Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Anak SD yang makan ubi dan pisang sehari-hari, reaksi ibu kaget saat tahu kehidupannya

Kehidupan yang Terlalu Berat untuk Seorang Anak

Seorang bocah SD berusia 11 tahun, YBR, ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh pada hari Kamis (29/1/2026). Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. YBR adalah siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat ditemukan, korban mengenakan baju olahraga berwarna merah. Warga setempat menemukan surat tertulis yang ditujukan kepada ibunya. Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan berisi pesan-pesan yang menyentuh hati.

Latar Belakang Keluarga YBR

YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak usia 1 tahun 7 bulan, ia tinggal bersama neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan belum pernah kembali. Selain bersekolah, YBR sering membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.

Makanan sehari-hari mereka terbatas, hanya pisang dan ubi yang menjadi menu utama. Menurut keterangan neneknya, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tidak pernah menunjukkan perilaku aneh, kecuali sedikit keluhan tentang buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

Kegelapan yang Menghancurkan

Pagi terakhir sebelum tragedi, YBR mengeluh pusing dan tidak ingin berangkat ke sekolah. Namun, sang ibu memaksanya untuk masuk karena khawatir ia tertinggal pelajaran. Pada siang harinya, kabar duka datang tanpa peringatan. Sang ibu kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.

Surat yang ditulis YBR untuk ibunya berisi pesan-pesan yang menyentuh. Dalam surat itu, YBR menulis:

*“Kertas Ti’i Mama Reti”

Mama galo Ze’e

Mama Molo, Galo Ja’o Mata, Mama Ma’e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja’o Mata, Ma’e Woe Rita Ne Gae Nga’o ee

MOLO MAMA”

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:
“Kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit).

Mama baik sudah, kalau saya mati, mama jangan sampai menangis ee mama.

Mama, kalau saya mati, mama jangan menangis dan cari saya ee.

Baik sudah mama (selamat tinggal mama).”

Penyelidikan Polisi

Polisi menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, namun proses penyelidikan masih berlangsung. Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.

Penyelidikan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.

Penilaian Pengamat Pendidikan

Tragedi ini bukan sekadar peristiwa kemanusiaan, melainkan juga alarm keras bagi sistem pendidikan nasional. Pengamat pendidikan NTT, Dr. Vincentius Mauk, M.Pd., menilai peristiwa ini harus menjadi momentum refleksi bersama.

Menurut dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Timor (Unimor), Kefamenanu, negara sejatinya telah memiliki fondasi kebijakan yang kuat, tetapi masih lemah dalam pelaksanaan di lapangan.

Vincentius menegaskan bahwa pendidikan gratis tidak boleh dimaknai sebatas pembebasan biaya SPP. Pendidikan gratis, menurutnya, harus benar-benar membebaskan anak dari seluruh beban ekonomi yang menghambat proses belajar.

Kritik terhadap KemenPPPA

Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI-Perjuangan, Ina Ammania, mengkritik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam kaitan dengan tewasnya anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ina menegaskan, insiden memilukan ini tidak akan terjadi bila negara memberikan perlindungan terhadap anak, termasuk hak pendidikannya.

Ia juga menyoroti peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang gagal memberikan perlindungan terhadap anak-anak rentan. Padahal, jika berkaca pada tahun lalu, kasus menghebohkan kekerasan terhadap anak juga terjadi di wilayah Ngada, yang menjerat Kapolres Ngada.

Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *