Fenomena “Man Flu” dan Penjelasan Ilmiah di Baliknya
Pernahkah Anda mendengar istilah “man flu”? Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana seorang laki-laki merasa sangat menderita saat mengalami demam, bahkan sampai terlihat seperti ingin meninggal. Meskipun sering dianggap sebagai candaan atau lebay, fenomena ini memiliki dasar ilmiah yang cukup menarik.
Perbedaan Sistem Kekebalan Tubuh Laki-Laki dan Perempuan
Menurut dr. Restuti Hidayani Saragih, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM, M.H.(Kes), seorang dokter spesialis penyakit dalam dan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, perbedaan antara sistem kekebalan tubuh laki-laki dan perempuan menjadi salah satu alasan utama mengapa “man flu” terjadi.
-
Testosteron yang Melemahkan Sistem Imun
Testosteron, hormon utama pada laki-laki, memiliki efek menekan sistem kekebalan tubuh. Riset menunjukkan bahwa laki-laki dengan kadar testosteron tinggi memiliki respons antibodi yang lebih lemah terhadap vaksin flu dibandingkan perempuan. Hormon ini juga menurunkan kemampuan tubuh untuk memproduksi zat-zat pertahanan terhadap virus dan mengurangi produksi sel-sel kekebalan yang melawan infeksi. -
Estrogen yang Memperkuat Sistem Imun
Di sisi lain, hormon estrogen pada perempuan justru memperkuat sistem imun. Estrogen membantu tubuh perempuan membuat antibodi lebih efisien dan merespons infeksi lebih cepat. -
Keuntungan Genetik pada Perempuan
Perempuan memiliki dua kromosom X yang menyimpan banyak gen kekebalan tubuh, sedangkan laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Hal ini memberikan keuntungan genetik bagi perempuan dalam menjaga daya tahan tubuh.
Respons Tubuh Saat Demam
Demam adalah gejala umum dari infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, atau jamur. Ketika demam terjadi, tubuh akan memproduksi zat-zat kimia (sitokin) yang memicu demam, nyeri otot, lemas, hingga kehilangan napsu makan. Ini bukan efek langsung dari virus, tetapi respons tubuh untuk memaksa kita beristirahat total agar energi bisa difokuskan melawan infeksi.
Dr. Restuti menjelaskan bahwa meskipun respons ini sama-sama dialami laki-laki dan perempuan, sistem imun laki-laki yang lebih lemah membuat prosesnya lebih berat dan lama. Data dari Hong Kong pada 2004–2010 dan Amerika Serikat (AS) pada 1997–2007 membuktikan bahwa laki-laki memiliki risiko lebih tinggi dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia karena flu dibandingkan perempuan, bahkan setelah memperhitungkan faktor seperti penyakit jantung, kanker, dan penyakit kronis lainnya.
Alasan Psikologis di Balik “Man Flu”
Selain penjelasan biologis, psikolog Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id juga memberikan perspektif lain tentang “man flu”. Menurutnya, ada beberapa alasan psikologis yang membuat laki-laki merasa lebih menderita saat demam:
-
Konstruksi Sosial dan Stoikisme
Laki-laki tumbuh dalam lingkungan sosial yang menuntut mereka untuk kuat dan tidak mudah menunjukkan kelemahan. Akibatnya, mereka cenderung menahan rasa sakit sampai benar-benar jatuh sakit, sehingga ketika penyakit mulai parah, mereka merasakan rasa sakit yang berlipat ganda. -
Kehilangan Kendali
Identitas laki-laki sering dikaitkan dengan kapabilitas fisik dan kemandirian. Saat demam, mereka menjadi lemas dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, yang bisa menyebabkan krisis identitas kecil. Perasaan tidak berdaya ini diterjemahkan oleh otak sebagai ancaman besar, sehingga muncul perasaan cemas yang berlebihan. -
Strategi Coping yang Berbeda
Perempuan biasanya terbiasa dengan rasa sakit periodik seperti menstruasi, sehingga memiliki ambang batas toleransi yang lebih tinggi. Sementara itu, laki-laki cenderung menggunakan sensory-focused coping, yaitu fokus pada apa yang dirasakan tubuh. Fokus ini justru membuat persepsi rasa sakit meningkat.
Kesimpulan
Meskipun terlihat dramatis, fenomena “man flu” ternyata memiliki dasar ilmiah dan psikologis. Secara evolusioner, hal ini bisa menjadi mekanisme pertahanan bagi laki-laki untuk berhenti beraktivitas dan menghemat energi saat sakit. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tidak menganggap remeh keluhan laki-laki saat demam. Istirahat cukup dan vaksinasi influenza sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











