Harapan yang Tidak Terpenuhi
Setiap anak lahir dengan harapan yang sama. Mereungharapkan untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. Di ruang-ruang sunyi rumah sederhana, anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Indonesia menyimpan cita-cita yang jujur. Mereka ingin sekolah, ingin membaca, ingin menjadi seseorang. Mereka bermimpi besar dan polos.
Harapan mereka bukanlah impian tunggal. Negara wajib hadir untuk membersamai. Karena di sanalah martabat sebuah bangsa dititipkan. Kemampuan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang merasa hidupnya terlalu kecil untuk diperjuangkan sesuai mandat Sustainable Development Goals (SDGs).
Sayangnya, di negara kaya ini, harapan itu tidak disambut oleh sistem yang adil dan lingkungan yang aman. Anak-anak kerap memikul beban yang seharusnya tidak pernah mereka tanggung sendiri. Di banyak tempat, luka ini tidak selalu tampak di permukaan. Ia hadir dalam bentuk kecemasan, rasa malu, dan keputusasaan yang tumbuh dalam diam.
Padahal dunia internasional telah lama mengingatkan kita, bahwa kesehatan mental anak dan anak muda berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Data Statistik terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) September 2025 mencatat fakta yang mengguncang nurani: 10 sampai 20 persen anak dan anak muda di dunia pernah mengalami gangguan kesehatan mental, dan setengah dari gangguan itu mulai muncul sejak usia 14 tahun. Lebih menyayat lagi, bunuh diri kini menjadi penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia anak muda secara global.
Angka-angka ini sering kita baca hanya dengan kepala, dan jarang kita izinkan masuk menyentuh hati. Sampai suatu hari, statistik itu menjelma menjadi nama, usia, wajah, tempat, dan tragedi. Kemudian kita merasa pilu dan turut berduka secara nasional.
Kematian Cita-cita Bangsa
Seorang anak kecil di NTT berusia 10 tahun memilih mengakhiri hidupnya. Ia rela mati karena orang tuanya tidak mampu menyediakan uang sepuluh ribu rupiah hanya untuk membeli buku dan pulpen. Sepuluh ribu jumlah yang teramat sangat sedikit bagi para elit bangsa ini untuk sekedar menyeruput kopi. Tetapi bagi anak ini, sepuluh ribu adalah harapan. Dan ketika harapan itu runtuh, ia merasa hidupnya jatuh dan lebih baik mati karena rasa malu.
Kasus ini bukan sekadar tragedi dalam keluarga kecil mereka. Ini adalah peringatan paling keras bagi cita-cita bangsa. Maka tak ada satu pun dari ekosistem bangsa yang bisa cuci tangan. Sebab melindungi anak bukan soal belas kasihan, bukan karena ia anak kita atau anak orang lain. Melindungi anak adalah kewajiban konstitusional dan moral seluruh warga negara. Karena setiap anak memiliki hak yang sama untuk hidup, tumbuh, dilindungi, dan diberi ruang.
Ketika satu hak anak terabaikan, sesungguhnya kita semua gagal untuk menjaga cita-cita bangsa yang merdeka. Maka bila hukum moral masih hidup di dada kita, seharusnya kita semua merasa dipenjara minimal oleh rasa bersalah dengan keheningan yang menyesakkan.
Di sinilah kebijakan sering kehilangan wajah manusianya. Kita sibuk dengan program dan prioritas politik, tetapi lupa pada kebutuhan anak yang nyata. Kita mengukur keberhasilan dengan laporan, tetapi abai pada air mata ibu yang kehilangan anaknya. Anak ini bukan korban kebodohan. Ia korban sistem yang tidak peka, ekosistem yang gagal menghadirkan rasa aman, dan budaya yang masih menganggap kesehatan mental anak sebagai urusan sepele.
Ia Bukan Pahlawan, Ia adalah Cermin
Menyebut anak ini sebagai pahlawan terasa pahit, namun ada kebenaran di sana. Bukan karena ia ingin mati, tetapi karena kepergiannya membuka luka yang selama ini kita tutupi rapat-rapat. Ia menunjukkan kepada kita kepincangan yang teramat tragis: bahwa di negeri ini, masih ada anak yang merasa hidupnya tidak cukup berharga untuk diperjuangkan oleh sistem.
Ia menghilangkan lukanya dengan duka. Lalu meninggalkan seorang ibu yang harus hidup dengan tangis yang tak pernah selesai. Sementara kita, bangsa yang besar ini, ikut terpukul, lalu perlahan segera mulai melupakan. Padahal, melupakan adalah pengkhianatan kedua, setelah negara abai melalui sistem, dan program yang tak menyentuh akar soalnya.
Sampai di sini, anak sejatinya bukan sekadar objek belajar, tetapi manusia utuh dengan emosi, martabat, dan kebutuhan untuk merasa bermakna. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi ruang aman (safe space) bagi jiwa dan raga. Guru bukan hanya pendidik, tetapi penjaga impian masa depan. Dan negara bukan hanya pengatur anggaran, tetapi pelindung kehidupan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Maka itu, pendidikan sejati adalah kemampuan untuk menghadapi situasi hidup. Karena, “tujuan besar pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan,” demikian kata Herbert Spencer, Sosiolog dan Filsuf Inggris. Karenanya, yang dibutuhkan anak bukanlah kebijakan besar. Tetapi satu hati yang berkata dengan tindakan yang sadar; bahwa kamu tidak sendirian.
Kepergianmu jelas adalah luka bangsa. Duka, yang semoga mengubah wajah indah Indonesia selanjutnya. Kami sangat terpukul. Selamat belajar di alam sana, Nak!
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











