Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Jejak Rasa Kerajaan dalam Ayam Lodho Trenggalek

Ayam Lodho, Kuliner Legendaris yang Menyedapkan Hati dan Lidah

Kabupaten Trenggalek tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki panorama alam indah, tetapi juga kaya akan kuliner khas yang patut dicoba. Salah satu hidangan yang menjadi andalan adalah Ayam Lodho, makanan legendaris yang berasal dari Trenggalek dan Tulungagung. Makanan ini menawarkan cita rasa unik yang sulit ditemukan pada olahan ayam lainnya.

Ayam Lodho terdiri dari ayam kampung yang dibakar dengan cara khusus, kemudian dimasak dalam kuah santan berbumbu rempah. Hidangan ini disajikan bersama nasi gurih dan urap-urap, menciptakan keselarasan rasa yang sempurna. Proses pengolahan Ayam Lodho membutuhkan waktu lebih dari satu jam, dengan tahap pembakaran menjadi bagian paling penting karena menentukan cita rasa akhir.

Salah satu rumah makan spesialis Ayam Lodho yang masih mempertahankan resep tradisional adalah Rumah Makan (RM) Ayam Lodho Pak Yusuf. Lokasinya berada di Jalan Nasional Trenggalek-Tulungagung, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. RM ini berdiri sejak tahun 1987 dan kini dikelola oleh putra pendirinya, Ayub Nualak.

Menurut Ayub, kelezatan Ayam Lodho terletak pada proses pengolahan yang berbeda dari kebanyakan olahan ayam lainnya. Ia menjelaskan bahwa ayam kampung terlebih dahulu dibersihkan dan diolah dalam bentuk ingkung, lalu dibakar langsung di atas bara arang sebelum dimasak dengan bumbu santan rempah. “Perbedaan utama lodho kami adalah ayamnya dibakar, bukan diasap. Posisi ayam hanya sekitar lima sentimeter di atas bara arang yang membara, sehingga daging benar-benar terkena panas api. Dari situlah muncul rasa gurih dan aroma khas yang tidak bisa didapat dari proses pengasapan,” jelas Ayub.

Ciri khas lain Ayam Lodho terlihat dari cara penyajiannya yang tetap mengikuti tradisi leluhur. Dalam satu paket, Ayam Lodho selalu disajikan bersama nasi gurih dan urap-urap. “Dari zaman mbah buyut kami, lodho itu tidak boleh dipisahkan dari nasi gurih dan urap-urap. Dulu makanan ini disajikan untuk selamatan atau bancaan,” ujarnya.

Awalnya, keluarga Pak Yusuf tidak langsung menjual Ayam Lodho. Mereka lebih dulu menjual olahan ayam berbumbu yang dibungkus daun seperti botok. Namun, sang pendiri memiliki gagasan memperkenalkan makanan tradisional khas daerah agar lebih dikenal masyarakat luas. Pada masa itu, Ayam Lodho dianggap makanan sakral yang kurang lazim diperjualbelikan karena identik dengan acara selamatan atau mengirim doa kepada saudara yang sudah meninggal dunia.

Meski demikian, keputusan untuk mengomersialkan lodho justru mendapat sambutan positif masyarakat. Seiring waktu, usaha tersebut berkembang pesat berkat konsistensi menjaga kualitas bahan baku, mulai dari penggunaan ayam kampung pilihan hingga pemilihan bumbu segar yang diolah secara mandiri.

Ayub juga menuturkan, berdasarkan penelusuran sejumlah mahasiswa, istilah lodho disebut telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam sebuah literatur kuno, hidangan lodho disebut sebagai sajian mewah yang dihidangkan kepada tamu kerajaan. Seiring perkembangan zaman, makanan ini kemudian menjadi bagian dari tradisi masyarakat, mulai dari bancaan, selamatan, hingga ritual keagamaan, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai kuliner khas daerah.

“Kami termasuk yang pertama mengomersialkan ayam lodho. Alhamdulillah sekarang lodho sudah dikenal luas dan menjadi sumber rezeki banyak orang,” katanya.

Kini, Ayam Lodho tidak hanya populer di Trenggalek dan Tulungagung, tetapi juga dikenal hingga berbagai kota besar, termasuk Jakarta. Kedua daerah tersebut bahkan dianggap sebagai pusat perkembangan kuliner lodho karena banyaknya pelaku usaha yang menjual menu serupa.

Meski demikian, Ayub mengakui tantangan usaha kuliner lebih banyak dipengaruhi tingkat mobilitas masyarakat. Menurutnya, ramainya usaha kuliner sangat bergantung pada aktivitas dan pergerakan orang. “Kalau mobilitas masyarakat tinggi, kuliner pasti ramai. Tapi ketika mobilitas menurun, usaha kuliner juga ikut terdampak,” pungkasnya.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *