Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Cisolok: Kumpulan Warisan Megalitik Jawa Barat



Wilayah sekitar Cisolok, Sukabumi, adalah gudang dari benda-benda purbakala di Jawa Timur. Terutama warisan dari zaman Megalitikum.


Tangannya bersedekap di depan dada dengan wajah yang muram. Sekelilingnya pun suram dan seram, gelap karena dibayangi oleh lebatnya pepohonan. Ia adalah sebuah arca, terpekur diam seolah merenungi nasib.

Ciarca, situs di mana arca itu berada, sudah dikenal cukup lama. Bahkan seorang sarjana asing bernama van der Hoop telah mencatat dalam disertasinya tahun 1931. Lokasinya adalah di Desa Cikakak, Kecamatan Cisolok, Sukabumi (menurut data terbaru, saat ini Cikakak sudah menjadi kecamatan tersendiri di Kabupaten Sukabumi). Bagi yang senang “ngetrail” dengan kaki, lokasi ini cukup menyenangkan untuk dicapai. Tapi bagi mereka yang biasa manja, sebaiknya menyediakan tukang pijat khusus kalau berminat ke sini.

Arca ini menunjukkan ciri yang khas dan agak dominan di Jawa Barat, biasanya disebut arca tipe Polinesia (meskipun tidak ada hubungannya sama sekali dengan negeri jauh di Pasifik itu). Wujudnya berupa manusia setengah badan; dipahat sangat sederhana, sehingga agak lambat ditebak bentuk sesungguhnya.

Di sebelah kanan area itu masih ada lagi satu arca, tapi dengan ukuran lebih kecil dan kepala yang sudah lenyap, putus! Kakinya bersila dan tangan tersilang di dada. Dengan sekali sentakan arca kecil ini mudah terangkat, justru karena landasannya sudah putus pula.

Di belakang arca-arca itu tergeletak rubuh dua buah batu tegak yang dengan bahasa kerennya biasa disebut menhir. Beberapa menhir yang masih berdiri ada juga di sana, bahkan satu di antaranya besar dan tinggi hampir dua meter.

Seonggok batu berbentuk jambangan meminta perhatian. Bentuknya sangat halus, terbuat dari sejenis batu padas yang berupa kerikil (gravel).

Tempat ini sesungguhnya adalah kompleks dari peninggalan purbakala masa prasejarah, tepatnya peninggalan dari tradisi Megalitik.

Tradisi Pemujaan Arwah Nenek Moyang

Dalam sejarah kebudayaan kita mengenal suatu kurun waktu yang disebut prasejarah. Sistem kepercayaan mereka selalu dihubungkan dengan pemujaan kepada arwah nenek moyang. Mereka percaya, seseorang yang meninggal tidak lenyap begitu saja, tetapi masih mempengaruhi orang yang masih hidup, terutama pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Apalagi kalau orang yang mati itu seorang pemimpin. Pengaruhnya tentu sangat akbar.

Status seorang pemimpin tidak berubah setelah dia berpamit dari dunia. Dia tetap seorang pemimpin, hanya sekarang menjadi penghuni dunia lain. Sikap menghormati ini menjadi suatu kultus yang melahirkan konsepsi keagamaan, yaitu pemujaan arwah nenek moyang. Pemujaan itu memuncak dengan didirikannya monumen-monumen dari batu-batu besar (meskipun kenyataannya tidak selalu dari batu besar).

Dengan mendirikan monumen-monumen tersebut diharapkan roh nenek moyang bermurah hati memberikan rahmatnya bagi orang atau masyarakat yang mendirikan monumen itu. Sistem kepercayaan ini kemudian di kalangan ahli disebut tradisi Megalit atau Megalitikum (mega = besar, lithos = batu).

Desa Cikakak dan desa Cimaya, keduanya di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, merupakan gudang dari peninggalan tradisi Megalit Jawa Barat. Selain Ciarca, masih ada beberapa kompleks yang letaknya berjauhan dan hanya dapat dicapai dengan kaki melalui jalan setapak. Tempo dua hari barangkali cukup puas kalau sekedar melihat dan memotret-motret peninggalan made in nenek moyang itu.

Banungan Berundak

Di kampung Pangguyangan terkenal sebuah bangunan berundak yang berdenah segi empat. Penduduk setempat menyebutnya “Keramat Gentar Bumi”. Konon bangunan ini dahulu tempat kongkow-kongkow para wali penyebar agama Islam. Buat orang yang percaya, tempat ini dikeramatkan. Minta enteng jodoh, minta sembuh dari penyakit, bahkan minta nomor kode buntut, ke sanalah mereka mohonkan.

