Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Satu Hal yang Aku Lakukan di 2026, Mendampingi Langkah Pertama Anak Kami Jadi Guru Profesional

Perjalanan Pendidikan dan Dukungan Orang Tua

Setiap orang tua pasti memiliki harapan yang sama, yaitu ingin anak-anaknya sukses dan bahagia dalam segala lini kehidupan. Harapan ini sudah tertanam sejak anak pertama lahir ke dunia, sebuah keinginan sederhana namun penuh makna, yaitu melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, dan bermanfaat bagi sesama. Hal ini terutama melalui jalur pendidikan formal yang sedang mereka tempuh.

Keberhasilan anak adalah cerminan dari doa dan ikhtiar panjang yang telah diberikan, sebuah pencapaian yang menjadi kebahagiaan sejati bagi orang tua yang selalu mendampingi dari balik layar. Begitu juga dengan saya dan istri, kami sangat berharap anak kami, Afghani Sya’ban Izzuddin, bisa sukses dalam menempuh pendidikan Strata 1 (S1) dan lulus tepat waktu dengan hasil Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang membanggakan. Nilai ini bukan hanya sekadar angka, tetapi bukti nyata dari kerja keras, disiplin, dan penguasaan materi perkuliahan.

Pencapaian akademik yang optimal diharapkan menjadi modal awal yang kuat untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Kami berharap ilmu yang didapat di bangku kuliah tidak hanya berhenti sebagai teori, tetapi bisa segera diimplementasikan untuk memberikan dampak positif, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas yang membutuhkan tenaga ahli di bidang tersebut.

Harapan ini menjadi energi pendorong bagi kami untuk terus memberikan dukungan tanpa henti selama masa studi anak. Afghani saat ini duduk di semester terakhir dan sedang menjalankan praktik mengajar lapangan atau yang dikenal dengan Program Penguatan Profesional Kependidikan (PPPK), sebuah fase krusial di mana teori bertemu dengan praktik nyata di lapangan.

Ia ditempatkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mandalaherang 3, Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebuah pengalaman berharga yang akan berlangsung selama tiga bulan penuh. Pengalaman ini bukan hanya menguji kemampuan mengajarnya, tetapi juga melatih kesabaran, kreativitas, dan adaptabilitasnya dalam lingkungan sekolah yang sesungguhnya.

Masa praktik mengajar ini insya Allah akan berakhir pada bulan Desember 2025 tahun ini, menandai selesainya salah satu tahapan terpenting dalam perjalanan akademiknya. Setelah tuntas dengan urusan praktik lapangan, Afghani akan langsung memfokuskan seluruh energi dan pikirannya untuk menyusun Tugas Akhir, sebuah tantangan besar yang menentukan kelulusannya.

Kami berdoa dan berusaha agar ia bisa menuntaskan pendidikannya itu di tahun 2026 dan mudah-mudahan bisa lulus dengan predikat terbaik dan melaksanakan wisuda bersama teman-teman seangkatannya. Kami tak hanya berharap ia lulus, tetapi semoga saja di tahun 2026 nanti Afghani bisa langsung mengamalkan ilmunya sesuai bidang yang telah ia tekuni selama kurang lebih empat tahun, yakni pendidikan guru sekolah dasar pendidikan jasmani.

Melihatnya berdiri di depan kelas, mengajarkan nilai-nilai kesehatan dan kebugaran, serta membentuk karakter siswa melalui olahraga, adalah pemandangan yang paling kami nantikan. Inilah tujuan utama dari segala pengorbanan yang telah kami lakukan selama ini, sebuah cita-cita yang hampir terwujud.

Alhamdulillah, kami tak terasa telah mengawal anak cikal kami itu sejak Agustus 2022 lalu, ketika ia memulai babak baru sebagai mahasiswa di Sumedang, dan kini ia sudah berada di fase akhir perkuliahan. Tentu banyak suka duka yang telah kami lalui bersama dalam menjalani pendidikan ini, mulai dari perjalanan jauh rutin dari Kota Bandung menuju kampus Sumedang yang membutuhkan waktu dan biaya, hingga sempat merasakan fase kos hampir dua tahun jauh dari rumah.

Semua itu adalah bagian dari proses pendewasaan dan perjuangan yang kelak akan menjadi kenangan manis dan inspiratif bagi dirinya. Dukungan orang tua tidaklah cukup hanya dalam bentuk materi, tetapi juga harus hadir dalam bentuk fisik dan psikologis, terutama ketika anak sedang berjuang menempuh pendidikan di luar kota.

Kami berupaya keras memastikan Afghani selalu merasa didukung, baik saat ia berada di kos maupun saat ia harus bolak-balik menjalani perkuliahan, menjadikannya merasa aman dan nyaman untuk fokus pada studinya. Kami selalu berusaha menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya dan memberikan motivasi di saat ia merasa jenuh atau tertekan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

Perjalanan yang kami tempuh dari Bandung ke Sumedang setiap kali menjenguk atau mengantar kebutuhannya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah perjalanan emosional yang memperkuat ikatan keluarga. Kami menyaksikan sendiri bagaimana ia beradaptasi dengan lingkungan baru, bagaimana ia belajar mandiri, dan bagaimana ia menanggung beban akademis yang tidak ringan di pundaknya.

Momen-momen ini adalah kesempatan berharga bagi kami untuk menanamkan nilai-nilai kegigihan dan tanggung jawab yang akan ia bawa seumur hidup. Saat menjalani masa kos, ia belajar mengelola keuangannya sendiri, mengatur jadwal makan dan belajar tanpa pengawasan langsung dari orang tua, sebuah pelajaran hidup yang jauh lebih berharga daripada teori apa pun.

Kami hanya bisa memantau dari jauh, memberikan transfer biaya hidup, dan sesekali mengirimkan makanan favoritnya untuk sekadar menghilangkan rasa rindu dan memberikan semangat. Mandiri adalah kunci utama yang kami tanamkan, agar kelak ia siap menghadapi tantangan hidup setelah lulus dari bangku kuliah.

Fase praktik mengajar di SDN Mandalaherang 3 sekarang menjadi puncak dari semua persiapan mental dan keilmuannya, sebuah medan tempur nyata bagi calon guru profesional. Di sana, ia tidak hanya mengajar materi Penjas, tetapi juga belajar berinteraksi dengan karakter siswa yang beragam, berkoordinasi dengan guru senior, dan memahami dinamika administrasi sekolah.

Kami sadar, ini adalah periode yang sangat melelahkan, membutuhkan fisik prima dan mental yang kuat, sehingga kami terus memastikan asupan gizi dan waktu istirahatnya tercukupi dengan baik. Kami sebagai orang tua tentu akan terus mengawal anak kami itu hingga mencapai cita-citanya menjadi guru profesional di tahun 2026, bahkan setelah ia diwisuda dan mendapatkan gelar sarjana.

Pengawalan ini bukan lagi dalam bentuk pendampingan akademis, melainkan dukungan moral dan fasilitas saat ia mulai merintis kariernya, mencari lowongan pekerjaan, atau bahkan mencoba membuka les privat sebagai permulaan. Kami ingin menjadi support system yang selalu siap menerima dan membimbingnya dalam menghadapi realitas dunia kerja.

Setiap cerita tentang kesulitan dalam menyusun laporan praktik, setiap kegagalan kecil dalam sebuah ujian mata kuliah, dan setiap rasa syukur atas nilai yang memuaskan, semuanya kami dengarkan dan kami rayakan bersama. Kami memposisikan diri sebagai teman diskusi sekaligus penasihat yang bijak, berusaha memberikan sudut pandang yang lebih luas tanpa pernah memaksakan kehendak kami.

Kami percaya, proses ini adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan karakter seorang profesional yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Kami juga menanamkan pemahaman bahwa gelar S1 hanyalah pintu gerbang, sementara pembelajaran sesungguhnya baru akan dimulai ketika ia terjun langsung ke dunia kerja, terutama di dunia pendidikan yang selalu berubah dan berkembang.

