Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Tidak Hanya Ketua BEM UGM, 30 Pengurus dan Ibunda Tiyo Ardianto Juga Diteror Usai Kritik MBG

Teror yang Menyentuh Keluarga dan Pengurus BEM UGM

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengalami sejumlah teror yang mengganggu aktivitasnya. Tekanan tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga keluarganya, termasuk ibunya. Pada suatu malam, ponsel ibunda Tiyo berbunyi dan menerima pesan yang menyatakan bahwa anaknya menilap uang sebagai Ketua BEM UGM.

Gelombang intimidasi ini semakin meluas hingga menyeret sekitar 30 pengurus organisasi tersebut. Teror yang mereka alami disebut masih satu rangkaian dengan ancaman penculikan, pesan singkat misterius, hingga aksi penguntitan yang lebih dulu dialami Tiyo. Serangan itu menunjukkan bahwa intimidasi telah menyentuh ranah pribadi dan keluarga.

Sejak kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuat, Tiyo, keluarganya, dan jajaran pengurus BEM UGM menghadapi teror yang melampaui sekadar serangan di media sosial. Dalam diskusi media yang digelar Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) bertajuk “Teror terhadap Mahasiswa Pengkritik MBG adalah Serangan Nyata terhadap Kebebasan Akademik!”, Selasa (17/2/2026), Tiyo membeberkan rangkaian intimidasi tersebut. Ia menegaskan bahwa ancaman yang datang bukan hanya upaya membungkam kritik, tetapi juga serangan terhadap kebebasan akademik.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran luas tentang keamanan mahasiswa yang menyuarakan pendapat di ruang publik.

Teror Bermula dari Kritik Pedas BEM UGM pada Prabowo-Gibran hingga Alokasi Anggaran MBG

Menurut Tiyo, teror bermula pada 9 Februari 2026, tak lama setelah BEM UGM melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Termasuk penggunaan diksi “Presiden Bodoh” serta sorotan terhadap alokasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). “Rasanya kritik-kritik inilah yang kemudian mengantarkan kepada kami, mulai tanggal 9 Februari, ada teror yang beruntun dari nomor-nomor yang tidak dikenal dengan kontak Inggris Raya. Jadi bukan +62 tapi +44. Nadanya sejak awal adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing. Mereka juga mengancam penculikan,” ujar Tiyo.

Serangan awal, kata dia, berbentuk pembunuhan karakter melalui rekayasa digital dan penyebaran hoaks secara masif di media sosial. Ia difitnah dengan tuduhan asusila hingga korupsi dana kemahasiswaan. “Bahkan mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Awas LGBT di UGM’ dengan foto saya,” tutur Tiyo.

Tiyo juga menyebut fotonya direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). “Bahkan ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate by Artificial Intelligence dengan tulisan bahwa Tio ini adalah langganan, Tiyo ini suka menyewa LC karaoke. Lalu kita ini—kalau boleh jujur sebagai anak muda—tidak punya kecakapan untuk berkomunikasi secara asmara romantis kepada perempuan karena memang lahirnya di desa dan terbiasa pada keluguan-keluguan begitu, apalagi LC,” ucapnya.

Eskalasi Teror Makin Menjadi, Ada Rencana Operasi Pembunuhan

Eskalasi teror, menurut Tiyo, tidak berhenti di dunia digital. Ia mengaku mendapat informasi tentang rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya. “Selanjutnya ada juga teror dalam bentuk yang saya kira lebih canggih daripada nomor tidak dikenal, yaitu ada platform gerakan yang dihubungi oleh akun tidak dikenal yang mengaku sebagai dosen Unpad. Dia menghubungi suatu platform pergerakan yang terhubung dengan saya. Orang yang mengaku dosen Unpad ini menceritakan bahwa dia mendapatkan bocoran dari satu lembaga negara—saya sebutkan di sini Badan Intelijen Negara (BIN). Nah, orang yang mengaku dosen Unpad ini menyampaikan bahwa BIN sudah menyiapkan operasi pembunuhan untuk Ketua BEM UGM,” paparnya.

Intimidasi ke Ibu di desa

Bagian paling berat, kata Tiyo, adalah ketika ibunya menjadi sasaran. Ia menggambarkan ibunya sebagai perempuan desa yang tak terbiasa dengan dinamika politik nasional. “Nah, selanjutnya yang terjadi pada ibu saya. Sebagai informasi, ibu saya ini bukan orang yang seperti saya,” kata Tiyo. “Jadi ibu saya adalah perempuan sederhana dari desa, yang sekolahnya saja bahkan tidak sampai pendidikan tinggi. Dalam kondisi kerentanan itu, ada pesan yang masuk ke ibu saya.”

Isi pesan tersebut, lanjutnya, sangat menyudutkan. “Pesannya yang pertama adalah bahwa: ‘Anakmu Tiyo Ardianto itu sebagai Ketua BEM, dia nilap uang.’ Itu yang tadi. Yang kedua adalah bahwa ada berita: ‘Orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya nilap uang.’ Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya. Dan ibu saya secara verbal, tanpa saya tanya, mengatakan bahwa ibu cukup takut. Ibu takut,” lanjutnya.

Puluhan Pengurus BEM Ikut Diteror

Tak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima teror serupa. “Keesokan malamnya, itu kira-kira tanggal 15, sekitar 20-30 pengurus BEM, kami masih lakukan pendataan tentang berapa banyak yang menjadi korban dari teror ini, tapi sekitar 20-30, itu menerima teror juga dari nomor tidak dikenal. Yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu: bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang,” tambahnya.

Tak Kapok Tiyo Kritik lagi Program MBG

Dalam forum tersebut, Tiyo menegaskan kembali kritik BEM UGM terhadap program MBG. “Ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim, justru direduksi solusinya pada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Dan justru malah menjadi lahan korupsi yang luar biasa basah, sehingga lebih layak kita sebut sebagai ‘maling berkedok gizi’,” kritiknya.

Ia juga menyoroti kontras anggaran. “Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,” ujarnya.

Terkait polemik diksi “Presiden Bodoh”, ia pun angkat bicara. “Tentu kalau kita bicara presiden, ini bukan bicara soal personal, tapi bicara infrastruktur kekuasaan. Sehingga ketika kami menyebut bahwa ‘presiden bodoh’, kita tentu tidak bicara tentang kualitas IQ seorang yang bernama Prabowo Subianto, atau fungsi kognitif seorang Prabowo Subianto yang umumnya sudah sangat tua. Tidak. Kita fokus pada ada infrastruktur kekuasaan yang inkompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan. Itu yang ingin kami sampaikan melalui diksi ‘presiden bodoh’,” jelasnya.

Tiyo juga menyinggung respons pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai. “Mohon maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya ini enggak perlu tahu siapa yang melakukan teror. Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana. Negara tidak boleh hadir sebagai teror itu sendiri. Tidak boleh sebagai orang yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan teror. Kan yang terjadi justru semacam paranoia dari rezim, bahwa seolah-olah kita itu menduga mereka yang melakukannya,” tegasnya.

Ia menutup dengan sikap tegas. “Saya fokus bahwa sampai hari ini negara, melalui seluruh lembaganya, tidak hadir di dalam teror yang dialami oleh tidak hanya saya, tetapi juga orang tua dan lebih dari 20 pengurus BEM UGM. Rangkaian teror yang kami terima ini bagi kami adalah bentuk dari kepengecutan rezim hari ini.”

Meski demikian, ia memastikan langkah mereka tidak akan surut. “Pada prinsipnya, saya menyampaikan ke publik bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal. Sehingga ke depan, tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian ada solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih, itu adalah cara kami belajar. Tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti,” pungkasnya.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *