Alibi Ayah Pelaku Dikritik oleh Keluarga dan Publik
Alibi yang disampaikan oleh Alham Wumala Siagian, ayah dari siswi SD berinisial SAS (12) yang dituduh membunuh ibu kandungnya di Medan, dianggap tidak masuk akal oleh keluarga dan masyarakat luas. Menurut Alham, putrinya nekat menusuk sang ibu karena kesal melihat kakaknya dimarahi. Namun, warganet menilai keterangan tersebut janggal, mengingat korban mengalami 20 luka tusukan.
Melalui kolom komentar media sosial, keluarga menyebut adanya dugaan perselingkuhan antara suami dan istri, serta konflik rumah tangga sebelum peristiwa maut terjadi. Hal ini memunculkan kecurigaan baru dalam penanganan kasus tersebut.
Pada akun @pakdebrewok2122, seseorang membuat klarifikasi di kolom komentar Instagram @lambe_turah. Berikut adalah isi klarifikasi lengkapnya:
Izin klarifikasi karena ini keluarga saya,
Kejadian subuh pagi, diduga si adek bunuh mamanya. Kami sekeluarga gak percaya karna alasan yang gak masuk logika bahwa adeknya dendam karna kakaknya di marahin mama nya.
Dan yang buat kami gak percaya adalah sebelum kejadian si jantan ini selingkuh dan udah minta cerai tapi si istri gak mau dan udah pisah ranjang dan ntah kenapa bisa balik lagi ke rumah itu.
Dan semua adalah alibi si ayah nya bilang adeknya di kamar megang pisau bunuh mama nya dan dia katanya tidur di atas jadi gak dengar katanya tolong pak polisi selidiki ini jantan dan sekarang si jantan ini bisa keluar kemana2
logika ini adek masih kelas 6 SD bukan SMP ya kawan2 dan luka tusuk ada 20 tusukan logika aja gak teriak mamaknya klok gak di bekap.
Kronologi Pembunuhan
Untuk diketahui, tidak lama setelah kejadian, Alham langsung menceritakan kronologi kejadian dan mengungkap alibinya kepada tetangga. Ia menuding anaknya yang menghabisi nyawa ibu kandungnya karena kesal kakaknya dimarahi.
SAS yang masih berusia di bawah umur dikabarkan nekat berkali-kali menusuk sang ibu, Faizah Soraya (42), hingga meregang nyawa pada Rabu (10/12/2025). Peristiwa pembunuhan itu terjadi di rumah korban dan pelaku di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara, sekitar pukul 05.00 WIB.
Kepala Lingkungan V, Kelurahan Tanjung Rejo, Tono, mengungkapkan cerita yang disampaikan oleh ayah pelaku tersebut. Ia juga mengungkapkan situasi saat tiba di lokasi kejadian.
“Saya lihat korban sudah tergeletak di dalam kamar lantai satu, di atas kasur, bersimbah darah,” kata Tono kepada Kompas.com.
“Kalau kondisi kakaknya waktu itu jari-jarinya terluka. Jadi diobati dokter yang datang. Terus adiknya (AL) terduduk saja di sofa ruang tamu,” sambungnya.
Tono menyampaikan, AL tidak menangis sama sekali, sementara sang suami tak kuasa menahan tangis melihat istrinya sudah meninggal dunia.
“Jadi posisi tidurnya, istri sama dua anaknya di dalam kamar lantai satu. Kalau suaminya di lantai dua,” ujar Tono.
Selama ini, keluarga korban tidak terlalu sering berinteraksi dengan tetangga. Bahkan kedua anak korban dikenal tertutup oleh warga setempat.
“Kalau kata warga, anak-anaknya ini setiap pulang sekolah langsung di rumah saja terus. Jadi jarang berinteraksi sama tetangga,” tutup Tono.
Kekurangpercayaan terhadap Alibi Ayah
Disebutkan bahwa motif SAS membunuh ibunya karena kesal kakaknya dimarahi pada Selasa malam.
“Tadi saya tanya ayahnya, gimana (penyebab pembunuhan katanya), semalam kakaknya itu dimarahi sama korban itu, jadi adeknya itu tersinggung atau apa,” imbuh Toni.
Atas cerita yang disampaikan oleh ayah pelaku, publik justru meragukan kebenarannya. Di media sosial, khalayak menilai keterangan ayah pelaku tersebut janggal. Karena itu, sejumlah warganet meminta kepolisian agar ayah pelaku juga diperiksa secara intensif terkait pembunuhan Faizah Soraya.
- “Periksa suaminya,”
- “Aku curiga sama bapaknya,”
- “Periksa bapakknya!”
- “Banyak yang curiga pelakunya adalah suami korban, karena tetangga sering mendengar mereka cekcok,”
- “Orang bapaknya jga di situ masa iya,anak cewek usia 12 th bisa ngrbunuh sampe beberapa tusukan di luar Nurul,yg perlu di curigai ya bapaknya,”
Pandangan Praktisi Hukum
Sebelumnya diberitakan, cekcok antara anak dan ibu kandung hingga berujung maut di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Peristiwa insiden maut ini terjadi pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, di mana ibu rumah tangga bernama Faizah Soraya (42) bersimbah darah di sekujur tubuhnya di dalam kamar tidur. Sedangkan pelaku pembunuhan ialah seorang anak perempuan yakni anak kandungnya berinisal A (12) masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Praktisi hukum dan Ketua Peradi Kota Medan, Dwi Ngai Sinaga, menyampaikan pandangannya atas kasus tragis seorang anak berinisial SAS (12) yang membunuh ibu kandungnya, Faizah Soraya (42). Ia menekankan agar penyidikan kasus ini dilakukan dengan ekstrak kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi.
“Kita turut prihatin atas peristiwa ini. Kita minta agar dalam proses pemeriksaan hanya ditangani oleh Polwan dengan didampingi tim psikolog. Kasus ini harus ditangani secara jeli, teliti, dan ekstra hati-hati karena masih rawan dan dapat mengguncang jiwa si anak,” ucap Dwi Ngai Sinaga saat ditemui awak media, Jumat (12/12/2025).
Ia juga menyoroti fakta bahwa korban dilaporkan menerima 20 luka tusukan. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang kemampuan fisik seorang anak untuk melakukan serangan sebanyak itu dengan kekuatan layaknya orang dewasa.
“Kami sangat meragukan bagaimana kemampuan seorang anak bisa melakukan hal ini dengan kekuatan tenaga orang dewasa. Maka, diperlukan ketelitian dan kejelian tim penyidik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dwi Ngai Sinaga menyampaikan kepercayaannya kepada pimpinan Polrestabes Medan untuk mengungkap tuntas kasus ini.
“Di bawah kepemimpinan Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Calvijn Simanjuntak, proses penyelidikan kasus pasti akan tuntas dilakukan,” lanjutnya.
Dwi Ngai Sinaga mengimbau kepada media massa dan masyarakat luas untuk menjaga etika dalam menyikapi kasus ini.
“Kami minta kepada teman-teman media agar kaidah jurnalistik untuk anak dijunjung, dengan tidak menampilkan foto atau identitas sang anak. Kami juga imbau masyarakat dan netizen untuk tidak menyebarkan konten serupa dan melakukan penghakiman sepihak,” tuturnya.
Pelaku Dikenal Beprestasi
Selain itu, warga mengaku terkejut, sebab SAS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, ramah, dan juga berprestasi di sekolahnya.
“Kami tidak menyangka anaknya bisa melakukan itu. Ia adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya,” ujar warga tersebut.
Warga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban termasuk tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Korban hampir tidak pernah bergaul dengan tetangga dan sangat jarang keluar rumah.
“Mereka itu orangnya tertutup, jadi satu keluarga itu jarang keluar rumah. Hanya saja, ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar,” lanjutnya.
Jarangnya interaksi ini membuat warga tidak mengetahui masalah internal di dalam rumah tangga tersebut, hingga akhirnya warga dikejutkan dengan adanya pembunuhan di dalam rumah.
“Kita tidak tahu permasalahan keluarganya. Yang kami tahu itu saat kejadian lah ada pembunuhan,” ucapnya.
Namun, warga menduga kuat bahwa motif pembunuhan berawal dari masalah rumah tangga.
“Mungkin karena emaknya itu cerewet, jadi mungkin sakit hati. Padahal, sudah mau tamat sekolah pelaku ini. Dalam agama, keluarga mereka kuat,” katanya.











