Perasaan yang Tersembunyi
Setiap menjelang akhir Januari, khususnya tanggal 28 dan 31 Januari, selalu membuat saya berdebar. Ruang hati yang selalu sibuk terasa mendadak hening, lalu sepasang mata sedih menatap anaknya yang baru sembuh dari covid-19 varian delta.
Meski sekian purnama berlalu, kenangan itu seperti mimpi buruk. Ya betapa tidak. Saya divonis kena covid pada 14 Januari 2020. Oleh satgas covid kami diminta isolasi mandiri untuk seluruh rumah. Artinya kami tidak boleh kemana-mana selama masa karantina 14 hari sampai pemeriksaan berikutnya oleh satgas apakah sudah aman atau belum (belum dinyatakan sembuh) karena masih masa inkubasi.
Kali ini bukan tentang covid yang hendak saya tuliskan secara spontan pagi ini. Saya ingin membagikan dua momen yang kemudian membuat saya berdebar di tahun-tahun berikutnya. Selama saya sakit dan isolasi di rumah bersama keluarga, saya hanya menyampaikan ke beberapa teman dekat dan rekan kerja. Saya tidak menyampaikan kepada mama saya di pesisir Selatan Kabupaten Ngada, tepatnya di Lekogoko, Aimere.
Kami sengaja menyembunyikan sakit ini dari mama agar ia tidak cemas berkepanjangan memikirkan anaknya. Mama hanya tinggal bersama cucu dan adik bungsu yang saat itu sedang KKN mandiri sana. Bapak kami sudah terlebih dahulu meninggalkan mama dan kami sejak 1 Juni 2007. Praktis untuk menemani mama, selalin cucu juga adik nomor dua yang selalu datang lihat dan hampir setiap hari saya selalu menyempatkan diri meneleponnya.
Seorang meski anaknya tidak mengabarkan apa yang sedang dirasakan, tetap saja tahu. Batin seorang ibu tak bisa ditipu kalau anaknya mengalami sesuatu. Apalagi sejak sakit itu saya lupa dengan rutinitas telepon. Tentu ini akan membuatnya bertanya-tanya. Beberapa kali saya abaikan panggilan telepon darinya. Hal ini semata-mata agar mama jangan sampai tahu apa yang sedang saya alami.
Momen yang Tak Terlupakan
Ketika dirasa sudah enakan, tanggal 28 Januari sore, saya menelepon mama untuk mengabarkan saya baik-baik saja. Selama terlalu sibuk ini dan itu. Rupanya seorang ibu tidak bisa dibohongi. Mama langsung bertanya, “Kamu sakit, Nak? Mama sudah tahu kamu sakit, karena setiap hari mama doa koronka (Doa Kerahiman Ilahi) mama lihat kamu tidur. Mama selalu mendoakan kalian, mendoakan keluarga kalian anak-anak semua. Sebagai kakak tertua kamu harus sembuh dan kuat untuk urus keluargamu, istri dan anak-anakmu, juga adik-adikmu lainnya. Jaga mereka dengan baik. Mama saja yang sakit ya.” (tentu mama bicaranya dalam bahasa daerah, campuran dialek bajawa dan nagekeo sebagaimana kami biasa pakai di rumah)
Saya mendengar dan menerima semua nasihat mama. Saya meminta maaf karena tidak mengabarkan kalau sakit. Semuanya aman tanpa firasat apapun.
Keesokan harinya atau setelahnya saya agak lupa, saya kembali menjalani pemeriksaan kembali ke puskesmas untuk kepastian final. Hidung kembali dikorek-korek dan kita harus menahan perih. Tapi demi protokel kesehatan yang dicanangkan satgas covid, maka semuanya harus dijalani entah suka atau tidak, siap atau tidak siap.
Kepergian yang Mendadak
Kemudian, memasuki ruang debar yang kedua. Tanggal 31 Januari saya menelepon mama, ya biasa sekadar say hello, tanya ini itu seputar rumah, tentang kebun, ternak atau teman-teman. Ya, semuanya biar ada bahan dan mama merasa anak-anaknya memperhatikannya. Sering kalau telepon kami bersama-sama (video call lewat grup supaya semua bisa kumpul dan saling menguatkan). Namun tanggal 31 Januari sore itu hanya saya sendiri yang telepon. Kemudian seperti biasa sebulan dua kali mengirimkan token listrik (selalu 20ribu karena itu saja sudah cukup).
Telepon kali ini mama hanya pesan singkat, “Jaga adik-adikmu. Lindungi keluargamu.” Itu saja. Tidak ada pesan lainnya. Keesokan harinya, 1 Februari malam pukul 11.30 (Wita) menjelang tanggal 2 Februari. Telepon dari adik di rumah juga adik di Surabaya masuk bersamaan. HP silent karena saya sudah mulai tidur dan benar-benar tidur amat nyenyak. Setengah jam kemudian, saya tersadar karena merasa nyeri di dada. Bangun mau minum, lalu cek HP dan melihat panggilan masuk lebih dari 20-an kali.
Adik di Surabaya telepon lagi dan saya angkat. “Kae (kakak), mama….” dan dia hanya menangis histeris. Semuanya terasa selesai. Saya sudah mengerti apa yang dimaksud. Saya bangun atur napas. Sebagai kakak sulung saya harus kuat, tidak boleh luluh di hadapan adik-adik. Peristiwanya begitu tiba-tiba. Mama sehat, meski sedang covid mama dalam keadaan sehat walfiat. Hanya rutin meminum obat hipertensi. Tanpa sakit lama-lama, hanya mengeluh dada sakit, duduk sejenak di ruang keluarga sambil TV menyala. Mama pergi selamanya sambil duduk dalam pelukan si bungsu dan kakaknya nomor dua yang datang membawa bidan. Mama pergi sambil tersenyum.
Pesan yang Tak Pernah Hilang
Kata-kata mama bahwa kamu harus kuat, biar mama saja yang sakit seakan terjawab. Mama sudah menyerap semua sakit saya dan dibawanya pergi selamanya menjumpai kekasih hatinya, Bapak Clemens yang sudah lama menunggu. Bagaimana proses selanjutnya tidak perlu saya tuliskan ulang di sini. Empat anaknya di rantau tak ada yang bisa pulang karena pembatasan covid delta yang amat ketat. Ya, hanya bisa menyaksikan lewat Videocall.
Kehilangan yang tiba-tiba bukanlah akhir dari cinta. Ia adalah bukti betapa dalamnya ikatan yang tak terlihat oleh mata. Ikatan yang dibentuk oleh doa, pengorbanan dalam diam, dan kasih yang rela menanggung sakit demi keselamatan anak-anaknya.
Mama pergi tanpa pamit panjang, tapi ia telah berpesan jauh sebelum napasnya berhenti: “Jaga adik-adikmu. Lindungi keluargamu.” Dalam kepergiannya yang tenang, mama meninggalkan beban yang ringan, karena ia sudah membawa pergi semua derita. Dan di sanalah kita belajar: cinta sejati tak pernah meminta dipahami, hanya dipercaya, bahkan ketika ia pergi sambil tersenyum, duduk tenang di antara suara televisi yang masih menyala, seolah hidup biasa saja berjalan. Tapi bagi kita yang ditinggalkan, dunia berhenti sejenak… lalu perlahan belajar bernapas lagi, dengan kekuatan yang ia titipkan lewat kata-kata terakhirnya.
Tulisan ini sebagai salah satu jawaban sebelum debaran terulang di tanggal 28 dan 31 Januari, bukan di tanggal kepergian mama selamanya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











