Keluarga Lexi Valleno Havlenda Akhirnya Mengungkap Tragedi yang Terjadi Dua Tahun Lalu
Setelah hampir dua tahun diam, keluarga Lexi Valleno Havlenda akhirnya memutuskan untuk memviralkan kasus yang menimpa putranya. Keputusan ini diambil setelah upaya kekeluargaan tidak memberikan hasil yang diharapkan. Lexi, adik dari penyanyi Keisya Levronka, mengalami cedera parah saat sedang menjalani latihan caving atau susur gua di kampus.
Kronologi Kecelakaan yang Menimpa Lexi
Insiden tersebut terjadi pada April 2023 ketika Lexi sedang mengikuti latihan caving yang diselenggarakan oleh organisasi Mahasiswa Hukum Pecinta Alam (Mapala) di area kampus. Saat itu, sistem pengaman yang digunakan oleh Lexi tiba-tiba gagal berfungsi, menyebabkan dirinya terjatuh dari lantai enam gedung kampus.
Levi Leonita Davies, ibu Lexi, menceritakan bahwa penanganan awal pascakejadian tidak sesuai dengan standar medis darurat. Anaknya dibopong dan didudukkan di kursi roda, kemudian didorong ke kendaraan taksi online dan ditidurkan lagi di dalam mobil. Levi mempertanyakan keputusan tidak memanggil ambulans meskipun waktu tunggu dinilai tidak jauh berbeda.
Cedera Berat yang Dialami Lexi
Dampak dari kejadian tersebut masih dirasakan hingga kini. Lexi mengalami cedera serius pada tulang ekor, ginjal, paru-paru, dan hati. Ia harus menjalani perawatan panjang, termasuk menggunakan kateter, kursi roda, dan kasur khusus.
- Selama satu tahun, Lexi harus memakai kateter ke mana-mana.
- Selama satu tahun pula aktivitas Lexi harus menggunakan kursi roda, bertahap pakai tongkat.
- Sampai sekarang, Lexi harus menggunakan kasur dekubitus untuk kenyamanan tulang ekornya.
Upaya Penyelesaian Secara Kekeluargaan
Selama hampir dua tahun, keluarga memilih diam. Bukan karena lupa, melainkan karena berharap penyelesaian bisa ditempuh tanpa sorotan publik. Namun, ketika komunikasi tak kunjung menemui titik terang, kisah jatuhnya Lexi kembali mencuat ke permukaan.
Lewat media sosial, Levi menyampaikan kekecewaan mendalam atas proses panjang yang menurutnya berjalan tanpa kepastian. Setelah dua tahun menunggu, keluarga merasa tak lagi punya ruang dialog yang efektif selain melalui publik.
“Sepertinya memang harus melalui sosial media ya untuk berkomunikasi dengan kalian,” kata Levi.
Ia menegaskan langkah memviralkan kasus ini bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Upaya kekeluargaan telah ditempuh dalam waktu lama, namun tak membuahkan hasil.
Pertemuan dengan Pihak Kampus
Di tengah perjuangan tersebut, Keisya Levronka turut memberi dukungan langsung. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Keisya bersama kekasihnya, Nyoman Paul, terlihat mendampingi sang ibu dalam pertemuan dengan pihak Universitas Tarumanagara (Untar). Kehadiran mereka terekam dalam unggahan Levi yang memperlihatkan suasana ruang tunggu kantor kampus.
“Team support ini ikut pertemuan hari ini,” tulis Levi sebagai keterangan.
Setelah permasalahan ini ramai diperbincangkan, pihak keluarga akhirnya bertemu langsung dengan perwakilan kampus. Levi menyampaikan pertemuan tersebut berlangsung dengan respons yang dinilainya cukup baik. Namun, keluarga menegaskan belum dapat menerima tawaran yang diajukan pihak kampus, baik dari sisi material maupun imaterial.
“Alhamdulillah pertemuan hari ini berjalan lancar. Sudah ada respon baik dan terima kasih itikad baiknya meski apa yang ditawarkan masih sangat jauh dari perhitungan material dan imaterial yang sudah dikeluarkan. Dan kami belum bisa menerima penawaran tersebut. Semoga pertemuan selanjutnya sudah ada titik temu. Terima kasih doa dan supportnya ya gaes,” tulisnya.
Mencari Keadilan dan Tanggung Jawab
Kini, bagi Levi dan keluarga, membuka kembali peristiwa ini bukan semata soal masa lalu, melainkan upaya mencari keadilan dan tanggung jawab atas luka yang masih dirasakan hingga hari ini.

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."









