Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Pesan Ramadan yang Menginspirasi

Ramadan, Pelajaran Hukum dan Hikmah yang Menjadi Bekal Kehidupan

Dalam perjalanan waktu, bulan suci Ramadan selalu menjadi momen penting bagi umat Islam. Di dalamnya terkandung berbagai pelajaran hukum, hikmah, faedah, dan fadilah yang bisa dijadikan bekal untuk mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika dibandingkan dengan sebuah lembaga pendidikan, Ramadan memiliki karakteristik unik. Selama lebih kurang 12 jam dalam satu bulan penuh, mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, segala sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadan menjadi haram.

Selama kita melawan cobaan di Ramadan, tentunya kita berharap bisa menerapkan aspek sosialnya. Namun, sering kali pertanyaan muncul: setelah semua cobaan yang kita lewati, pernahkah kita memperhatikan aspek sosial Ramadan tersebut? Semua orang pernah merasa kenyang, tetapi tidak semuanya pernah merasakan lapar. Dari situ, kita bisa belajar untuk lebih peka terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu.

Lihatlah diri kita sendiri. Bukankah sering kali kita merasa paling besar, jemawa seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk di hadapan kita? Kita berlagak seolah kita adalah Tuhan yang kuasa atas segala keadaan. Tidakkah kita sadar bahwa kita sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat-sangat lemah? Maka kepada siapa lagi kita berharap selain kepada Allah Swt yang telah menciptakan kita dan dengan kasih sayang-Nya kita diberi kesempatan menikmati hidup di dunia ini.

Maka apa sesungguhnya yang menahan kaki kita tidak mau melangkah ke masjid? Apakah yang menahan kepala kita sehingga tidak mau menunduk ke tanah bersujud di hadapan Allah? Apakah yang menahan lidah kita sehingga kaku dan kelu mengucapkan zikir dan takbir? Apakah yang menahan hati kita sehingga sulit merindukan Allah? Apakah yang menahan pikiran kita sehingga tidak mendambakan surga? Apakah yang mendorong jiwa kita sehingga cenderung ke neraka? Apakah yang menahan diri kita sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu padahal hawa nafsu itu mendorong kepada kejelekan?

Sudah sepantasnya kita bersyukur dan berbahagia karena hingga saat ini kita dimudahkan oleh Allah untuk bersujud, rukuk, di hadapan-Nya. Janganlah karena perilaku kita yang menentang Allah menjadikan Allah makin murka kepada kita. Janganlah karena kesombongan dan kebodohan kita menjadi sebab terhalangnya kita dari jalan surga dan menghalangi kita mendekati Allah Swt.

Tiga Pesan Ramadan yang Harus Dijaga

Setelah Ramadan berlalu, kita perlu menyimpan tiga pesan utama yang bisa menjadi pedoman hidup:

  1. Pesan Moral atau Tahdzibun Nafsi

    Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: “Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri.” Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan, yakni naluri marah, naluri pengetahuan, dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri syahwat.

  2. Pesan Sosial

    Pesan sosial Ramadan ini terlukiskan dengan indah. Indah di sini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadan dan gerbang menuju bulan Syawal. Di mana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fitrah kepada ashnafuts tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan.

  3. Pesan Jihad

    Jihad yang dimaksud di sini bukan dalam pengertian sempit, yakni berperang di jalan Allah, akan tetapi dalam pengertian utuh, yaitu mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya. Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, ataupun jiwa kita untuk mencapai keridaan dari Allah, terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar.

Kesimpulan

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain, menjalin hubungan silaturahmi serta kerja sama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan, dan sejahtera.


Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *