Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Opini  

Kesalahan Orang Tua Zaman Now Menurut Dr. Aisyah Dahlan

Menjadi Orang Tua yang Efektif di Zaman Sekarang



Menjadi seorang dokter, ada sekolahnya yaitu Fakultas Kedokteran. Menjadi polisi, ada sekolahnya yaitu Pendidikan Kepolisian. Menjadi hakim, ada sekolahnya yaitu Fakultas Hukum. Namun menjadi orang tua? Sekolahnya adalah seumur hidup dan secara otodidak.

Salah satu tokoh yang memberikan wawasan tentang parenting di Indonesia adalah dr. Aisyah Dahlan. Ia tidak hanya sebagai seorang dokter tetapi juga seorang ustadzah yang sering membahas karakter manusia dari segi susunan syaraf di otak. Dari tausiyahnya, kita bisa belajar banyak hal untuk menjadi orang tua yang lebih efektif dan tidak dibenci oleh anak-anak.

Apakah ada anak yang benci kepada orang tuanya? Tentu saja ada. Terutama jika orang tua selalu mengulang-ulang melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak disukai anak. Jadi, penting bagi orang tua untuk memahami apa yang tidak disukai anak-anak, khususnya anak zaman sekarang.

Hal-hal yang Tidak Disukai Anak-anak

Beberapa hal yang sering tidak disukai anak-anak adalah perbandingan. Baik dibandingkan dengan teman sebaya, saudara sendiri, bahkan dengan orang tua mereka sendiri. Secara tidak sengaja atau sengaja, orang tua cenderung membandingkan kondisi anak sekarang dengan kondisi mereka saat kecil dulu.

Contohnya, orang tua mungkin bercerita: “Dulu mama nggak pernah disuruh belajar. Tiap sebelum ujian, mama sendiri mengatur buku lalu mulai belajar. Nggak ada oma atau opa teriak-teriak nyuruh belajar.” Sampai di situ, masih aman. Namun, ketika orang tua menambahkan dengan: “Kamu sekarang? Diteriakiiin baru mau belajar. Mau jadi apa kamu nanti?” Maka ini sudah tidak aman lagi.

Anak-anak akan merasa tidak nyaman dengan ucapan seperti itu. Misalnya, anak sulung saya biasanya menjawab dengan “beda zaman mah.” Ini sesuai dengan penjelasan dr. Aisyah Dahlan bahwa beda zaman, cara berpikir, dan perkembangan otak sangat berbeda. Otak berkembang karena stimulus yang berbeda. Anak-anak sekarang terpapar gawai sejak dini, sehingga orang tua perlu usaha lebih dalam membimbing mereka.

Menghindari Label Negatif

Hal lain yang tidak disukai anak-anak adalah diberi label, dihakimi, dihujat, atau dituduh. Contohnya, ucapan seperti “kamu itu sering bohong,” “kamu itu selalu main hape,” atau “kamu begadang tadi malam, kan?” Meskipun mungkin benar, anak tidak suka dan cenderung defensif.

Anak zaman sekarang semakin kita keras, semakin defensif. Berbeda dengan anak zaman dulu yang paling takut kalau orang tua marah dan selalu berusaha menjaga sikap agar orang tua tidak marah. Perbandingan ini jelas menunjukkan perbedaan antara dua generasi.

Solusi untuk Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik

Solusinya adalah memberikan kata-kata yang baik dan afirmasi positif. Misalnya, “Anakku yang sholeh, sini turun makan dulu.” Atau “Anakku sang penghafal qur’an, tolong bantu mama masak nasi dulu.” Dengan demikian, anak akan merasa didukung dan dihargai.

Sebagai contoh, kisah Syech Abdurrahman as-Sudais, imam besar Masjidil Haram. Saat kecil, ia nakal, namun ibundanya tidak pernah mengucapkan kata-kata buruk. Suatu hari, ia menaburi kambing dengan pasir. Ibunya marah, tapi hanya berkata: “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu imam besar Masjidil Haram.”

Ucapan baik ibunya menjadi doa yang diijabah oleh Allah. Jadi, inti dari menjadi orang tua anak zaman now adalah berkata lembut, tidak menghakimi, tidak berkata kasar, serta selalu melantunkan doa baik di depan mereka maupun dalam doa malam.

Tips Tambahan untuk Orang Tua

Selain itu, orang tua perlu sering membaca buku-buku parenting, mendengarkan ceramah, dan membuka hati serta pikiran untuk menerima nasihat. Dengan begitu, insyaAllah anak-anak kita dapat menjadi insan yang baik, menjaga adab, salat, nilai-nilai Islam, mandiri, dan bahkan bisa memberikan manfaat pada orang lain di sekelilingnya.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *