Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Apa Itu Super Flu? Penjelasan Dokter tentang Lonjakan Kasus Influenza

Apa Itu Super Flu dan Mengapa Menjadi Perhatian?

Super flu bukanlah penyakit baru atau virus yang lebih mematikan dibandingkan flu biasa. Istilah ini muncul akibat lonjakan kasus influenza yang terjadi lebih cepat dan lebih banyak dari biasanya. Meski jumlah pasien meningkat, tingkat kematian tetap rendah, namun lansia dan anak-anak perlu waspada karena gejalanya bisa lebih berat.

Munculnya Istilah “Super Flu”

Belakangan ini, istilah “super flu” sering muncul di tengah masyarakat dan memicu kekhawatiran. Banyak orang bertanya-tanya apakah penyakit ini merupakan varian baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa, atau bahkan ancaman kesehatan baru yang perlu diwaspadai secara serius.

Dokter sekaligus epidemiolog, Dicky Budiman, menegaskan bahwa super flu sejatinya bukan penyakit baru dan bukan istilah resmi dalam dunia medis. Istilah tersebut muncul karena lonjakan kasus influenza yang terjadi secara tidak biasa, baik dari sisi waktu maupun jumlah kasus, bukan karena munculnya virus baru yang lebih mematikan.

“Super flu itu hanyalah istilah populer yang digunakan media dan masyarakat. Tidak ada dalam terminologi medis resmi dan tidak dikeluarkan oleh organisasi kesehatan mana pun,” ujar Dicky Budiman dalam program Tribunnews On Focus di kanal YouTube Tribunnews, Selasa (6/12/2025).

Tetap Influenza, yang Berubah adalah Pola Penyebarannya

Dari sudut pandang medis, super flu tetap termasuk dalam penyakit influenza, yakni infeksi saluran pernapasan yang sudah lama dikenal dan bersifat endemik. Influenza muncul hampir setiap tahun dan umumnya mengikuti pola musiman tertentu.

Namun, yang membedakan fenomena super flu adalah lonjakan kasus yang terjadi lebih cepat dan lebih luas dibanding biasanya. Di negara-negara dengan empat musim, peningkatan kasus bahkan muncul sebelum puncak musim dingin. Sementara di wilayah tropis seperti Indonesia, musim hujan turut berperan dalam meningkatnya penularan influenza.

Dicky menjelaskan, secara epidemiologis, dari setiap 10 orang yang terinfeksi influenza saat ini, sekitar delapan di antaranya disebabkan oleh subclade K, yang kemudian populer disebut sebagai super flu.

Bukan Lebih Mematikan, Tapi Lebih Banyak yang Terinfeksi

Meski terdengar mengkhawatirkan, Dicky menekankan bahwa super flu tidak lebih mematikan dibandingkan flu biasa. Tingkat kematian atau case fatality rate influenza tetap relatif rendah, yakni sekitar 0,1 persen. Namun, karena jumlah kasus yang melonjak tajam, maka jumlah pasien yang membutuhkan perawatan medis juga meningkat.

Kondisi ini dapat membebani fasilitas kesehatan, terutama ketika kelompok rentan ikut terdampak.

“Yang perlu dipahami, ini bukan virus yang lebih ganas, tetapi virus yang menyebar lebih luas. Ketika jumlah orang yang terinfeksi banyak, otomatis jumlah kasus berat juga ikut naik,” jelasnya.

Gejala Lebih Berat pada Kelompok Rentan

Pada umumnya, flu biasa menimbulkan gejala ringan seperti demam, pilek, batuk, dan nyeri badan yang dapat sembuh dalam beberapa hari. Namun, pada kasus super flu, gejala dapat terasa lebih berat, khususnya pada lansia dan anak-anak. Hal ini berkaitan dengan dominasi virus influenza A tipe H3N2, yang dikenal lebih sering menyebabkan komplikasi.

Subclade K merupakan turunan dari jenis virus tersebut. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, batuk terus-menerus, nyeri tenggorokan berat, nyeri kepala dan otot, pilek parah, serta suara serak. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menjalar ke saluran pernapasan bawah dan menyebabkan pneumonia.

Pada lansia dengan penyakit penyerta serta anak di bawah lima tahun, kondisi ini bisa berujung pada sesak napas dan penurunan saturasi oksigen, sehingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit selama satu hingga dua minggu.

Tidak Semua Orang Mengalami Gejala Berat

Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Dicky menegaskan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi super flu akan mengalami kondisi berat. Pada individu muda dengan daya tahan tubuh yang baik, infeksi umumnya sembuh dengan sendirinya tanpa komplikasi serius.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala memburuk, terutama bagi kelompok rentan. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan dapat menyikapi fenomena super flu secara bijak, tanpa kepanikan, namun tetap waspada terhadap risiko penularan dan komplikasi yang mungkin terjadi.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *