Masa Kini dan Ketakutan akan Ketertinggalan
Di era yang semakin cepat, banyak orang merasa bahwa ketinggalan tren lebih menakutkan daripada kehilangan makna hidup. Ketidaktahuan terhadap logika tren dan kebaruan zaman seringkali membuat seseorang merasa tertinggal dan bahkan terancam eksistensinya. Dari sinilah muncul rasa takut akan ketertinggalan (Fear of Missing Out / FOMO) yang bekerja secara diam-diam.
FOMO adalah suatu kondisi psikologis yang memengaruhi cara manusia memandang diri sendiri. Ini berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, rendahnya kepuasan hidup, serta ketergantungan pada pengakuan sosial. Keinginan untuk memiliki sesuatu yang konsumtif mendorong individu untuk mengejar hal-hal baru yang menjadi ciri dari kehidupan modern. Segala upaya dilakukan untuk mengikuti tren yang sedang populer, tanpa mempertanyakan apakah itu benar-benar dibutuhkan atau bermakna bagi kehidupan.
Media sosial sering kali menjadi tempat di mana gaya hidup orang lain ditampilkan dalam bentuk fragmen yang terlihat lebih modern, lebih berhasil, dan lebih bahagia. Di tengah ilusi ini, kita mulai mengukur hidup berdasarkan standar eksternal. Ketika tidak ikut tren tertentu, muncul rasa takut akan ketertinggalan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Pada titik ini, kita justru menjauh dari diri kita yang otentik dan menjadi manusia palsu.
Dalam kehidupan sehari-hari, gelagat FOMO tampak nyata. Banyak orang membeli barang yang sedang viral bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap ketinggalan zaman. Aktivitas yang dilakukan bukan hanya demi pemaknaan pengalaman pribadi, tetapi juga demi konten. Bahkan waktu istirahat pun terasa naif jika tidak produktif atau tidak bisa dibagikan.
Namun, ada pula individu-individu tertentu yang melihat FOMO sebagai sesuatu yang bermanfaat. Mereka menilai FOMO bukan sekadar rasa takut, tetapi dorongan untuk mencoba berkreasi dengan hal-hal baru. Bagi mereka, segala usaha untuk mengenal dan memasuki tren kehidupan modern adalah cara manusia hidup seturut tuntutan zaman yang cepat. Pandangan ini ingin mengubah pola pikir negatif menjadi sesuatu yang positif, tergantung dari lensa pandang mana yang diambil.
Di satu sisi, meletakkan FOMO pada kutub ekstrem (baik positif maupun negatif) cukup sulit karena nilai dari tren ini tak menentu dan dapat berubah secara cepat. Namun, FOMO selalu identik dengan gejolak seseorang untuk memuaskan diri dengan mengejar kebaruan. Kebaruan dipromosikan sebagai kebutuhan, bukan lagi pilihan. Hal ini sejalan dengan karakter manusia modern yang digambarkan oleh Zygmunt Bauman sebagai masyarakat cair. Dalam masyarakat cair, segala sesuatu bergerak cepat, nilai mudah berubah, dan manusia dipaksa terus menyesuaikan diri agar tidak tersisih.
Fear of Other People’s Opinions (FOPO)
Belakangan ini, kesadaran akan dampak negatif dari FOMO mulai tumbuh. Banyak orang mencoba mengurangi ketergantungan pada media sosial, menolak ikut tren tertentu, atau memilih hidup lebih sederhana. Namun, pada titik inilah muncul kecemasan baru yang juga problematis, yaitu Fear of Other People’s Opinions (FOPO). Jika FOMO adalah ketakutan akan ketertinggalan, FOPO adalah ketakutan akan penilaian dari orang lain.
FOPO membuat individu hidup dengan kehati-hatian yang berlebihan. Setiap pilihan baik dari cara berpakaian, pandangan hidup, hingga keputusan karier, dibungkus dengan satu pertanyaan ketakutan yaitu apa kata orang tentang saya. Psikolog Adam Grant menyebut FOPO sebagai kondisi ketika manusia menyerahkan kendali hidupnya kepada opini publik. Dalam situasi ini, kebebasan personal menyempit karena adanya kontrol sosial yang ketat. Kita boleh memilih, tetapi hanya sejauh pilihan itu aman secara sosial.
FOMO dan FOPO sesungguhnya saling berkaitan. FOMO mendorong manusia untuk terus mengikuti apa yang sedang ramai, sementara FOPO menahan manusia agar tidak keluar dari batas aman penerimaan sosial. Keduanya sama-sama menempatkan pusat penilaian diri di luar diri manusia. Akibatnya, identitas menjadi rapuh dan tidak stabil. Apabila seseorang hidup dalam kesederhanaan di tengah maraknya sebuah tren modern, maka ia akan dianggap kuno dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Momentum Kesadaran Diri
Di tengah situasi tersebut, kesadaran diri (self-awareness) menjadi kebutuhan mendesak. Kesadaran diri membantu manusia mengenali motif di balik tindakannya. Apakah ia bertindak karena nilai yang diyakini atau semata-mata karena takut tertinggal dan takut dihakimi. Tanpa refleksi semacam ini, manusia mudah terjebak dalam kehidupan yang ramai di luar, tetapi sunyi di dalam.
Menemukan nilai diri yang otentik memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua tren layak diikuti dan tidak semua opini publik perlu ditaati. Filsafat eksistensial menegaskan bahwa menjadi diri sendiri selalu melibatkan risiko, termasuk risiko tidak disukai atau tidak dipahami. Namun, justru dalam risiko itulah manusia menemukan makna hidupnya.
Mengenali jebakan kebaruan menjadi langkah penting untuk keluar dari lingkaran FOMO dan FOPO. Tidak semua yang viral membawa nilai, dan tidak semua yang populer mencerminkan kebenaran. Menyaring tren bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menjaga integritas diri di tengah tekanan sosial yang semakin kuat.
Pada akhirnya, setelah hiruk-pikuk FOMO mulai dipertanyakan, tantangan terbesar kita adalah melampaui FOPO. Bukan dengan menarik diri dari ruang publik, melainkan dengan hadir secara lebih jujur dan reflektif. Hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa sering kita diakui atau disukai, melainkan dari seberapa setia kita pada nilai yang kita hidupi.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











