Antrean Panjang di SPBU Banda Aceh dan Bener Meriah
Puluhan kendaraan roda empat memadati sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Banda Aceh, Kamis (5/2/2026), menyebabkan antrean panjang hingga ke badan jalan. Kondisi ini membuat arus lalu lintas tersendat. Di wilayah Bener Meriah, warga terpaksa membeli BBM eceran dengan harga melambung hingga Rp 30.000 per liter.
Antrean yang Mengganggu Arus Lalu Lintas
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa antrean di SPBU didominasi oleh kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan angkutan penumpang. Barisan kendaraan tampak mengular hingga ke badan jalan dengan jarak yang cukup panjang. Sementara itu, kendaraan roda dua juga terlihat mengantre, namun masih berada di dalam pekarangan SPBU dan tidak sampai meluber ke jalan raya.
Kondisi tersebut terlihat di antaranya di SPBU kawasan Kampung Mulia dan Lamdingin, Banda Aceh. Khusus di SPBU Kampung Mulia, antrean kendaraan bahkan memakan sebagian badan jalan sehingga arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat. Beberapa pengendara yang melintas terpaksa memperlambat laju kendaraan untuk menghindari kemacetan.
Sejumlah warga mengaku harus menunggu hampir satu jam untuk mendapatkan BBM. Mereka memilih tetap mengantre karena khawatir stok BBM terbatas jika kembali lagi pada waktu yang berbeda. “Sudah hampir satu jam kami menunggu. Biasanya tidak sepanjang ini antreannya,” ujar seorang pengendara yang ditemui di lokasi.
Meski demikian, proses pengisian BBM tetap berlangsung normal dan tidak terlihat adanya penghentian layanan. Retail Pertamina Aceh, Misbah, mengatakan bahwa stok BBM di Aceh saat ini aman. Namun, ketika ditanya informasi lebih lanjut perihal adanya penumpukan kendaraan di SPBU, ia mengatakan bahwa informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh pihak Tim Commrel Pertamina.
Harga BBM Eceran Melonjak di Bener Meriah
Tidak hanya di Banda Aceh, antrean kendaraan yang hendak mengisi BBM juga terjadi di Bener Meriah. Jika malas mengantre, warga harus membeli BBM eceran di pinggir jalan yang dijual dengan harga selangit, mencapai Rp 30.000 per liter di tengah kemunculan penjual dadakan di sepanjang jalan protokol kabupaten tersebut, Kamis (5/3/2026).
Informasi yang dihimpun dari wilayah Kecamatan Bandar menunjukkan bahwa BBM jenis Pertalite dan Pertamax dilaporkan dijual dengan kisaran harga Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per liter. Harga tersebut naik lebih dari dua kali lipat dari harga normal di tingkat pengecer yang biasanya berada di bawah Rp 15.000 per liter. Kondisi ini diperparah dengan tutupnya sejumlah kios pengecer yang memicu kesulitan warga dalam mendapatkan akses bahan bakar dengan harga wajar.
Salah seorang warga, Iwan Tona, mengaku terpaksa membeli BBM dengan harga tinggi tersebut demi menghindari antrean kendaraan di SPBU maupun Pertashop yang kini dilaporkan mengular hingga lebih dari satu kilometer.
Warga pun mendesak pihak berwenang untuk segera melakukan kontrol harga di lapangan guna mencegah terjadinya aksi spekulasi dan panic buying yang berkepanjangan. Di lain sisi, untuk wilayah Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, harga BBM jenis pertamax di tingkat pedagang eceran dijual Rp 17.000 per liter.
Dedi Safrizal, salah seorang pembeli, mengungkap bahwa meski harga melonjak, warga tetap berbondong-bondong membeli demi menghindari antrean bila mengisi di SPBU.
“Tadi saya ada beli 10 liter harganya Rp 17.000/liter, mau gimana lagi di SPBU tidak sanggup kita mengantre, minyak kereta pun sudah habis ini,” ujarnya. Namun demikian, ia mempertanyakan bagaimana para pengecer dadakan ini bisa mendapatkan BBM dalam jumlah besar di tengah kondisi warga harus mengantre berjam-jam di sejumlah SPBU.
“Heran juga sih kita, dalam dua hari ini kita pantau warga beli minyak buat sepeda motor saja harus antre berjam-jam. Tapi pedagang eceran bisa dapat ratusan liter. Ini yang jadi pertanyaan, jangan-jangan ada permainan,” cetusnya.
Tanggapan dari Pihak Berwenang
Sementara menanggapi situasi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Bener Meriah, Rahmayanti, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Rahmayanti menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh pengelola SPBU di Kabupaten Bener Meriah untuk memastikan ketersediaan stok BBM dalam posisi aman.











