Kasus Bayi Nyaris Tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin Masih Berlanjut
Kasus bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kembali menjadi sorotan setelah sang ibu, Nina Saleha (27), mengungkapkan ketidakpuasan terhadap penanganan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit. Menurutnya, hingga saat ini belum ada permintaan maaf dari pihak rumah sakit atau perawat yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Nina mengungkapkan rasa marahnya melalui akun media sosialnya, TikTok. Ia menegaskan bahwa tidak ada upaya perdamaian yang dilakukan secara resmi oleh pihak RSHS. Bahkan, perawat yang diduga melakukan kesalahan tersebut juga belum datang untuk meminta maaf kepada dirinya.
“Koplok damai, trus Mun damai, suster itu di keluarkan dari RS Oge bisa bener-benar minta maaf, malah susternya blum ketemu sama saya lagi,” tulis Nina dalam komentarnya.
Menurut informasi yang beredar, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa kasus ini telah diselesaikan secara damai. Namun, Nina menolak klaim tersebut dan menilai bahwa penyelesaian yang disampaikan hanya dilakukan sepihak oleh pihak rumah sakit tanpa adanya klarifikasi langsung dari pihaknya.
“Tapi itu mah dibuat sama pihak mereka sendiri, blum ada klarifikasi ke saya,” ujarnya.
Nina juga menyebutkan bahwa hingga saat ini, tidak ada perawat yang datang untuk meminta maaf kepadanya. Hal ini membuatnya semakin frustrasi dan memutuskan untuk melibatkan pengacara dalam menangani kasus ini.
Dua pengacara, Mira dan Khrisna Murti, kini mendampingi Nina dalam proses hukum yang sedang berlangsung. “Alhamdulillah, untuk kasus selanjutnya kita pakai pengacara, mudah-mudahan ibu Mira dan pak Krisna bisa membantu saya, doain teman-teman semoga lancar iya,” tulis Nina dalam unggahannya.
Peristiwa Awal yang Menghebohkan
Insiden ini terjadi pada Rabu, 8 April 2026, saat Nina hendak menjemput bayinya yang dirawat karena sakit kuning. Saat itu, ia menemukan bahwa bayinya tidak berada di tempat yang seharusnya. Kejadian ini kemudian diungkapkan oleh Nina melalui media sosial, yang memicu perhatian luas dari masyarakat dan pihak berwenang.
Peristiwa ini juga menimbulkan polemik setelah adanya pernyataan dari Kementerian Kesehatan. Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, menjelaskan bahwa kejadian ini diduga bermula dari penitipan bayi oleh pasien kepada tenaga kesehatan. Menurutnya, hal ini terjadi karena tugas tenaga kesehatan yang tidak hanya menangani bayi secara khusus, tetapi juga menghadapi situasi penitipan yang tidak terencana.
“Tenaga kesehatan di situ kan memang tugasnya tidak hanya menangani bayi secara khusus, dia di poli anak dan memang akhirnya pekerjaannya pun jadi agak terganggu dengan ada penitipan tersebut,” katanya.
Aji juga menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan atau niat jahat dalam insiden ini. Menurutnya, kejadian ini murni hasil dari kekhilafan.
Namun, Nina menilai penjelasan dari Kemenkes tidak sesuai dengan pengalamannya. Ia merasa bahwa pihak terkait justru memutarbalikkan fakta. “Ini mah malah memutarbalikkan,” tulis Nina dalam unggahannya.
Ia juga meminta dukungan publik agar kasus ini terus dipantau dan diusut hingga tuntas. “Bantu up teman-teman, biar sampai lagi ini ke Pak Dedi biar di usut sampai benar-benar tuntas ini, RSHS dan Dinkes (Menkes) enggak bener ini ya Allah,” katanya.
Langkah Selanjutnya
Nina kini bersiap untuk melanjutkan proses hukum terkait kasus ini. Ia berharap bahwa pihak rumah sakit dan perawat yang terlibat dapat bertanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi. Selain itu, ia juga berharap agar semua fakta yang tersembunyi dapat terungkap dan diungkapkan secara transparan.
Proses hukum ini akan melibatkan pengacara yang akan membantu Nina dalam menyampaikan permasalahan serta menuntut keadilan. Semua pihak yang terlibat diharapkan dapat memberikan penjelasan yang jelas dan memenuhi tanggung jawabnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











