Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

China Berhenti Ekspor Asam Sulfat, Pasokan Global Terancam Macet

Krisis Global Akibat Konflik Timur Tengah

Konflik militer yang memanas di kawasan Timur Tengah kini telah memicu efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi dunia. Terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz telah memutus pasokan global untuk belerang (sulfur), bahan baku utama pembuatan asam sulfat yang sangat penting bagi berbagai sektor industri.

Merespons krisis ini, China sebagai salah satu pemasok asam sulfat terbesar di dunia mengambil langkah drastis dengan menghentikan ekspor bahan kimia tersebut demi mengamankan kebutuhan industri manufaktur di dalam negerinya. Keputusan Beijing ini langsung mengguncang rantai pasok global. Kebijakan mendadak yang diperkirakan bisa berlangsung hingga akhir 2026 ini menciptakan kepanikan lintas sektor, mulai dari pertambangan mineral kritis hingga pertanian dan ketahanan pangan.

Krisis Timur Tengah Picu Kelangkaan Belerang Dunia

Krisis global ini berakar dari macetnya distribusi pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pasokan sulfur global. Belerang elemental, yang merupakan produk sampingan dari pemurnian minyak dan gas, adalah komponen esensial untuk memproduksi asam sulfat.

Tertutupnya jalur pelayaran strategis menyebabkan kelangkaan sulfur yang parah di pasar internasional. Akibatnya, biaya produksi tak terkendali dan harga asam sulfat melonjak drastis. Mengingat negara lain belum mampu menutupi defisit pasokan ini, China memilih untuk menutup keran ekspor demi melindungi industri domestiknya dari inflasi harga bahan baku.

“Hilangnya pasokan dari China yang terjadi bersamaan dengan langkanya bahan baku belerang elemental akibat konflik Timur Tengah menjadi bencana besar bagi semua industri yang menggunakan asam sulfat,” kata analis dari lembaga riset CRU, Peter Harrisson, dilansir The Business Times.

Produksi Tembaga Chili Terancam Lumpuh Akibat Krisis Bahan Kimia

Korban pertama dari kebijakan ini adalah industri tambang tembaga dunia. Chili, sebagai produsen tembaga nomor satu di dunia, kini menghadapi ancaman kelumpuhan operasi. Negara tersebut sangat bergantung pada asam sulfat impor dari China, mencapai lebih dari satu juta ton per tahun, untuk mendukung operasi hidrometalurgi melalui metode heap leaching. Sekitar 20 persen tembaga Chili dihasilkan dari proses yang sangat bergantung pada bahan kimia ini.

Dampak finansial dari krisis ini sudah terasa secara real-time. Harga asam sulfat di pasar spot Chili dilaporkan melonjak hingga 44 persen hanya dalam sebulan terakhir. Jika produksi tembaga dunia menurun, hal ini berisiko mengganggu pasokan mineral kritis yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan teknologi tinggi dan transisi energi hijau.

Harga Pangan Dunia Terancam Naik Karena Krisis Pupuk

Selain memukul sektor logam dan energi, larangan ekspor China juga menghantam industri pupuk fosfat global. Industri ini mutlak membutuhkan asam sulfat untuk memproses batuan fosfat menjadi pupuk yang siap pakai bagi petani.

Ironisnya, langkah China menahan pasokan asam sulfat ini bertepatan dengan musim tanam di negara mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa Beijing saat ini lebih memprioritaskan ketahanan pangannya sendiri ketimbang meraup devisa dari ekspor bahan kimia.

Langkanya asam sulfat secara langsung akan menghambat produksi pupuk fosfat di seluruh dunia. Pada akhirnya, beban ini akan ditanggung oleh masyarakat luas dalam bentuk lonjakan harga pangan, karena petani kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau di tengah mahalnya ongkos energi.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *