Kehidupan Yoel Chaidir di Balik Rumah Adat Pelideh
Di belakang rumah sederhananya di Kelurahan Teladan, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Yoel Chaidir duduk membungkuk di depan meja kayu. Cahaya lampu temaram jatuh tepat di kedua tangannya yang tampak terampil. Di sekelilingnya, serpihan kayu berserakan, sebagian masih kasar, sebagian lain telah berubah menjadi potongan kecil yang mulai membentuk wujud rumah adat.
Suara alam menjadi satu-satunya irama yang mengiringi tangannya bekerja, perlahan dengan penuh ketelitian. Dengan sebuah pisau cutter di tangannya, Yoel Chaidir mulai memotong ranting kayu yang telah dipilihnya dengan cermat. Ujung pisau itu bergerak pelan, mengikis bagian demi bagian hingga membentuk potongan kecil yang presisi. Tak ada ruang untuk kesalahan, sebab satu goresan yang meleset bisa merusak harmoni miniatur yang telah ia bangun.
Sesekali ia berhenti, menatap hasil potongan itu dengan mata yang penuh perhitungan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ranting-ranting kecil itu kemudian disusunnya menjadi ornamen sangkar burung, detail yang memberi nyawa pada miniatur rumah adat Pelideh yang ia ciptakan. Pelideh adalah rumah adat resmi Kabupaten Bangka Selatan, yang ditetapkan oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Negeri Junjung Besaoh.
Jemarinya yang dipenuhi sisa lem bekerja cekatan, menempelkan setiap bagian dengan kehati-hatian yang hampir seperti ritual. Yoel Chaidir bercerita, gagasan membuat miniatur itu bermula dari kegelisahannya setelah mendengar bahwa rumah Pelideh telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2024.
Baginya, status tersebut justru menjadi tanda bahwa keberadaannya kian langka dan terancam hilang. Sebagai putra asli Bangka Selatan, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan itu tetap hidup. Dari situlah, niat untuk menghadirkan kembali rumah adat dalam bentuk miniatur mulai ia wujudkan.
“Kalau untuk khusus membuat rumah miniatur Pelideh ini baru, berhubung dari pamong budaya ada informasi bahwa rumah pelide sudah menjadi cagar budaya sejak tahun 2024, atas kecintaan saya kepada budaya saya berusaha untuk membuat miniatur,” ujar dia.
Hari-harinya di belakang rumah pun berubah menjadi ruang kerja yang penuh kesabaran. Selama kurang lebih satu bulan, Yoel Chaidir menyusun setiap bagian miniatur hanya berbekal ingatan masa kecilnya. Sesekali ia berhenti, menatap jauh, seakan memanggil kembali bayangan rumah kakeknya yang dahulu berdiri kokoh.
Tak ada gambar rancangan, tak pula cetakan, hanya memori yang ia percaya sebagai panduan. “Apa yang ada di miniatur ini merupakan murni ingatan saya yang ada di rumah kakek saya, lengkap dengan aksesoris penunjangnya,” sebut Yoel Chaidir.
Di antara proses yang panjang itu, tantangan terbesar muncul saat ia harus membuat motif pagar yang rumit. Dengan pisau cutter di tangan, ia memotong ranting kayu kecil satu per satu, membentuk pola kenanga dan gergaji yang sarat makna kebersamaan. Ujung pisau itu bergerak pelan, seolah mengikuti irama napasnya yang teratur, sementara jemarinya menahan setiap potongan agar tetap presisi.
Tak jarang ia harus mengulang dari awal demi mendapatkan hasil yang sesuai bayangannya. Bahkan ia membutuhkan waktu satu hari untuk menyelesaikan pembuatan pagar rumah yang hanya beberapa keping.
Miniatur itu kemudian diperkaya dengan berbagai aksesoris yang membuatnya terasa hidup. Yoel Chaidir menambahkan kepala rusa, lemari, pedang, hingga jam dinding, seolah rumah kecil itu masih menyimpan denyut kehidupan masa lalu. Ia juga menghadirkan detail seperti kuker kelapa, iser beras, hingga kerito sorong yang disusun dengan penuh ketelitian.
Semua bagian itu dibuat dari limbah kayu bekas yang ia kumpulkan dan satukan menggunakan puluhan lem hingga kokoh. “Untuk kemiripan insya Allah 90 persen mirip dengan aslinya, dan bahan-bahannya saya memanfaatkan limbah kayu bekas,” katanya.
Namun yang lebih menarik kata pegiat seni dan budaya asal Kabupaten Bangka Selatan ini adalah teknik menyusun papan dalam pembuatan miniatur rumah adat Pelideh. Rumah ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, tetapi juga simbol kebijaksanaan dan kreativitas masyarakat dalam merancang tempat tinggal yang tahan lama, nyaman, dan penuh nilai filosofis.
Rumah Adat Pelideh mengandung banyak nilai filosofis yang tercermin dalam arsitekturnya. Teknik susun Pelideh pada dinding rumah, di mana susunan kayu berdiri tegak secara vertikal, kemudian pada bagian tepi papan dibuat dua sisipan, ujung kiri dibuat alur dan di sisi kanan dibuat seperti menyerupai ujung lidah agar keduanya bisa masak dan terhubung dan saling mengikat. Sisip ini dirancang agar air hujan langsung turun ke bawah tanpa mengendap. Hal ini mencerminkan kebijaksanaan masyarakat dalam menciptakan struktur yang awet dan efisien.
“Dari teknik penyusunan dinding pada papan rumah inilah maka rumah adat tersebut diberi nama Pelideh,” paparnya.
Namun di balik ketekunannya, tersimpan kegelisahan yang tak mudah ia abaikan. Perjalanannya ke berbagai kampung menunjukkan bahwa rumah Pelideh kini hampir punah, hanya tersisa di beberapa desa seperti Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Desa Tiram, Kecamatan Tukak Sadai dan di Kota Toboali. Bentuk yang benar-benar asli kini hanya bisa ditemukan di Desa Ranggung. Kenyataan itu membuatnya semakin yakin bahwa upaya pelestarian tidak bisa ditunda.
Miniatur yang ia kerjakan di belakang rumah itu pun menjadi lebih dari sekadar karya seni. Di dalamnya tersimpan harapan agar masyarakat dan pemerintah daerah kembali memberi perhatian pada rumah adat Pelideh. Ia ingin miniatur itu menjadi pengingat, sekaligus pemantik untuk membangun kembali rumah adat dalam bentuk aslinya. Baginya, budaya harus tetap hadir secara nyata agar bisa diwariskan kepada generasi mendatang.
“Harapan saya pemerintah daerah bisa tergerak untuk membangun rumah adat pelide aslinya agar bisa dilihat wisatawan dan anak cucu kita,” harap Yoel Chaidir.
Upaya Yoel Chaidir tidak berhenti pada proses pembuatan semata. Ia mengaku telah menjalin komunikasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait, Khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan. Respons yang diterima pun cukup positif, bahkan dinas tersebut menyatakan kesiapan untuk menampung hasil karya miniatur rumah Pelideh yang ia buat. Langkah ini membuka peluang agar karya tersebut dapat dipamerkan sebagai media edukasi dan pelestarian budaya kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Untuk rumah miniatur Pelideh ini saya sudah berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan kebudayaan, dan dinas siap menampung hasil karya saya ini,” pungkasnya.











