Kecaman terhadap Penolakan Pasien Lansia di RSUD Kumpulan Pane
Peristiwa penolakan pasien lansia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kumpulan Pane, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak seorang wanita menangis di mobil karena orang tuanya ditolak untuk mendapatkan perawatan medis. Alasan penolakan disebutkan karena rumah sakit dalam keadaan penuh.
Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @ceritasumut dengan judul “Alasan ruangan penuh lansia di Tebing Tinggi ditolak rumah sakit, Keluarga: Uda mau meninggal ini”. Peristiwa terjadi pada Kamis (8/1/2026), dan kondisi pasien lansia tersebut dalam keadaan kritis. Dalam video juga terlihat wanita tersebut sangat lemas dan membutuhkan bantuan segera.
“Kami ditolak, di mana-mana kami ditolak, katanya ruangannya penuh,” ujar anak dari lansia yang sakit tersebut. Ia menyampaikan bahwa keluarganya tidak memiliki dana untuk membayar pengobatan, sehingga hanya meminta untuk diberi infus. Namun, permintaan itu ditolak.
Pasca video ini viral, Inspektorat Kota Tebing Tinggi, Muhammad Fachri, turun tangan. Pihaknya akan memberi sanksi tegas kepada pihak rumah sakit yang tidak mengizinkan pasien bernama Suliyem itu dirawat di RSUD Kumpulan Pane.
“Adanya berita yang viral di media sosial tentang pasien yang ditolak berobat di Rumah Sakit Umum Kumpulan Pane, kami dari Inspektorat sedang dalam pemeriksaan proses dalam fakta kejadian,” ujar Fachri saat menjenguk Suliyem yang kini dirawat di Rumah Sakit Chevani, Tebing Tinggi.
“Dan akan memberikan sanksi bila terbukti sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” tambahnya. Di video tersebut tampak juga Direktur RSUD Kumpulan Pane, Lili Marlina. Dalam keterangannya, Lili mengatakan, pihaknya akan kooperatif menjalani proses pemeriksaan.
Lili pun bersedia pernyataannya dikutip menjadi informasi pemberitaan, saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu (10/1/2026). “Kami berkomitmen melakukan pelayanan sesuai dengan aturan yang ada dan kami akan bekerja sama dengan Inspektorat terkait apa-apa saja yang dibutuhkan selama pemeriksaan, sehingga kami memberi pelayanan sesuai aturan berlaku dan semoga kejadian ini tidak terulang lagi,” kata Lili dalam video.
Namun, Lili belum mendetailkan kronologi penolakan yang dilakukan pegawai RSUD Kumpulan Pane kepada pasien. Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan Inspektorat. “Saat ini dua orang (pegawai RSUD) tadi masih dalam pemeriksaan, masih menunggu hasil pemeriksaan (Inspektorat),” katanya.
Kematian Bayi di RSUD Jayapura
Kejadian lainnya yang menjadi sorotan adalah kematian seorang bayi bernama Natania karena diduga terjadi kelalaian pelayanan RSUD Jayapura. Peristiwa meninggalnya bayi tersebut diunggah oleh sang ibu di media sosial dan menjadi viral.
Menanggapi kematian bayi tersebut, pihak RSUD Jayapura angkat bicara. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey menjelaskan, kondisi kesehatan bayi sudah berat saat dirujuk ke RSUD Jayapura. “Untuk bayi itu memang saat dirujuk dari Puskesmas sudah dalam kondisi berat,” katanya pada Kamis (8/1/2026).
“Butuh NICU (Neotanal Intensive Care Unit), tapi kita di sini terbatas. Nah, itu yang menyebabkan kasus kematian terjadi di rumah sakit,” imbuhnya. Selain itu, dalam penjelasannya, Andreas mengatakan bahwa ruangan ICU untuk orang dewasa juga terbatas.
“Tak hanya itu, ICU untuk orang dewasa juga terbatas,” ujarnya. “Selama itu belum diperbaiki atau pengadaan, maka akan banyak pasien yang tak bisa diakomodir meskipun mereka punya jaminan, bisa membayar, atau pasien ditanggung oleh pemerintah,” jelas Andreas.
“Jadi kita lagi perbaikan ke sana. Kita sedang merancang satu bangunan yang bisa menampung semuanya,” katanya lagi. Dia menjelaskan bahwa kebutuhan bed atau kasur untuk pasien ICU dan NICU sekitar 10 persen dari total bed yang tersedia di rumah sakit. Sementara yang tersedia di RSUD Jayapura kurang dari 10 bed.
“Di sini kita punya 300 bed, dari jumlah itu kita butuh 10 persen atau 30 bed untuk dewasa dan anak, jadi kita masih kurang,” ujar Andreas. “Yang tersedia saat ini hanya ada enam bed untuk dewasa, begitu pun anak masih sangat kurang.”
“Ini menjadi perhatian kami dan kita lagi kembangkan agar ke depan semua pasien dengan keluhan sesak nafas, jantung, paru-paru atau sakit berat bisa tolong di ruang ICU.” “Jadi kita berusaha pengembangan ke sana, mudah-mudahan dalam beberapa saat ke sana kita sudah bisa punya,” katanya lagi.
Sebelumnya, dalam unggahannya, sang ibu menceritakan bahwa anaknya mengalami sesak nafas sehingga dibawa ke Puskesmas. Namun dari Puskesmas kemudian dirujuk ke RSUD Jayapura. Saat sampai di RSUD Jayapura, menurut dia, pihak tenaga medis melakukan pemasangan alat bantu pernapasan dan dimintai BPJS sebelum ditangani.
Namun, karena bayinya belum memiliki BPJS, maka hanya dirawat di IGD. “Saya mau cerita sedikit tentang anak saya, waktu itu dia sesak nafas dan dibawa ke puskesmas, tapi sampai di sana (Puskesmas), dia dirujuk langsung ke RS dok 2 (RSUD Jayapura) dan sampai di sana mereka pasang alat bantu pernapasan lalu di tanya BPJS agar bisa didorong ke ruangan bayi untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik lagi, tapi sayangnya gadis kecil ini belum punya BPJS akhirnya dia hanya dirawat di IGD,” tulis sang ibu Dhina Bonay dalam unggahan di media sosial.
Menurut dia, pihak keluarga sempat memohon kepada petugas medis agar bayinya dilayani terlebih dulu dan pengurusan BPJS menyusul. Namun, permintaan itu justru ditolak oleh pihak rumah sakit. “Sambil kami keluarga berusaha untuk segera mengurus BPJS, kami sempat memohon agar anak kami bisa ditangani dulu atau dibawa ke ruang ICU bayi. Nanti BPJS kami urus nyusul, tapi sayangnya tidak digubris,” tulisnya.
“Setelah dua hari bertahan melawan sesak nafas di IGD pada akhirnya dia (anak) di panggil pulang sekitar jam 7 pagi, kami keluarga cuma bisa menangis dan menerimanya,” katanya lagi. Dalam unggahan itu, sang ibu juga mengaku kesal karena mereka dipanggil oleh pihak dokter.
Ia diminta bersabar sambil menunggu pihak rumah sakit menghitung biaya pengobatan selama dua hari dirawat di IGD. “Yang membuat kami kesal adalah, kami dipanggil oleh dokter dan kami diminta untuk bersabar karena mereka sedang mengkalkulasikan biaya pengobatan. Kami keluarga seakan mau ribut, namun kami teringat kembali akan gadis kecil yang sudah terbaring kaku maka kami menahan emosi,” katanya.
Setelah menyelesaikan administrasi, sang ibu dan keluarga segera menggendong sang anak dan pulang menggunakan Maxim. “Sungguh sakit dan kami sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit,” ujarnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











