Penanganan Kasus Pengeroyokan Guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur
Gubernur Jambi, Al Haris, telah mengambil langkah tegas terkait kasus pengeroyokan guru yang terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Keputusan ini diambil setelah munculnya viralnya insiden tersebut, yang diduga dipicu oleh penghinaan terhadap profesi ayah siswa dan masalah uang komite. Gubernur menegaskan bahwa guru yang dikenal dengan inisial AS tidak boleh lagi mengajar di sekolah tersebut untuk meredam konflik dan luka sosial yang sudah terlalu dalam.
Mutasi dan Pemeriksaan Kesehatan Mental
Guru SMK Negeri 3 Tanjabtim, Agus Saputra alias AS, telah dimutasi dari posisinya sebagai guru di sekolah tersebut. Selain itu, Gubernur Al Haris memerintahkan pemeriksaan kesehatan mental secara menyeluruh terhadap Agus. Keputusan ini diambil karena dinilai penting untuk mengevaluasi apakah ia masih layak sebagai pendidik atau tidak. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ketidaklayakan, maka status fungsionalnya sebagai guru akan diganti menjadi jabatan staf biasa.
“Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah,” tegas Al Haris.
Ucapan yang Memicu Emosi Siswa
Siswa SMK Negeri 3 Tanjabtim, Bunga (nama samaran), menjelaskan bahwa emosi siswa meledak hingga berujung pada tindakan fisik terhadap Agus Saputra. Hal ini disebabkan oleh ucapan sang guru yang dinilai merendahkan profesi dan harga diri orang tua mereka. Konflik sebenarnya sudah dimulai sehari sebelum insiden penamparan terhadap salah satu siswa, MLP.
Masalah awal bermula dari pintu kelas yang ditutup. AS merasa tersinggung dan menyuruh pintu dibuka kembali sambil memarahi para siswa dengan sebutan “kurang ajar”. Saat masuk ke kelas, AS dikabarkan langsung meluapkan emosinya dengan kata-kata yang dinilai sangat kasar oleh para siswa.
“Beliau ini marah-marah dengan kami semua, bilang kami kurang ajar cuma masalah pintu ditutup. Terus ujung-ujungnya dia bawa-bawa ayah kami,” ungkap Bunga.
Para siswa merasa terhina ketika profesi dan perjuangan ayah mereka dalam membayar uang komite sekolah justru dijadikan senjata oleh AS untuk merendahkan mereka. “Beliau bilang ‘kau tau dak, ayah kau tu kerja di sini di SMK digaji pakai uang komite (kamu tau tidak, ayah kamu bekerja di sini di SMK digaji pakai uang komite)’ dia ngomong itu keras,” katanya.
Kronologi Versi Siswa yang Ditampar
MLP, siswa yang menjadi korban penganiayaan, mengaku ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai. Situasi kelas yang bising membuat MLP spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam. Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.
Awal mulanya saya sedang belajar di dalam kelas, pelajaran hampir selesai, siswa dalam kelas ini agak sedikit ribut terus saya bilang “woi diam” saya tidak tahu beliau (Agus) ada di depan kelas, setelah itu beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi dengan guru yang di dalam langsung nanya siapa yang bilang woi, terus saya jawab “saya prince” saya spontan langsung ke depan saya ditampar.
Agus Saputra rupanya memiliki panggilan tersendiri di sekolah tersebut. Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan pak melainkan prince alias pangeran.
Desakan untuk Permintaan Maaf
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite. MLP mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. Saat MLP mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
Pengakuan Agus Saputra
Agus Saputra, guru Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, mengaku sempat melakukan kekerasan terhadap siswa hingga berujung dikeroyok. Dia menjelaskan bahwa hal itu dilakukannya karena refleks diteriaki siswa dengan kata yang tidak pantas.
“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya.
Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu. “Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.
Agus menegaskan bahwa tidak ada niat menganiaya siswa. Dia bilang tamparan yang dilakukan sebagai bentuk pembinaan spontan. “Saya tidak melawan, hanya membela diri. Bisa dilihat di video,” katanya.
Dalam salah satu potongan video, Agus pun terlihat membawa celurit. Menanggapi video tersebut, Agus menjelaskan celurit itu merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah, karena SMKN 3 Tanjab Timur merupakan SMK Pertanian.









