Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Warisan Ratu Kalinyamat untuk Suami Tercinta

Sejarah dan Keunikan Masjid Astana Sultan Hadlirin di Jepara

Masjid Astana Sultan Hadlirin, yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi. Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak hampir lima abad lalu, sehingga menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah wilayah Jepara.

Masjid ini memiliki nama resmi yaitu Masjid Astana Sultan Hadlirin, namun dalam masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan Masjid Mantingan. Selain itu, masjid ini juga memiliki status sebagai cagar budaya nasional, yang menunjukkan pentingnya keberadaannya dalam konteks sejarah dan budaya Indonesia.

Menurut cerita turun-temurun, Masjid Astana Sultan Hadlirin konon dibangun sebagai hadiah dari Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono kepada mendiang suaminya, Sultan Hadlirin atau Raden Toyib. Nama masjid tersebut kemudian diambil dari nama sang suami, Sultan Hadlirin, yang merupakan pangeran dari Aceh. Masjid ini menjadi bagian dari peninggalan Ratu Kalinyamat saat memimpin Kabupaten Jepara.

Pembangunan masjid dilakukan pada sekitar tahun 1559. Hingga kini, masjid ini masih berdiri kokoh dan digunakan sebagai tempat kajian serta ibadah umat Islam. Letaknya berada di sebuah kompleks yang dikelilingi oleh pagar tembok dari batu bata khas peninggalan zaman Hindu-Budha. Di dalam kompleks tersebut, terdapat makam-makam tokoh penting seperti Makam Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, anak angkatnya, dan beberapa tokoh lainnya dari era kepemimpinan Ratu Kalinyamat.

Kompleks masjid terletak lebih tinggi dari jalan raya, yang mencerminkan posisinya sebagai tempat yang lebih privat, mirip dengan singgasana kerajaan. Dari halaman utama, bangunan masjid juga terlihat lebih tinggi. Untuk bisa memasuki bangunan utama masjid, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga yang menghubungkan halaman dengan bangunan utama.

Terdapat tiga pintu utama yang terbuat dari kayu jati sebagai akses masuk ke dalam masjid. Di dalamnya, terdapat empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati dan dipercaya masih asli sejak masjid dibangun. Selain itu, mimbar masjid juga masih asli dari masa pembangunan awal, meskipun tempat tongkatnya pada mimbar sudah diganti.

Pengembangan masjid dilakukan secara bertahap, mulai dari pemasangan plafon, pembangunan serambi, pemasangan keramik, hingga pembangunan bangunan penunjang di sisi kanan. Semua pembangunan dilakukan tanpa mengubah struktur asli bangunan utama masjid.

Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Dr Achmat Slamet (68), menjelaskan bahwa Masjid Mantingan konon dibangun dua kali. Tiga tokoh utama dalam pembangunan masjid adalah Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, dan Tjie Hwie Gwan atau Pangeran Sungging Badar Duwung sebagai arsitek.

Menurut dia, pembangunan pertama diketahui dilakukan sebelum tahun 1559 oleh tiga tokoh tersebut. Mayoritas material pembangunan masjid dibawa dari China, tempat pertemuan Sultan Hadlirin dengan Tjie Hwie Gwan yang kemudian menjadi ayah angkat Sultan Hadlirin. Beberapa material yang dibawa dari China termasuk batu ukir bermotif relief sebagai hiasan bangunan dan kayu-kayu jati sebagai struktur utama bangunan.

Setelah bangunan masjid pertama berdiri, banyak cerita menyebutkan bahwa bangunan tersebut diminta oleh seorang tokoh agama atau ulama di Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Bangunan masjid tersebut diceritakan dibawa secara utuh ke Sendangduwur.

Selanjutnya, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Sungging Badar Duwung yang saat itu menjabat sebagai patih, membangun kembali masjid di Mantingan dengan konsep serupa. Bahkan beberapa bahan utama pendirian masjid juga didatangkan kembali dari China.

Hingga terbangunlah masjid sejarah yang kini menjadi warisan budaya dan menjadi cagar budaya nasional. Menurut cerita dan kesepakatan pengurus, ada dua kisah tentang pembangunan masjid ini. Bangunan pertama dibawa ke Sendangduwur, sedangkan bangunan kedua dibangun di Mantingan.

Pengurus masjid juga telah melakukan pemeriksaan terhadap bangunan masjid di Sendangduwur, dan kondisinya tidak terawat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pelestarian dan perlindungan terhadap bangunan-bangunan sejarah seperti Masjid Astana Sultan Hadlirin.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *