Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Umar Menghilang Usai Tagih Utang 2 Juta, Kini Ditemukan Tewas dalam Karung

Kronologi Kematian Umar Gayam

Umar Gayam, seorang warga Panti Asuhan Jalan Lobak, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, menghilang pada hari Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIT. Ia berpamitan kepada keluarganya dengan alasan ingin menagih utang sebesar Rp 2 juta kepada seorang temannya di sebuah rumah kos. Namun setelah keluar rumah, Umar tidak pernah kembali.

“Dia keluar jam 11 malam. Katanya mau ambil uang yang dipinjam orang. Janji ketemu jam 12 malam, tapi setelah itu dia tidak pernah pulang,” ujar Maulud Yapono, paman korban.

Keberadaan Umar tidak diketahui selama sembilan hari. Keluarga sempat melakukan pencarian secara mandiri, namun tidak berhasil menemukan jejaknya. Tujuh hari kemudian, keluarga mendapat informasi bahwa pihak keluarga terduga pelaku juga melaporkan kehilangan seseorang pada hari dan waktu yang sama.

Untuk mencari kejelasan, keluarga korban kemudian mendatangi Polres Sorong. Dalam proses penyelidikan, polisi memeriksa seorang perempuan yang diduga mengetahui keberadaan Umar. Namun karena keterangannya dinilai berbelit-belit, penyidik langsung menelusuri lokasi yang dicurigai sebagai tempat kejadian perkara.

Beberapa hari kemudian, keluarga mendapat kabar tentang penemuan sebuah karung mencurigakan di wilayah Katapop. Setelah diperiksa, karung tersebut ternyata bukan berisi jasad Umar. Pencarian pun kembali dilanjutkan bersama aparat kepolisian.

Atas arahan anggota intelijen, fokus pencarian kemudian diarahkan ke Jalan Kontainer, Distrik Aimas. Di lokasi inilah jasad Umar akhirnya ditemukan, tepatnya di bagian belakang kawasan tersebut.

“Kami mencari bersama polisi. Jasad ditemukan di belakang Jalan Kontainer dan polisi yang pertama melihat,” kata Maulud.

Umar tercatat menghilang selama sekitar 10 hari sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Jasad korban kemudian dievakuasi untuk keperluan visum. Namun pihak keluarga menolak dilakukan autopsi karena kondisi tubuh korban dinilai sudah rusak parah.

Aksi Keluarga di Polres Sorong

Kasus ini sempat memicu aksi keluarga yang mendatangi Polres Sorong untuk menuntut agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Pihak keluarga menuntut polisi untuk mengungkap kasus ini dan menghukum pelaku dengan hukuman berat.

Mereka membawa jenazah ke kantor Polres Sorong di Aimas, Selasa malam. Keranda yang berisi jasad korban diletakkan tepat di depan pintu masuk ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sorong. Keluarga korban juga membakar ban bekas di jalan depan polres sebagai bentuk protes dan desakan agar aparat segera menangkap pelaku.

Mereka menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya, hingga hukuman mati. Aksi menuntut keadilan di Polres Sorong tersebut berlangsung Rabu (18/2/2026) dini hari hingga 01.00 WIT.

Maulud meminta kepolisian memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku. “Kami minta pelaku dihukum mati karena pembunuhan ini sudah keterlaluan dan terencana,” tegasnya.

Setelah aksi, rombongan keluarga membawa pulang jasad korban lalu bersepakat memakamkan jenazah pada malam itu juga.

Profil Korban

Korban Umar Gayam merupakan anak yatim dengan keterbatasan mental. Ayahnya telah meninggal dunia. Sejak itu ia diasuh oleh pamannya Maulud Yapono.

“Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja,” ujar Maulud dengan suara bergetar kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Korban dikenal sebagai pekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarga, meski memiliki keterbatasan komunikasi. “Dia membantu biaya sekolah adiknya. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang tanggung keluarga?” ucap Maulud.

Menurut Maulud, korban memiliki keterbatasan mental atau berkebutuhan khusus. Inilah yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan lancar. Untuk berbicara dengan jelas, Cecep harus melakukan gerakan tertentu dan hanya orang-orang terdekat yang memahami caranya berkomunikasi.

“Kalau dia mau bicara, dia harus buka muka dan gerakkan tangan dulu baru bisa cerita. Orang yang tidak mengerti dia pasti sulit paham,” tuturnya.

Meski memiliki keterbatasan, Cecep dikenal sebagai pekerja keras. Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan sempat membantu pekerjaan di salah satu rumah sakit di wilayah Mariat. Penghasilannya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan adiknya.

“Dia bukan orang kaya. Dia kerja bangunan, tapi dia tulang punggung keluarga. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang mau tanggung keluarga,” kata Maulud.

Maulud menilai kondisi korban yang memiliki keterbatasan membuatnya sulit melawan saat terjadi kekerasan. Ia juga menyesalkan dua terduga pelaku yang disebut masih berstatus pelajar di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sorong. Namun, menurutnya, usia muda tidak dapat dijadikan alasan untuk menghindari hukuman berat.

“Secara mental sudah tega menghabisi nyawa orang dengan cara sadis. Jangan bersembunyi di bawah payung perlindungan anak. Hukum harus berjalan lurus,” tegasnya.

Maulud menyatakan keluarga tidak membuka ruang kompromi dalam kasus tersebut. “Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke meja hijau. Tidak ada tawar-menawar. Pidana tetap pidana. Ini tentang nyawa, bukan binatang yang dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan tuntutan keluarga agar pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya. “Kami minta hukuman mati,” ucapnya.

Di tengah duka mendalam, keluarga juga harus menjalani bulan suci Ramadan tanpa kehadiran Cecep. “Saya akan bersedih bila suara tahmid dan takbir berkumandang, dan saya harus mengucapkan doa serta Al-Fatihah untuknya,” ujar Maulud sambil meneteskan air mata.

Penemuan Mayat di Jalan Kontainer

Warga Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya menemukan jasad terbungkus karung putih di Jalan Kontainer, Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIT. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, jenazah berjenis kelamin laki-laki itu dalam kondisi termutilasi.

Bagian tubuhnya terlebih dahulu dimasukkan ke tas belanja, selanjutnya dimasukkan ke dalam karung. Dari berbagai kabar yang beredar masif di media sosial, motif pembunuhan dilatarbelakangi utang piutang. Namun pihak berwenang masih menyelidiki kepastiannya.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *