Nasib Guru Honorer di Jakarta yang Mengajar dengan Gaji Rendah
Guru honorer di Jakarta kembali menjadi perhatian setelah muncul kisah seorang guru berinisial MA (43) yang mengajar di sebuah sekolah dasar (SD) swasta di Jakarta Barat. Ia hanya menerima gaji sebesar Rp 700 ribu per bulan, meskipun telah bekerja selama 12 tahun sebagai tenaga pendidik.
Gaji tersebut jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta yang saat ini mencapai Rp 5,73 juta. Hal ini membuat kondisi kehidupan MA sangat sulit, terutama karena ia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hanya dari penghasilan tersebut.
Penjelasan dari Staf Khusus Gubernur Jakarta
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Sosial dan Juru Bicara Gubernur, Chico Hakim, menjelaskan bahwa masalah gaji guru honorer memang kompleks. Ia menegaskan bahwa dalam banyak kasus, guru honorer tidak hanya bergantung pada gaji pokok, tetapi juga menerima tunjangan tambahan seperti sertifikasi atau insentif lainnya.
“Kalau kita telusuri lagi, memang gajinya sebagai guru honorer segitu, tapi biasanya ada sertifikasi atau tunjangan lain yang bisa menambah pemasukan sebagai guru,” kata Chico dalam podcast Ruang Jakarta.
Namun, ia mengakui bahwa gaji Rp 700 ribu per bulan memang sangat kecil jika menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Oleh karena itu, ia menduga sebagian guru honorer memiliki sumber pemasukan lain, baik melalui tunjangan profesi maupun pekerjaan tambahan di luar sekolah.
Kewenangan Pemerintah Pusat dan Sekolah Swasta
Chico menekankan bahwa kebijakan gaji guru honorer secara umum masih berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Selain itu, kasus gaji rendah sering kali terjadi di sekolah swasta yang sistem penggajiannya sangat bergantung pada kondisi keuangan sekolah.
“Kalau bicara gaji guru honorer, itu masih kebijakan pusat. Dan ini juga konteksnya sekolah swasta,” ujarnya.
Menurut Chico, kondisi guru honorer tentu menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik. Ia juga mengingatkan bahwa Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memiliki latar belakang sebagai anak seorang guru.
“Pak Pramono sebagai anak guru tentu bukan orang yang lupa bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru,” katanya.
Masalah Keuangan Sekolah dan Penghasilan Tambahan
MA mengungkapkan bahwa gaji yang diterimanya sangat bergantung pada pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari orang tua murid. Sekolah tempat ia mengajar mayoritas dihuni oleh siswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, sehingga tidak semua orang tua mampu membayar SPP secara rutin setiap bulan.
Akibatnya, jumlah gaji yang diterima para guru sangat bergantung pada total SPP yang berhasil dikumpulkan pihak sekolah. Selain itu, sekolah juga menerima bantuan dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang sebagian dialokasikan untuk pembayaran honor guru. Namun dana tersebut biasanya baru dicairkan setiap tiga bulan sekali, sehingga gaji guru kerap mengalami keterlambatan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, MA bahkan harus mencari penghasilan tambahan di luar jam mengajar. Ia sempat bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk mengantar paket sepulang sekolah sebelum akhirnya menjual sepeda motornya karena kebutuhan ekonomi.
Kini, ia mengandalkan usaha kecil berjualan nasi goreng pada malam hari di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”









