Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Pempek Panggang Legendaris Curup, Rindu yang Tak Pernah Hilang sejak 1983

Sejarah Pempek Panggang Legendaris Curup

Pempek panggang legendaris Curup telah bertahan selama lebih dari 40 tahun, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga dan para perantau. Dari mulai berjualan di gerobak sederhana hingga menetap di lokasi strategis, rasa yang konsisten menjadi kunci keberhasilannya.

Dirintis dari Gerobak Sederhana Sejak 1983

Pempek Panggang Legend ini pertama kali dirintis pada tahun 1983 di kawasan Setia Negara, Curup. Saat itu, pempek panggang ini dijajakan menggunakan gerobak sederhana di sekitar Lapangan Setia Negara, Curup. Eka, salah satu anak perintis Pempek Panggang Legend, mengungkapkan bahwa awalnya harga pempek hanya Rp 50 per buah. “Dulu pertama kali jualan tahun 1983. Harganya masih Rp 50 per-satunya. Jualannya di sekitar Lapangan Setia Negara,” katanya.

Seiring waktu, usaha ini dilanjutkan oleh 4 anak almarhum pendirinya. Salah satunya adalah Eka, yang mulai berjualan sejak tahun 2004. Meski lokasi berjualan sempat berpindah-pindah, cita rasa asli tetap dijaga. Resep adonan dan racikan khas warisan orang tua tersebut tetap dipertahankan oleh keempat anaknya. Akhirnya, usaha ini menetap di Jalan Kartini, tepat di depan Masjid Al Jihad.

Bertahan Lewat Konsistensi Rasa

Dengan harga Rp 1.500 per buah, pempek panggang ini tergolong ramah di kantong. Dalam kondisi normal, Eka mengaku mampu menjual hingga 800 potong pempek per hari. “Kalau momen tertentu seperti Lebaran atau Tahun Baru, paling banyak bisa sampai 1.500 potong sehari,” ungkapnya. Pada bulan Ramadan, usaha ini tetap beroperasi dengan menyesuaikan waktu pembeli yang mencari takjil untuk berbuka puasa. Jumlah pembeli pun disebut tidak mengalami penurunan.

Menjelang waktu berbuka, kawasan ini selalu ramai oleh pembeli yang rela mengantre demi menikmati pempek panggang dalam kondisi masih panas. Eka menyatakan bahwa tantangan terberat justru terjadi pada masa awal memperkenalkan pempek panggang kepada masyarakat. Namun, konsistensi rasa membuat usaha ini mampu bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Dari Curup ke Bengkulu, hingga Jadi Oleh-oleh

Kini, pempek panggang tersebut tidak hanya dikenal di Curup. Usaha ini telah membuka cabang di Kota Bengkulu dan menerima pesanan untuk berbagai acara. Pempek panggang ini juga kerap menjadi oleh-oleh khas yang dibawa para perantau saat kembali ke daerah masing-masing. “Sering juga, biasanya kalau untuk oleh-oleh itu setengah matang dibuatnya,” ungkap Eka.

Beberapa figur publik juga diketahui pernah mencicipi jajanan ini, termasuk artis muda asal Curup, Rey Bong, serta artis Nikita Mirzani.

Obat Rindu bagi Para Perantau

Bagi banyak perantau, pempek panggang ini menjadi daftar pertama yang dicari saat tiba di Curup. Septiani, mahasiswi yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta, mengaku selalu menyempatkan diri membeli pempek panggang setiap pulang kampung. “Saya sudah suka sejak SMP. Rasanya khas dan belum tergantikan. Kalau lagi di Jogja, salah satu wishlist saat pulang ya pempek panggang ini,” ujarnya.

Razik, pembeli lainnya, juga menyampaikan bahwa rasa pempek panggang Curup memiliki ciri khas yang sulit ditemukan di daerah lain. “Pedasnya itu pas. Ada khasnya, beda dari yang lain,” katanya.

Ikon Kuliner di Titik Strategis Kota

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Curup, mencicipi pempek panggang ini menjadi pengalaman kuliner yang mudah dijangkau. Lokasinya berada di sekitar Lapangan Setia Negara, dekat Masjid Al Jihad, hingga kawasan Tebing STM. Di tengah perkembangan kuliner modern, Pempek Panggang Legendaris Curup tetap bertahan dengan konsep sederhana. Tanpa kemasan mewah dan tanpa promosi berlebihan. Yang dijaga hanya satu hal: rasa.

Dan selama 43 tahun, rasa itulah yang membuat pempek panggang ini tetap hidup di hati warga Curup dan para perantau yang selalu ingin kembali.




Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *