Riyadh — Para pemimpin dari negara-negara Arab dan Turki melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka membahas isu-isu penting yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah. Pertemuan ini berlangsung setelah sejumlah peristiwa penting yang melibatkan perang antara Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan beberapa fakta terkini dan realitas geopolitik yang akan berubah drastis dalam waktu dekat akibat konflik yang sedang berlangsung.
Perang akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan
Pertemuan ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi sebagai tuan rumah, Menteri Luar Negeri Qatar, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA). Dari pembicaraan yang berlangsung selama Jumat hingga Sabtu (20/3/2026), para pemimpin Arab menyatakan bahwa perang antara Zionis-Israel dan AS dengan Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awalnya.
Fidan menjelaskan bahwa negara-negara Teluk memperkirakan perang ini akan berlangsung selama dua hingga tiga pekan lagi. Namun, sulit untuk memprediksi apakah pihak-pihak terlibat akan bersedia masuk ke meja perundingan untuk mencapai gencatan senjata.
Israel memengaruhi AS agar tidak berdamai
Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara aktif memengaruhi Presiden AS Donald Trump agar tidak menghentikan serangan terhadap wilayah Iran. Hal ini membuat segala upaya untuk membawa pihak Israel dan AS, serta Iran ke meja perundingan menjadi sia-sia.
Fidan menegaskan bahwa Israel akan terus berusaha mencegah terjadinya gencatan senjata. “Negosiasi selama perang ini akan sangat tidak mungkin,” ujar Fidan.
Kesenjangan antara Israel dan AS semakin jelas
Para pemimpin Arab juga menyatakan bahwa adanya tekanan dari Netanyahu terhadap Trump menunjukkan adanya kesenjangan antara posisi AS dan Israel. Fidan mengatakan bahwa saat ini, posisi AS dan Israel semakin menjauh.
Netanyahu ingin Israel tetap mempertahankan perang hingga Iran mengalami kerusakan total. “Israel mengadopsi kebijakan untuk mendesak AS memperpanjang periode perang sampai kerusakan pada Iran semakin besar,” kata Fidan.
Negara-negara Arab tidak terlibat dalam konflik
Fidan juga menyampaikan bahwa para pemimpin negara-negara Arab telah menyatakan tidak terlibat dalam membantu Zionis atau AS dalam memerangi Iran. Mereka juga memastikan bahwa wilayah udara mereka tidak boleh digunakan sebagai basis penyerangan terhadap Iran.
“Sejak awal, mereka tidak mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan militer mereka digunakan untuk menyerang Iran,” ujar Fidan. Mereka juga mengecam tindakan balasan Iran yang menargetkan wilayah-wilayah negara Teluk Arab, termasuk aset dan pusat ekonomi yang tidak ada kaitannya dengan AS maupun Israel.
Ultimatum Arab terhadap Iran
Para pemimpin Arab menunjukkan reaksi keras atas tindakan Iran yang dianggap sepihak. Fidan menjelaskan bahwa toleransi mereka memiliki batas maksimal dan jika situasi tidak berubah, mereka akan mengambil tindakan terhadap Iran.
Namun, Fidan juga menegaskan bahwa pandangan Turki tetap jelas: agresi Zionis-AS terhadap Iran tidak dapat diterima dan ilegal. Sementara itu, serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangga di Teluk juga tidak dapat dibenarkan.
Perubahan geopolitik dan harapan Arab terhadap Iran
Meskipun gencatan senjata saat ini masih sulit dicapai, para pemimpin Arab memahami bahwa akan terjadi perubahan dalam geopolitik kawasan. Fidan menjelaskan bahwa Iran mulai dianggap sebagai kiblat baru untuk kerja sama pertahanan dan keamanan.
“Negara-negara Arab mungkin akan mulai mencari opsi baru dalam bidang pertahanan dengan Iran,” kata Fidan. Ia juga menambahkan bahwa setelah perang berakhir, Iran mungkin akan menjadi bagian dari perlindungan keamanan bersama negara-negara Teluk.











