumnya, longsor menerjang Dusun Situkung, Desa/Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (16/11/2025). Longsor merusak puluhan rumah dan mengakibatkan dua warga tewas. Sementara, 26 orang masih hilang kontak dan diduga tertimbun longsor.
Selain korban jiwa, longsor Banjarnegara juga menelan setidaknya 280 ternak sapi kambing warga. Lahan pertanian yang ditanami padi, cabai, tomat, dan kapulaga juga ikut tertimbung longsor Pandanarum.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