Bangunan induk dapat dicapai melalui jalan setapak yang terbagi dalam beberapa teras dengan menhir-menhir di kiri dan kanannya. Bangunan induk itu sendiri terdiri atas tujuh teras, dengan jalan kecil selebar semeter di sebelah barat yang merupakan jalan menuju ke atas bangunan. Di atas undakan bangunan tersusun batu-batu kecil membentuk empat persegi panjang dengan batu tegak di ujung-ujungnya. Bagian inilah agaknya yang menjadi pusat pemujaan. Jenis batuan yang dipakai adalah andesit, banyak tersebar di daerah ini.

Tugugede

Kira-kira 6 km di sebelah barat Pangguyangan, ada lagi sebuah kompleks Megalit di kampung Tugugede. Tugugede terletak di lereng bukit yang disebut Gunung Batu Lawang. Nama Tugugede itu sendiri berasal dari sebuah batu tegak yang sangat besar, yang sebenarnya adalah sebuah menhir. Di sekitarnya berserakan batu-batu besar dan kecil yang rupanya masih berhubungan dengan menhir tersebut.

Di sebelah selatan menhir raksasa ini masih ditemukan unsur-unsur Megalit yang lain. Sebuah batu besar dengan 10 buah lubang pada permukaannya yang datar terkapar di pinggir sebuah sawah. Bentuknya mirip dengan alat mainan anak-anak yang biasa disebut congklak atau dakon, tentu dengan ukuran yang lebih besar. Diduga batu dakon ini dipergunakan sebagai alat upacara khusus dalam tradisi pemujaan nenek moyang, yaitu tempat meletakkan sesaji.

Di Salakdatar, batu dakon serupa juga ditemui, tetapi dengan lubang yang hanya tujuh buah. Pahatannya sangat halus, dan hanya mungkin dengan penggunaan alat-alat yang sudah maju, tidak mustahil dengan alat-alat dari logam. Tradisi Megalit di Cisolok rupanya berasal dari masa yang lebih muda, yaitu masa di mana logam sebagai alat sudah dikenal.

Seperti di Ciarca, di Tugugede juga ditemukan dua buah jambangan batu. Orang-orang di Tugugede menamakannya “batu julang”, sebuah nama yang mungkin berasal dari salah satu jambangan batu tersebut yang didampingi oleh sebuah batu tegak menjulang. Pada dasar jambangan batu terdapat lubang yang tembus sampai ke bawah. Belum diketahui dengan pasti fungsi batu berbentuk jambangan itu. Mungkinkah tempat meletakkan mayat nenek moyang kita dulu?

Di kompleks Tugugede ini banyak berserakan bilah-bilah batu yang mungkin unsur dari sebuah bangunan yang sudah hancur. Pada satu sudut sekelompok monolit yang besar-besar disebut “batu gudang”. Jumlahnya yang segudang itulah menyebabkan dinamakan demikian. Dari gudang ini agaknya nenek moyang mengambil bahan untuk membuat monumen megalit.

Kompleks Menhir di Salakdatar

Selain batu dakon, di Salakdatar juga ditemukan kumpulan menhir yang tersusun seperti kuburan. Menhir — batu tegak yang kasar yang kadang-kadang tidak diolah sama sekali, tetapi ditancapkan dengan sengaja — adalah unsur Megalit yang paling dominan dan universal.

Di tengah sawah di Salakdatar berserakan banyak menhir. Selain itu, juga sebuah batu besar ini sepintas tampaknya bukan olahan manusia. Akan tetapi ia sesungguhnya masih berhubungan dengan tradisi pemujaan nenek moyang, kemungkinan dipergunakan sebagai tempat pertemuan atau upacara-upacara itu sendiri.

Tantangan

Hampir semua permasalahan yang dihadapi arkeologi tertumbuk pada fungsi peninggalan purbakala. Fungsi ini tidak dapat hanya dilihat dari bentuk benda saja, tapi juga harus dilihat dari unsur ruang (konteks temuan dengan unsur-unsur lain disekitarnya) dan unsur waktu. Ini memerlukan suatu ekskavasi (penggalian). Penelitian arkeologis di Cisolok sudah dimulai sedikit-sedikit.

Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P4N) – yang sekarang menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) – pada 1976 telah mengirim timnya, meskipun masih terbatas pada usaha deskripsi saja. Peninggalan tradisi Megalit di sana tentu berhubungan dengan pemujaan arwah nenek moyang. Tapi, bagaimanakah bentuk pemujaan itu sendiri, dan apa fungsi benda-benda itu sebenarnya?

Tentunya suatu tantangan bagi para ahli untuk terus meneliti daerah ini.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *