Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS dan Iran
Pakistan menjadi salah satu pihak utama yang berkontribusi pada tercapainya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Setelah hampir enam minggu konflik, negara ini berhasil memimpin pembicaraan jalur belakang yang menghasilkan kesepakatan dalam waktu kurang dari 90 menit sebelum tenggat waktu Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran pada malam Selasa (7/4). Kesepakatan tersebut kemudian diumumkan oleh Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, dan ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, via media sosial X.
Meskipun gencatan senjata telah tercapai, masih ada beberapa isu yang muncul. Trump menyatakan bahwa Iran akan mengizinkan transit pelayaran tanpa hambatan melalui Selat Hormuz, sementara Araghchi menyebut bahwa pelayaran harus dilakukan di bawah pengawasan Angkatan Bersenjata Iran. Pertanyaan lain juga muncul, seperti apakah Lebanon termasuk dalam gencatan senjata atau apakah AS setuju dengan pengayaan uranium Iran. Meski begitu, keduanya sepakat atas peran sentral Pakistan sebagai mediator.
Pernyataan dan Pengakuan dari Kedua Pihak
Trump menyetujui gencatan senjata setelah berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir. Kedua pejabat itu meminta Trump untuk menahan serangan ke Iran pada malam hari. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyampaikan terima kasih kepada Sharif dan Munir atas upaya mengakhiri perang. Ia menyebut Iran menerima gencatan senjata atas permintaan Sharif.
PM Pakistan Shehbaz Sharif kemudian mengunggah pernyataan 90 menit kemudian dan menegaskan gencatan senjata sebagai capaian diplomatik besar. Ia mengumumkan bahwa AS dan Iran menyepakati gencatan senjata segera dan mengundang kedua pihak ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi. Sharif juga berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menjadwalkan negosiasi di Islamabad pada Jumat (10/8) dengan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden, JD Vance.
Awal Diplomasi Pakistan
Diplomasi Pakistan dimulai tak lama setelah serangan awal AS-Israel terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, segera mengeluarkan pernyataan dan menelepon Menlu Iran Araghchi untuk menyampaikan solidaritas. “Pakistan siap memfasilitasi dialog antara Washington dan Teheran di Islamabad,” kata Dar saat berbicara di Senat Pakistan pada 3 Maret lalu.
Pada saat itu, terjadi protes besar di Pakistan. Demonstran di Karachi menewaskan sedikitnya 10 orang saat mencoba menyerbu konsulat AS pada 1 Maret lalu. Komunitas Syiah Pakistan memantau situasi sektarian, dan Asim Munir memanggil ulama Syiah ke Rawalpindi serta memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan ditoleransi.
Tekanan dan Tantangan yang Dihadapi Pakistan
Pakistan menghadapi berbagai tekanan, termasuk konflik terbuka dengan Taliban Afghanistan. Negara ini juga menghadapi kenaikan biaya bahan bakar akibat gangguan di Selat Hormuz serta kekhawatiran terhadap remitansi pekerjanya di negara-negara Teluk. Pada 12 Maret, Sharif bersama Munir bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), di Jeddah untuk menyatakan solidaritas dan mendesak penahanan diri atas meningkatnya serangan Iran di negara-negara Teluk.
Peran Pakistan sebagai Pembawa Damai Global
Direktur Eksekutif Sanober Institute, Qamar Cheema, mengatakan kecaman awal Pakistan terhadap serangan AS-Israel sangat krusial. Ia menilai langkah Islamabad itu mampu membangun kepercayaan Iran dan memperkuat peran Pakistan sebagai pembawa damai global. Mantan Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PPB) dan AS, Masood Khan, mengatakan aktor-aktor regional menginginkan keandalan, ketidakberpihakan, konsistensi, penahanan diri, dan hasil nyata.
Perang Meningkat, Diplomasi Diperdalam
Di tengah proses diplomasi Pakistan, serangan udara Israel pada 16–17 Maret menewaskan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. Sehari setelahnya, jet Israel menyerang South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 70% produksi gas Iran. Serangan itu memicu balasan Iran terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan mendorong lonjakan harga minyak dan gas.
Menuju Gencatan Senjata
Pada Minggu Paskah (5/4), ketegangan mencapai puncak saat Presiden AS Donald Trump mengancam menghancurkan infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka. Di balik layar, Pakistan meningkatkan upaya diplomasi. Pakistan mengajukan proposal gencatan senjata dua tahap sehari setelahnya. Namun, Trump awalnya menolak dan menetapkan tenggat. Asim Munir kemudian terus berkomunikasi dengan kedua pihak hingga jam-jam terakhir hingga terobosan muncul setelah seruan publik PM Sharif.
Selanjutnya Apa?
Gencatan senjata yang terjadi antara AS dan Iran masih bersifat sementara, bukan kesepakatan damai. Iran menyebutnya kemenangan, namun tetap meningkatkan kesiapan militer. Perbedaan utama masih belum terselesaikan, termasuk status Lebanon. PM Sharif menyebut Lebanon masuk dalam kesepakatan, tetapi Israel membantah dan serangan masih berlanjut di wilayah itu.
Peran Pakistan dalam Diplomasi Global
Analisis menunjukkan bahwa peran Pakistan menandai perubahan besar karena negara ini kini berada di pusat diplomasi global, setelah sebelumnya tidak terlibat dalam Kesepakatan Nuklir Iran 2015. Seorang analis menyebut ini sebagai pertama kalinya Pakistan memediasi konflik aktif antara dua pihak yang berkonflik di tengah eskalasi militer tanpa kontak langsung.
Meski demikian, beberapa pihak masih meragukan peran Pakistan sebagai mediator. Pasalnya, Islamabad belum memiliki sejarah panjang sebagai mediator dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Kuwait, Oman, atau Qatar. Kendati demikian, Washington dan Teheran cepat memberi pengakuan. Mantan Duta Besar Pakistan untuk PPB dan AS, Masood Khan, menilai Pakistan telah mencatat pencapaian penting meski hasil akhir masih bergantung pada proses lanjutan.
“Kami tidak ingin melihat kawasan kaya dunia Muslim hancur atau dunia terseret ke perang yang lebih luas,” ujarnya. “Keberhasilan akhir akan bergantung pada proses ke depan, tetapi bahkan pada tahap awal ini, Pakistan telah mengukir tempatnya dalam sejarah diplomasi dunia.”











