Acara Salat Tarawih Keliling di Gedung Berlian DPRD Jawa Tengah
Kumandang azan isya menandai kedatangan ratusan umat Islam yang memadati lobi Gedung Berlian DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (2/3/2026) malam. Mereka hadir untuk mengikuti salat tarawih keliling (tarling) yang diselenggarakan oleh Badan Amal Islam (BAI) bersama DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Acara tarling pada puasa hari ke-12 Ramadan tersebut dilaksanakan di gedung rakyat dengan tema “Pelajaran Berdisiplin dari Berpuasa”. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Ketua DPRD Jateng, Sarif Abdillah; Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir; Kepala Jasmani Kodam IV/Diponegoro, Kolonel Arm Suharyanto; dan Kasi Polhankam Kejaksaan Negeri Jawa Tengah, Toni Sudjarwo.
Para tamu dan jemaah tarling tampak khusyuk melakukan salat isya dilanjutkan tarawih yang dipimpin imam dari Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Multazam Ahmad. Acara ditutup dengan ceramah atau kuliah tujuh menit (kultum) dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir.
Pentingnya Persatuan dalam Kondisi Global yang Tidak Stabil
Setelah acara tarling, Wakil Ketua DPRD Jateng, Sarif Abdillah, menyampaikan pesan penting tentang persatuan bangsa di tengah kondisi global yang sedang tidak stabil. Ia menyebutkan perang Iran vs Amerika dan Israel sebagai contoh situasi yang memperlihatkan ketidakstabilan dunia saat ini.
Sarif meyakini bahwa meskipun situasi dunia tidak baik-baik saja, NKRI masih akan terus eksis selama bangsa ini bersatu antara rakyat dan pemerintah. Rasa persatuan itu harus dibarengi dengan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan.
“Selama ada keyakinan dari rakyat dan pemerintah bahwa bangsa ini layak perjuangkan, selama itu pula bangsa ini tetap jaya, tangguh menghadapi ujian apapun,” katanya.
Ia melanjutkan, untuk mewujudkan hal tersebut perlu menjaga stabilitas negara dan bangsa dengan mengedepankan kepentingan rakyat. Selain itu, semua pihak harus menjunjung semangat persatuan. Hanya dengan bersatu maka tantangan atau ujian apapun akan bisa dilalui dengan baik.
“Selama kita damai, aman, stabil, insyaallah mau ibadah apapun, mau bekerja maupun beraktivitas, insyaallah keberkahan ada di sana,” tambahnya.
Ajakan untuk Mengedepankan Spiritualitas
Dari kondisi ini, Sarif mengajak warga Jawa Tengah agar tetap mengedepankan segi spiritualitas, terlebih di tengah bulan Ramadan ini. Ia mengingatkan semangat peradaban yang dibangun dari satu spirit berupa Ruhul Ilahiyah, Roh Ketuhanan. Artinya, semua yang lain di dunia ini adalah pernik kemanusiaan saja.
“Jadi kita berdoa kepada Allah SWT, Semoga bangsa kita ini bisa selamat dan aman. Kemudian untuk sahabat kita bangsa-bangsa muslim bisa meredakan ketegangannya agar semua bisa berdamai kembali,” ujarnya.
Pelajaran Disiplin dari Puasa
Selain pesan persatuan, Sarif juga menyampaikan pesan soal semangat disiplin yang terselip dalam pesan Ramadan. Ia mengatakan, disiplin adalah bagian dari tradisi umat Islam. Terutama saat Ramadan, semua hal yang dijalani berupa ilmu disiplin.
Hal itu mulai dari bangun pagi untuk sahur, disiplin menjaga mata hati dan perilaku dari pagi hingga berbuka puasa. Tak sampai di situ, disiplin terus diajarkan dari rutinitas shalat tarawih hingga kembali melakukan sahur.
“Jadi disiplin adalah satu etos, spirit, dan cara pandang hidup yang kita lakukan berpegang pada prinsip Al-Istiqomatu khoirun min alfi karomah, atau Istiqomah (disiplin) lebih baik daripada seribu karomah (mukjizat),” katanya.
Disiplin sebagai Dasar Kehidupan
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, mengatakan, pelajaran berdisiplin dari puasa bisa dilakukan dari menahan diri yang merupakan bagian dari belajar disiplin. Belajar disiplin menahan diri untuk tidak makan pada waktu tertentu dan juga menahan diri dari pandangan mata, perasaan, pikiran.
“Bagaimana semuanya diarahkan ke yang positif. Semua butuh latihan dan puasa melatih kita untuk melakukan hal tersebut,” tambahnya.
Tafsir menambahkan, pelajaran disiplin selama Ramadan ini mudah-mudahan memberikan pelajaran supaya setelah puasa ini para umat Islam menjadi pribadi yang lebih bisa berdisiplin. Sikap disiplin ini lebih jauh bisa diterapkan dalam disiplin bernegara.
“Maka itu disiplin menjadi kata kunci untuk banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik itu pribadi, keluarga, sosial, politik dan bernegara, Semuanya butuh kedisiplinan,” tegasnya.