Seorang guru harus mau terus belajar, mengasah kemampuan pedagogik, dan beradaptasi dengan kurikulum serta teknologi terbaru. Komitmen untuk belajar seumur hidup inilah yang kami harap ia pegang teguh sebagai bekal utama menjadi pendidik yang berkualitas.

Menyongsong Tugas Akhir dan Visi Lulus Tepat Waktu

Fokus utama kami saat ini adalah memastikan kelancaran proses penyusunan tugas akhir, yang seringkali menjadi batu sandungan terbesar bagi mahasiswa tingkat akhir. Tugas akhir ini adalah manifestasi dari seluruh ilmu pengetahuan yang telah ia serap, sebuah karya orisinal yang harus diselesaikan dengan integritas dan ketelitian tinggi, serta menjadi penentu mutlak kapan ia akan diwisuda.

Kami telah menyiapkan mental dan juga dukungan finansial yang mungkin dibutuhkan selama proses penelitian dan penulisan intensif tersebut. Kami telah berdiskusi dengannya mengenai strategi pembimbingan, pentingnya komunikasi yang efektif dengan dosen pembimbing, serta manajemen waktu yang ketat agar tidak ada penundaan yang tidak perlu.

Kami mendorongnya untuk membuat kerangka waktu yang realistis dan memecah pekerjaan besar menjadi tugas-tugas kecil yang lebih mudah dikelola, sehingga rasa tertekan tidak sampai menguasai dirinya. Kami percaya pada kemampuannya untuk menyelesaikan tantangan ini sesuai target waktu yang telah ditetapkan.

Mimpi besar kami sekeluarga tertuang dalam resolusi 2026, yaitu melihat Afghani berhasil lulus di semester ini dan memakai toga wisuda di hadapan kami, sebuah momen haru yang telah lama kami impikan. Target kelulusan di tahun 2026 ini bukanlah sekadar target akademis, tetapi juga penanda dimulainya fase baru kehidupan dewasanya, di mana ia harus mulai membangun karier dan kemapanannya secara mandiri, memanfaatkan gelar yang telah ia perjuangkan. Resolusi ini adalah komitmen kolektif keluarga kami.

Target ini membutuhkan disiplin yang sangat tinggi, terutama dalam hal menjaga kesehatan mental dan fisik di tengah tekanan menyusun karya ilmiah. Kami memastikan ia memiliki lingkungan rumah yang kondusif jika ia memutuskan untuk menyelesaikan tugas akhirnya di Bandung, jauh dari kebisingan dan gangguan yang dapat menghambat konsentrasinya.

Kami juga mengingatkannya untuk tidak lupa beristirahat dan berolahraga, sesuai dengan bidang ilmunya, agar pikirannya tetap segar dan produktif selama proses penulisan. Penyusunan tugas akhir di program studi PGSD Penjas tentu memiliki tantangan spesifik, di mana ia harus menggabungkan aspek pendidikan, metodologi pengajaran di sekolah dasar, dan prinsip-prinsip ilmu keolahragaan.

Kami terus memotivasi bahwa penelitian yang ia lakukan harus relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan jasmani di sekolah dasar, bukan hanya sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Nilai guna dari tugas akhirnya harus menjadi prioritas.

Kami menyadari bahwa proses mencari pekerjaan setelah lulus pun akan menjadi babak perjuangan baru, bahkan dengan bekal ilmu yang mumpuni. Kami telah mulai memberikan arahan tentang pentingnya membangun jaringan profesional sejak dini, bagaimana cara membuat surat lamaran yang efektif, dan bagaimana menghadapi wawancara kerja, baik untuk menjadi Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun guru honorer atau swasta.

Insya Allah, kami akan selalu mendampingi dalam proses transisi dari mahasiswa menjadi profesional ini. Mengawal langkah ini berarti memastikan bahwa ia tidak hanya siap secara keilmuan, tetapi juga secara administrasi, mulai dari mengurus ijazah, transkrip nilai, hingga dokumen-dokumen penting lainnya yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan.

Kami akan proaktif membantunya mencari informasi mengenai pembukaan formasi guru di berbagai daerah dan membimbingnya melalui prosedur rekrutmen yang seringkali rumit. Ini adalah bagian dari peran orang tua untuk memuluskan jalan anak menuju cita-citanya.

Harapan Menjadi Guru Profesional dan Pengabdian

Guru profesional, menurut pandangan kami, bukanlah hanya seseorang yang memiliki sertifikat dan gelar, tetapi seseorang yang memiliki panggilan hati untuk mengajar, mendidik, dan menjadi teladan. Profesi ini menuntut kesabaran ekstra, kecintaan terhadap anak-anak, serta komitmen untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar tetap relevan dengan tuntutan zaman.

Kami berharap Afghani akan menjadi sosok guru yang mampu meninggalkan kesan mendalam dan positif bagi murid-muridnya. Menjadi guru sekolah dasar, khususnya di bidang pendidikan jasmani, adalah peran yang sangat strategis karena ia berkesempatan menanamkan kebiasaan hidup sehat dan nilai sportivitas sejak usia dini.

Kami berharap ia bisa menjadi agen perubahan yang menjadikan mata pelajaran Penjas tidak hanya sekadar bermain, tetapi menjadi sarana edukasi karakter, kerjasama tim, dan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan seumur hidup. Visi ini adalah pengabdian yang mulia kepada bangsa dan negara.

Dunia pendidikan jasmani saat ini membutuhkan inovasi, dan kami berharap lulusan UPI Kampus Sumedang ini mampu membawa pendekatan baru yang lebih menyenangkan dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Kami ingin ia memanfaatkan teknologi dan metodologi terbaru untuk membuat pelajaran menjadi interaktif dan menarik, sesuai dengan semangat anak-anak zaman sekarang. Guru yang kreatif dan inovatif akan selalu dicari dan dihargai dalam sistem pendidikan.

Pengabdian seorang guru tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga melibatkan interaksi dengan orang tua siswa dan komunitas sekolah yang lebih luas. Kami berharap ia bisa menjadi bagian aktif dari pengembangan sekolah tempatnya mengajar, berkontribusi dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan menjadi mentor yang baik bagi siswa-siswi yang memiliki bakat di bidang olahraga. Keterlibatan aktif ini akan membentuk reputasinya sebagai guru profesional yang disegani.

Ketika ia nanti telah mendapatkan pekerjaan pertamanya di tahun 2026, itu akan menjadi pencapaian luar biasa yang merupakan buah dari kolaborasi dan doa seluruh keluarga. Gaji pertama yang ia peroleh akan memiliki nilai sentimental yang jauh melebihi nominalnya, karena itu adalah lambang kemandirian dan kesuksesan yang ia raih dengan jerih payah sendiri. Kami akan selalu mengingatkannya untuk senantiasa bersyukur dan tidak melupakan asal usul perjuangannya.

Tugas kami sebagai orang tua akan terus berlanjut, meskipun ia telah menyandang status profesional, yaitu menjaga agar ia tetap rendah hati, berintegritas, dan tidak pernah berhenti mengasah diri. Kami ingin ia menjadi guru yang dikenang karena kebaikan, dedikasi, dan ilmu yang bermanfaat, bukan hanya sekadar mencari penghasilan semata. Mengawal langkah pertama ini adalah janji hati kami untuknya, sebuah dedikasi tanpa batas dari orang tua yang mencintai.

Kesimpulan

Kami sebagai orang tua akan senantiasa mengawal setiap langkah Afghani Sya’ban Izzuddin, memastikan bahwa resolusi 2026 kami untuk melihatnya lulus, diwisuda, dan memulai karier sebagai Guru Profesional dapat terwujud dengan baik dan lancar. Insya Allah, kami akan menjadi pendamping setianya, baik dalam suka maupun duka, hingga ia benar-benar bisa berdiri kokoh dan mandiri di jalurnya sendiri sebagai seorang pendidik yang sukses, bahagia, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *