Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Ekonomi Pasca Ramadan 2026: Tren Mudik dan Ketidakpastian Global

Momen Pasca Lebaran 2026 dan Dinamika Ekonomi

Momen pasca Lebaran 2026 masih diwarnai mobilitas tinggi, terutama arus balik dari kampung halaman ke perantauan. Mobilitas ini dapat dibandingkan dengan irama rebana—kadang stabil, kadang terganggu. Tradisi mudik tetap menjadi penggerak ekonomi meski jumlah pemudik mengalami penurunan. Perputaran uang selama musim mudik diperkirakan mencapai Rp148,39 triliun pada tahun 2026.

Pada masa lebaran, nuansa mobilitas masyarakat masih terasa. Setelah mudik ke kampung halaman, kini gelombang arus balik ke perantauan menggema. Saat hilir mudik kendaraan dalam arus balik, penulis terkesima dengan para pendendang di perempatan lampu merah ketika memasuki kota sepulang dari kampung halaman. Di tengah kebisingan suara deru kendaraan, tiga anak usia belia merinai lagu Qasidah diiringi musik Rebana. Penggunaan alat musik Rebana di tempat umum saat ini sudah jarang dijumpai. Tanpa diberi aba-aba, ketiganya bersautan dalam iringan Rebana.

Penulis teringat catatan kecil waktu kuliah sejarah pemikiran ekonomi, dan tuturan promotor disertasi, dimana selalu terjadi konjungtur ekonomi. Konjungtur ekonomi adalah fluktuasi atau naik-turunnya aktivitas ekonomi secara bergelombang dalam jangka panjang, mencakup fase ekspansi (pertumbuhan), puncak (boom), resesi (penurunan), dan pemulihan (recovery). Konjungtur ekonomi ini sebenarnya tak ubah irama tabuhan Rebana, kadang keras dan kadang syahdu seolah sang penabuh tahu kapan tepukan kencang atau sebaliknya.

Orkestra Rebana ini berlangsung tidak lebih dari semenit, pada awalnya ritmenya seirama dan teratur, namun tiba-tiba sumbang karena salah satu penabuh menghilang (berlari), mungkin takut, maklum di sebelah mobil penulis ada “petugas” sang penertib. Perumpamaan tabuhan suara Rebana ini pasti menimbulkan tanya, tapi setidaknya dalam ranah ekonomi perilaku penabuh rebana tadi dapat dilihat dari dua hal, yaitu pada fase pertama (bulan puasa sampai lebaran) pelaku ekonomi sangat optimis sehingga demand meningkat mendorong ekonomi cenderung tumbuh. Dan di fase kedua pelaku ekonomi mulai terlihat melandai dan cenderung menurun bahkan terhenti ketika ada gejolak eksternal menyerupai tabuhan Rebana ketika terjadi syok.

Mudik sebagai Katalis Ekonomi

Mudik menjadi tradisi yang mengakar kuat, tidaklah heran berbagai upaya dilakukan masyarakat guna bisa pulang kampung, misalnya menggunakan pinjaman, tunjangan hari raya (THR). Melirik data jumlah pemudik dalam 12 tahun terakhir secara umum memang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tercatat jumlah pemudik tahun 2014 sebanyak 27,6 juta orang dan mencapai puncaknya di tahun 2024 sebanyak 193,6 juta.

Lonjakan ini cenderung disebabkan oleh adanya pandemi COVID-19, akibatnya sejak 2020-2022 pemudik menjadi yang terendah. Berselang 2 tahun kemudian, tahun 2024-2025 terjadi euphoria pemudik menyerupai generasi baby booming setelah kemerdekaan Indonesia 1945. Ada kerinduan mendalam masyarakat untuk pulang kampung setelah 2 tahun dibatasi oleh kebijakan Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahun 2020, oleh karena itu tidak heran kalau data pemudik 2023-2024 sangat ekstrem. Seiring waktu jumlah pemudik berangsur menurun, dan pada tahun 2026 pemudik berjumlah 143,9 juta.

Bila ditelisik, penurunan ini tentu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Disinyalir adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat, tidak bisa dipungkiri dalam dua tahun terakhir terjadi inflasi yang cukup tinggi sehingga mendorong meningkatnya biaya transportasi, dan ini berdampak pada rasionalitas sebagian masyarakat yang lebih selektif dalam merencanakan perjalanan mudik.
  • Pemerataan akses infrastruktur, dengan membaiknya infrastruktur transportasi, utamanya transportasi darat memungkinkan pemudik jarak pendek (antar wilayah) dalam suatu provinsi untuk pulang kampung bila memiliki waktu sengang tidak perlu menunggu momen lebaran,
  • Waktu yang berdekatan antara Nataru dan Hari Raya sehingga tersedia waktu libur panjang yang cukup banyak.

Namun demikian, meski mengalami penurunan jumlah pemudik, lebaran telah memberikan dampak ekonomi yang tidak kecil bagi daerah, dan secara aggregasi berkontribusi pada ekonomi nasional. Simak saja data dari berbagai lembaga, perputaran uang selama tahun 2024 mencapai Rp157,3 triliun, dan musim mudik lebaran 2026 Kadin memproyeksikan mencapai Rp 148,39 triliun. Angka ini cukup besar untuk mendorong perekonomian daerah, mulai dari persiapan sebelum lebaran (Ramadhan) seperti konsumsi makanan, dan minuman, pakaian, elektronik dan tiket, dan pasca lebaran seperti belanja oleh-oleh, kunjungan wisata dan kuliner sehingga dapat mengerakan UMKM.

Era Digitalisasi dan Tradisi Mudik

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia di tahun 2024 mengungkapkan tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai sekitar 79 persen dari total populasi atau dapat dikatakan lebih dari 200 juta orang terhubung dengan jaringan digital. Dalam konteks mobilitas, dan konektivitas ini membuka ruang baru untuk efisiensi perjalanan, termasuk dalam tradisi mudik. Kemajuan teknologi telah memungkinkan masyarakat bersilahturahmi tidak secara tatap muka, ada alternatif lain untuk silatuhrahmi intens dengan keluarga melalui video call dan lain-lain. Walaupun banyak pihak meyakini pula mudik tidak hanya bertemu keluarga tetapi ada esensi rasa dan asa yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi seperti keakraban dan kenangan dalam lingkungan kampung halaman telah mengunggah hasrat untuk kembali.

Sejauh ini kemajuan teknologi memang membuka ruang untuk mempermudah dan mempersingkat waktu perjalanan sehingga mendorong ekonomi tumbuh lebih efisien. Dari pengamatan dari tahun ke tahun, memang terjadi perubahan pola interaksi dan mobilitas masyarakat yang sebelumnya mesti antre tiket sehingga rawan terlibat praktik percaloan. Artinya secara ekonomi, teknologi digital setidaknya mampu mengikis high cost economy, akan tetapi belum mampu mengantikan “roh” mudik bagi masyarakat.

Penutup

Ekonomi selalu tumbuh di saat hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri, namun pasca lebaran ekonomi mulai meredup seperti suara Rebana, yang tercermin dari konsumsi masyarakat yang melandai. Diketahui pula saat ini ketidakpastian global sangat tinggi yang diikuti oleh melonjaknya harga BBM dunia. Kondisi ini bila berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang, dapat menyebabkan masyarakat menunda konsumsi, artinya di bulan-bulan depan perlu diwaspadai menurunnya konsumsi sebagai booster pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, gejolak harga BBM berpotensi mendorong inflasi yang tinggi sehingga dikhawatirkan terjadi stagflasi. Oleh karena itu, diperlukan bantalan ekonomi yang kuat dan menyentuh masyarakat rentan agar daya beli masyarakat tidak tergerus di tengah gejolak harga yang tinggi sehingga genderang ekonomi Rebana masih bisa teratur dan tidak sumbang seperti awal tulisan ini.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *