Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Melawan El Nino, Godzilla 2026: Ancaman Kekeringan, Bulog Siapkan Stok Beras Terbesar dalam Sejarah

Ketersediaan Berasa Nasional yang Stabil Menghadapi Ancaman El Nino

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan bahwa ketahanan pangan nasional tetap kokoh meskipun fenomena iklim El Nino “Godzilla” diprediksi akan muncul pada pertengahan tahun 2026. Hal ini disampaikan saat ia melakukan peninjauan di Gudang Bulog Ngawi, Sabtu (4/4), di mana stok beras nasional saat ini telah mencapai 4,4 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Rekor Stok Beras dan Kemandirian Pangan

Stok beras yang tercatat saat ini mencapai 4,4 juta ton, yang tidak hanya menjadi rekor sepanjang sejarah Indonesia, tetapi juga melampaui capaian tahun 2025 lalu sebesar 4,2 juta ton. Menurut Ahmad Rizal, masih ada sekitar delapan bulan lagi hingga akhir tahun 2026, sehingga kemungkinan besar stok beras bisa meningkat lebih besar lagi.

“Masih ada sekitar delapan bulan lagi, berpotensi akan lebih besar lagi,” ujar Rizal saat meninjau Gudang Bulog Desa/Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, pada pukul 13.30 WIB.

Bulog memproyeksikan stok beras bisa menembus enam juta ton menjelang akhir tahun 2026, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Desember. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak panik atau melakukan panic buying karena stok pangan Indonesia cukup melimpah.

“Bulog terus menyerap beras petani, agar gudang betul-betul penuh stok beras dan ini menunjukkan kemandirian pangan Indonesia,” ujarnya.

Dukungan dari Petani dan Produksi Pertanian

Stok yang melimpah, ditambah dengan penurunan harga pupuk serta dukungan Alsintan dari Kementerian Pertanian, membuat petani lebih bergairah dalam meminimalisir dampak El Nino. “Produksi pertanian akan sangat meningkat, dan mendukung swasembada pangan nasional,” jelas Ahmad Rizal.

Selain beras, jagung juga sudah swasembada. “Apalagi Jagung juga sudah swasembada. Nantinya harapan kami bukan hanya beras dan jagung, mungkin nanti ke depan bisa kedelai,” tambahnya.

Ancaman El Nino “Godzilla” dan Peringatan Dini

Di sisi lain, ancaman kekeringan dan penurunan curah hujan membidik sejumlah wilayah Indonesia pada periode Juni hingga Agustus 2026. Kondisi ini dipicu oleh anomali iklim El Nino yang belakangan santer disebut sebagai “Godzilla”, sebuah fenomena yang membuat pusat pembentukan awan hujan bergeser dari Indonesia menuju Samudra Pasifik.

Istilah “Godzilla” sendiri pertama kali dipakai oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar. BRIN mencatat, nama monster ini kembali muncul sebagai peringatan dini agar publik bersiap menghadapi kemungkinan gabungan beberapa fenomena iklim yang memperluas dampak kekeringan.

Berdasarkan laporan NOAA per 12 Maret 2026, kondisi iklim saat ini sebenarnya masih normal. Namun, peluang munculnya El Nino melonjak hingga 62 persen pada Juni hingga Agustus 2026, di mana angin pembawa uap air akan melemah sehingga hujan makin jarang turun.

Fokus Dampak Kekeringan di Sulawesi Tengah

Dampak langsung dari fenomena ini adalah menyusutnya air waduk, sumur kering, gangguan irigasi, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan. Hal ini memberikan catatan khusus untuk wilayah Sulawesi Tengah yang sudah menunjukkan tanda-tanda kekeringan sejak Februari 2026.

Berikut rincian ancaman El Nino di Sulawesi Tengah berdasarkan data proyeksi iklim:

  • Wilayah Terdampak Awal: Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi menjadi daerah yang merasakan dampak paling awal. Warga berpotensi menghadapi risiko sumur mengering, debit mata air mengecil, hingga tanah pertanian retak.
  • Intensitas Kekeringan: Sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal.
  • Durasi Kemarau: Sebanyak 44,8 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
  • Puncak Fenomena: Penurunan curah hujan akan terasa bertahap mulai Juni, meluas pada Juli, dan mencapai puncaknya pada September 2026.

Menyikapi peringatan ini, pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan pasokan air bersih dan mengantisipasi kebakaran lahan. Sementara itu, warga diimbau mulai memperbaiki saluran air yang bocor, menampung air hujan selagi ada, dan menghemat penggunaan air rumah tangga sedini mungkin.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *