Pengalaman Traumatis Seorang Pelajar Saat Dikejar Gangster di Surabaya
Seorang pelajar laki-laki yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP berinisial AEP (15) mengungkapkan pengalamannya saat dikejar-kejar oleh gerombolan gangster di Jalan Kupang Krajan I, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Kejadian tersebut terjadi pada Kamis (12/3/2026), dan videonya yang dibuat secara amatir viral di media sosial.
AEP mengaku merasa kaget dan takut ketika melihat gerombolan gangster tersebut menenteng senjata celurit panjang. Ia bersama 11 temannya sedang berjalan-jalan di permukiman Kupang Krajan untuk mempersiapkan konvoi membangun warga sahur. Saat melintas di kawasan Jalan Pasar Kembang, tiba-tiba dari arah belakang muncul gerombolan gangster remaja yang berkonvoi menggunakan motor.
Awalnya, AEP mengira mereka hanya gerombolan remaja biasa. Namun, kekhawatiran itu berubah ketika ia melihat para anggota gangster tersebut menenteng dan menyeret celurit panjang di aspal jalan. Sontak, AEP dan teman-temannya berlarian kabur menuju gang permukiman warga setempat, yakni Jalan Kupang Krajan I.
“Dari flyover turun, dengar suara ‘sleret’ dari celurit yang diseret di aspal,” ujarnya saat ditemui.
Selama bersembunyi di dalam gang, para anggota gangster mencoba melakukan aksi provokasi dan penyerangan. Mereka melemparkan bebatuan, menyulut petasan tembak, lalu menembakkannya ke arah dalam gang. Situasi ini membuat beberapa orang warga yang sedang beristirahat terbangun dan keluar untuk melihat-lihat.
Beberapa warga yang melihat bahwa permukimannya sedang diserang oleh gerombolan perusuh gangster mulai mendorong AEP cs serta para remaja lain untuk melakukan perlawanan. AEP cs bersama para remaja lainnya berusaha menggeretak para gerombolan gangster tersebut agar terpukul mundur keluar dari gang dan pergi.
Namun, upayanya tidak mudah. Beberapa kali gerombolan gangster tersebut berusaha melakukan perlawanan dengan menembakkan petasan. “Mereka menyerang, ternyata enggak pergi-pergi. Arek-arek disuruh masuk, akhirnya mereka pergi. Durasi penyerangan paling lima menitan. Saat mereka nyalakan mercon, warga keluar,” jelasnya.
Menurut AEP, gerombolan gangster tersebut beranggotakan sekitar 15-an orang, bahkan diperkirakan lebih dari itu. Namun, tidak ada korban jiwa atau luka dalam insiden tersebut. Hanya saja, beberapa ornamen pintu gerbang gang permukiman tersebut rusak. Bahkan, tulisan papan nama jalan patah menjadi dua bagian, usai ditebas para gerombolan gangster tersebut.
“Jumlah mereka gangster masuk sini banyak. Belum yang ada di luar. Ya sekitar itu (10-an orang). Kayaknya gangster. Video bawa celurit ya benar itu. Kalau dilihat, satu orang bawa satu celurit,” katanya.
Akibat peristiwa tersebut, AEP merasa trauma dan tak lagi berkeliling ke jalan raya pada malam hari. Bahkan, ia juga sudah mengajak temannya untuk tidak lagi melanjutkan kebiasaannya tersebut. Jikalau memang masih ingin bermain bersama teman-temannya, AEP memilih tempat di dalam gang permukiman yang berdekatan dengan rumah.
“Lhuk mlayu kabeh pak (Lari semua pak). ‘Ngene-ngene’ (mengayunkan celurit). Ya kapok keluar malam. Wes tak omongi arek-arek jangan main di jalan, di dalam gang,” pungkasnya.
Reaksi Polisi
Sementara itu, Kapolsek Sawahan, Kompol Muljono mengatakan, tidak ada korban luka dan jiwa dalam insiden tersebut. Bahkan, pihaknya sudah mengerahkan personel untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan warga di permukiman tersebut. “Masih dalam penyelidikan. Kami masih tahapan periksa saksi wadga dan anak-anak sekitar,” ujarnya saat dihubungi.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











