Peran Penting Masyarakat dalam Menjaga Kebersihan Kota Maumere
Direktur pertama Politeknik Cristo Re Maumere, sekaligus Moderator Vox Point Indonesia Sikka, tinggal di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Seperti banyak kota lainnya, Maumere masih menghadapi tantangan besar terkait masalah sampah, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini. Sampah yang mudah dilihat di jalanan kota tidak hanya merusak keindahan tetapi juga menjauhkan citra kota sebagai destinasi pariwisata.
Sampah bukan hanya menjadi masalah teknis kebersihan, tetapi juga menjadi cerminan karakter warga kota. Kebiasaan membuang sampah sembarangan menunjukkan lemahnya kedisiplinan dan kepedulian sosial. Pada peringatan hari ulang tahun keempat Vox Point Indonesia Sikka tanggal 5 Desember 2025, Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi, hadir dan menyampaikan ajakan kepada para voxian untuk berpartisipasi dalam upaya bersama membangun Sikka.
Para voxian diminta memberikan kritik yang membangun dengan tawaran solusi kreatif. Salah satu hal yang sedang menjadi perhatian Pemda Sikka adalah soal kebersihan dan penerangan di Kota Maumere. Kota harus bersih dan terang. Wajah kota adalah cerminan karakter warganya. Masalah sampah mesti dilihat sebagai masalah dan tanggung jawab bersama.
Pendekatan Total Quality Management (TQM)
Penanganan sampah kota perlu ditekankan prinsip total quality management (TQM) sebagaimana diperkenalkan oleh W. Edward Deming (1982). Bagi Deming, kualitas hanya bisa dicapai jika semua pihak terlibat dan perbaikan dilakukan secara terus-menerus, sedikit demi sedikit tetapi konsisten. Prinsip ini cocok untuk mengatasi masalah laten sampah.
Pemerintah, sekolah-sekolah, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan media dalam kolaborasi pentahelix bekerja dalam satu alur saling terhubung. Selama setiap pihak berjalan sendiri-sendiri dan tidak memahami perannya dalam rantai menata dan menjaga kebersihan kita, perubahan sulit terjadi. Sampah akan tetap menjadi masalah.
Namun, ketika semua unsur bergerak bersama dalam semangat perbaikan berkelanjutan (continuous improvement), kualitas lingkungan akan meningkat secara meyakinkan. Kolaborasi lintas elemen melalui model pentahelix tersebut sangat penting agar penanganan sampah dapat berlangsung dari hulu ke hilir, dari pencegahan perilaku buruk sampai proses daur ulang secara terstruktur.
Langkah Konkret dalam Pengelolaan Sampah
Salah satu langkah konkret adalah memperkuat sistem 3R (reduce, reuse, recycle) sebagai dasar pengelolaan sampah. Pemerintah dapat memulai dengan penyediaan kontainer sampah yang direncanakan ditempatkan di dua puluh titik rawan sampah di kota Maumere seperti dikatakan Wakil Bupati Sikka dalam sambutannya. Juga mendorong dan memperkuat komunitas-komunitas peduli sampah seperti bank sampah yang dikelola ibu Susi dengan kawan-kawan.
Berikutnya, presiasi terhadap kelompok-kelompok kategorial, sekolah atau komunitas apa pun yang konsisten merawat kebersihan lingkungannya dengan memberikan penghargaan.
Teori Broken Window
Selain upaya teknik di atas, penting dipahami bahwa masalah sampah mesti ditangani sedari awal, sejak masih sedikit. Ibarat pepatah: dikit-dikit akhirnya menjadi bukit. Dalam konteks ini, teori broken window dapat menjadi landasan untuk berperilaku. Dalam terang pemikiran Wilson & Kelling (1982), soal sampah di kota bisa berawal dari pembiaran terhadap sehelai tisu kotor di jalanan ramai.
Tampak sepele tapi memberi sinyal bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak masalah. Dalam teorinya, Wilson & Kelling memberi contoh klasik. Satu jendela pecah yang dibiarkan begitu saja memberi sinyal bahwa ketidakpedulian dianggap lumrah. Lama kelamaan jendela lain ikut pecah, bangunan tampak terbengkalai, dan tindakan-tindak kejahatan merajalela.
Lingkungan yang tampak kotor, rusak, atau diabaikan menyuburkan perilaku negatif dan melemahkan disiplin sosial. Dari sudut pandang inilah sampah bukan sekadar masalah lingkungan tetapi berurusan dengan karakter. Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan, dan merawat fasilitas umum adalah karakter sosial, bersangkutan dengan tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian.
Edukasi Publik dan Strategi Nudging
Robbins & Coulter (2018) menegaskan bahwa perilaku organisasi dan masyarakat dibentuk oleh kebiasaan yang dijalankan secara konsisten. Artinya, karakter kota bermula dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Untuk itu edukasi publik menjadi kunci pembentukan karakter ini. Kampanye kebersihan di sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas swasta maupun pemerintah dapat memantik api kesadaran sejak dini.
Strategi behavorial nudging dapat membantu seperti pemasangan pesan motivasional di ruang-ruang publik, seperti “Kampus Kami Bebas Sampah Plastik” yang pernah terpampang di halaman kampus Poltek Cristo Re Maumere. Ini contoh nudge sosial dengan pesan sosial normatif, atau “Lingkungan bersih adalah tanda syukur atas tanah karunia Ina Nian Tana Wawa, Ama Lero Wulan Reta” sebagai contoh nudging dengan identitas budaya Sikka.
Semua ini dapat mendorong warga agar membuang sampah pada tempatnya. Demikian pula nudge sosial seperti kompetisi antara RT atau Kelurahan dengan indikator kebersihan atau kegiatan gotong royong rutin seperti SPS (Selasa Peduli Sampah) di komunitas Cristo Re, dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan memperkuat karakter peduli kebersihan lingkungan komunitas.
Gerakan Sikka Berhias
Maumere sebenarnya pernah memiliki energi positif dalam gerakan kebersihan. Slogan Sikka Berhias yang menggema pada masa kepemimpinan Bupati Paulus Moa (1998-2003) menjadi simbol harapan agar kota tampak bersih dan rapi tertata. Kini, ketika persoalan sampah kembali menjadi tantangan nyata, semangat Sikka Berhias perlu dihidupkan lagi, bukan sekadar slogan tetapi sebagai gerakan membangun karakter warga kota dalam semangat kebersamaan dan perbaikan terus-menerus.
Jika Maumere sungguh ingin menjadi kota yang nyaman, sehat, dan memesona wisatawan maka langkah kecil yang dilakukan hari ini, seperti menyapu halaman dan membuang sampah dengan tertib, harus menjadi budaya. Dalam spirit total quality management, perbaikan kualitas kebersihan kota harus dimulai dari cara-cara sederhana yang dilakukan terus-menerus oleh setiap keluarga dan komunitas karena mutunya sebuah kota ditentukan oleh konsistensi warganya.
Teori broken window mengingatkan bahwa ketidakteraturan kecil yang dibiarkan akan menjadi sumber kerusakan besar, sebaliknya ketika lingkungan rapih dan terurus perilaku warga ikut membaik. Itulah jiwa Sikka Berhias sebagai gerakan memberikan wajah terbaik bagi kota; sebagai wujud syukur dan hormat pada tanah warisan leluhur.
Saat sampah diurus dengan benar, yang berubah bukan hanya pemandangan kota tetapi cara kita memandang diri sendiri sebab wajah kota adalah cerminan karakter warganya.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











