Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Sambut Nyepi, Umat Hindu Jombang Bersihkan Diri di Upacara Melasti di Lereng Gunung Anjasmoro

Upacara Melasti di Jombang: Ritual Penyucian dan Harmoni dalam Keberagaman

Di pagi yang cerah, kabut tipis menggantung di sekitar Dusun Tegalrejo, Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Udara sejuk dan suasana alam yang tenang menciptakan kesan damai yang khas. Di tengah lingkungan tersebut, ratusan umat Hindu berjalan beriringan membawa sesaji, payung upacara, serta benda-benda sakral dari pura menuju sumber mata air yang diyakini memiliki kesucian.

Sabtu (14/3/2026) pagi menjadi momen penting bagi umat Hindu di Jombang untuk melaksanakan Upacara Melasti, salah satu rangkaian ritual menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Prosesi dimulai dari Pura Giri Anjasmara, di mana para umat memulai perjalanan dengan langkah perlahan membawa perlengkapan upacara menuju lokasi sumber air.

Lantunan doa dan suasana khidmat menyertai perjalanan mereka menyusuri jalan desa hingga tiba di lokasi yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Di tempat itu, rangkaian Melasti dilaksanakan. Air dari sumber mata air diambil sebagai tirta suci, lalu digunakan dalam prosesi persembahyangan bersama. Setelah itu, berbagai sesaji berupa hasil bumi dilarung ke aliran sungai sebagai simbol persembahan kepada Sang Hyang Widhi.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jombang, Juwadi, menjelaskan bahwa Melasti merupakan ritual penyucian yang memiliki makna mendalam bagi umat Hindu. “Melasti adalah upacara untuk membersihkan diri dari pikiran dan perilaku buruk atau karma negatif, agar manusia kembali suci menjelang Nyepi,” ucapnya saat dikonfirmasi setelah prosesi ritual usai.

Ia menuturkan, dalam tradisi Hindu, Melasti biasanya dilakukan di laut. Namun bagi umat Hindu di Jombang yang berada jauh dari pesisir, sumber mata air menjadi tempat alternatif yang tetap memiliki nilai kesucian. Air yang mengalir dari sumber tersebut diyakini secara spiritual tetap terhubung dengan kekuatan air suci, yang dalam ajaran Hindu dilambangkan oleh Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Wisnu.

Selain prosesi penyucian, umat Hindu juga membawa berbagai hasil bumi sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan. Buah-buahan, bunga, hingga aneka sesaji ditata rapi sebagai bagian dari persembahan.

Tahun ini, perayaan Nyepi mengangkat tema ‘Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju’, yang bermakna bahwa seluruh manusia di dunia adalah satu keluarga. Menurut Juwadi, tema tersebut sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. “Semua ciptaan Tuhan adalah saudara. Karena itu kita diajarkan untuk hidup rukun dan menjaga keharmonisan,” katanya melanjutkan.

Perayaan Nyepi tahun ini juga terasa istimewa karena waktunya berpotensi berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam. Bagi masyarakat Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri, situasi ini justru menjadi momentum untuk memperkuat nilai toleransi antar umat beragama. Juwadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan serta tokoh masyarakat terkait kemungkinan bersamaan antara malam takbiran Idul Fitri dan pelaksanaan Catur Brata Penyepian. “Kita sepakat saling menghormati. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, sementara saudara Muslim tetap melaksanakan malam takbiran,” ungkapnya.

Di Kabupaten Jombang sendiri, jumlah umat Hindu relatif kecil. Berdasarkan data PHDI setempat, jumlahnya sekitar 900 orang yang tersebar di sejumlah kecamatan seperti Wonosalam, Bareng, Ngoro, dan Jombang Kota. Sebagian dari mereka merupakan warga asal Bali yang telah lama menetap di daerah tersebut.

Meski minoritas, kehidupan keagamaan umat Hindu di Jombang tetap berjalan aktif. Saat ini terdapat sekitar delapan pura yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan aktivitas keagamaan mereka. Melalui ritual Melasti yang berlangsung khidmat di lereng Anjasmoro itu, umat Hindu Jombang tidak hanya menjalankan tradisi leluhur, tetapi juga merawat harmoni dengan alam dan masyarakat sekitar sebuah nilai yang terus dijaga di tengah keberagaman Kota Santri.

“Tradisi leluhur harus tetap dijalankan. Selain itu, merawat alam dan menjaga harmoni dengan masyarakat sekitar menjadi nilai bagi kehidupan kami dan akan terus dilestarikan,” pungkas Juwadi.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *