Perjalanan Dr. Piprim Basarah Yanuarso yang Penuh Dedikasi dan Kehilangan Status
Dr. Piprim Basarah Yanuarso, seorang dokter anak yang telah mengabdikan dirinya selama 28 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), kini harus menerima keputusan untuk diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Kesehatan. Keputusan ini membuatnya merasa kehilangan tidak hanya status kepegawaiannya, tetapi juga kesempatan untuk terus berkontribusi pada masyarakat.
Sejak awal karier, RSCM bukan hanya menjadi tempat kerjanya, tetapi juga rumahnya. Ia menjelaskan bahwa ia ingin bekerja hingga pensiun di sana, bahkan sampai mati. Namun, situasi ini berubah setelah ia dipindahkan ke RSUP Fatmawati. Dari sanalah perjalanan pahit dimulai.
Tidak Hadir Selama 28 Hari
Dr. Piprim tidak pernah hadir di RSUP Fatmawati setelah dimutasi. Hal ini akhirnya memicu tindakan dari pihak rumah sakit, yang menilai bahwa ketidakhadirannya merupakan pelanggaran disiplin berat. Menurut aturan PP No 94 Tahun 2021, pemberhentian dengan hormat bisa dilakukan jika seorang PNS tidak masuk kerja tanpa alasan sah selama 28 hari dalam satu tahun.
Dr. Piprim mengungkapkan alasan ketidakhadirannya selama 28 hari tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa alasan itu bukanlah dasar utama pemecatan. Ia menilai bahwa mutasi ini bukan karena kebutuhan tenaga ahli jantung anak, melainkan karena tekanan terhadap independensi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Penolakan Solusi Fleksibel
Setelah surat mutasi dikeluarkan, Dr. Piprim mencoba menawarkan solusi fleksibel agar tetap bisa melayani pasien di RSCM sekaligus membantu layanan jantung anak di RSUP Fatmawati. Ia menyarankan penggunaan Surat Izin Praktik (SIP) tambahan agar bisa tetap aktif di kedua rumah sakit.
Namun, solusi ini ditolak oleh Kementerian Kesehatan. Menurut Dr. Piprim, penolakan ini menunjukkan bahwa pihak terkait lebih memilih menggunakan mutasi sebagai bentuk hukuman terhadap suara kritis IDAI. Ia menilai bahwa solusi win-win tidak diambil karena adanya niat untuk menekan organisasi medis tersebut.
Tanggapan dari Rekan Sejawat dan Mahasiswa
Meski menghadapi situasi sulit, Dr. Piprim mendapatkan dukungan dari rekan sejawat di RSCM maupun para mahasiswa. Mereka prihatin dan mendoakan keberhasilannya. Bagi Dr. Piprim, dukungan ini menjadi kekuatan untuk tetap tegar meskipun hatinya sedih.
Ia juga menekankan bahwa kasus pemecatannya adalah bagian dari isu yang lebih besar, yaitu menjaga integritas dan independensi profesi kedokteran. Menurutnya, ada hal-hal yang lebih penting daripada kasus pemecatan ini, yaitu perlindungan hak pasien dan kebebasan berpendapat dalam dunia kesehatan.
Pesan Akhir
Di akhir klarifikasinya, Dr. Piprim menyampaikan pesan kepada masyarakat. Ia berharap anak-anak Indonesia tetap sehat dan sejahtera. Meskipun apa pun yang terjadi, ia percaya bahwa musuh bersama semua orang adalah mortalitas dan morbiditas anak-anak Indonesia.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











