Prediksi Kenaikan Harga Emas Akibat Ketegangan Geopolitik
Harga emas atau logam mulia diprediksi akan terus mengalami kenaikan setelah Israel secara mendadak melancarkan serangan terhadap Iran. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa harga emas akan meningkat dan berpotensi mencapai level Rp 3,4 juta per gram.
Pada hari Sabtu (28/2/2026), harga emas dunia ditutup di level 5.280 dolar AS per troy ons. Sementara itu, harga logam mulia berada di posisi Rp 3,085 juta per gram. Menurut analisis Ibrahim, jika harga emas dunia mengalami penurunan, penurunannya relatif tipis, yaitu sekitar 5.200—5.260 dolar AS per troy ons. Jika harga logam mulia turun, maka akan bergerak ke posisi Rp 3 juta—Rp 3,045 juta per gram.
Namun, menurut Ibrahim, ada kemungkinan besar harga emas akan melonjak pada pekan depan. Untuk resisten pertama, harga emas dunia diperkirakan mencapai 5.365 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia pada Senin akan berada di Rp 3,15 juta per gram. Ini disebut sebagai prediksi yang cukup fantastis.
Dalam satu minggu hingga Sabtu pagi, kemungkinan besar harga emas dunia akan ditutup di level 5.500 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia akan mencapai Rp 3,4 juta per gram.

Asap membubung di langit setelah ledakan terdengar di Manama, Bahrain, 28 Februari 2026. Ledakan itu diduga akibat serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel. – ( REUTERS/Stringer)
Ibrahim menjelaskan bahwa proyeksi kenaikan harga emas dipicu oleh sejumlah faktor, terutama persoalan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Terbaru, Israel bersama Amerika Serikat melakukan penyerangan ke Iran, sehingga menciptakan tensi geopolitik yang makin panas.

Kenaikan harga emas dalam satu tahun terakhir menjadi yang terpesat dalam sejarah. – (Tim Infografis)
Tiga Sentimen Lainnya yang Mendorong Kenaikan Harga Emas
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menyebut terdapat tiga sentimen lain yang berpotensi mendorong kenaikan harga emas pada pekan depan, yakni dinamika perang dagang Amerika Serikat, kebijakan Bank Sentral AS, serta persoalan permintaan dan pasokan.
Terkait perang dagang, Mahkamah Agung AS menyatakan kebijakan perang dagang yang diterapkan Presiden Trump dinilai ilegal karena menggunakan Undang-Undang Darurat. Namun, Trump tetap memberlakukan bea impor sebesar 10 persen yang kemudian dinaikkan menjadi 15 persen.
Perang dagang ini kemungkinan besar akan cukup panas karena negara-negara yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan AS bisa saja melakukan penyesuaian kebijakan di dalam negeri masing-masing.
Mengenai kebijakan Bank Sentral AS, Ibrahim menyebut berdasarkan berbagai testimoni sejumlah gubernur bank sentral, terdapat peluang pemangkasan suku bunga hingga Juni mendatang. Meskipun banyak gubernur bank sentral melihat indikasi inflasi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tidak sesuai ekspektasi. Hal ini mengindikasikan kemungkinan Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga dua kali pada tahun ini.
Terakhir, dari sisi permintaan dan pasokan, Ibrahim menuturkan hingga saat ini Bank Sentral AS terus mengalihkan cadangan devisa dari dolar AS ke emas. Di sisi lain, sebanyak 80 perusahaan tambang dunia yang mengelola emas dan tembaga diperkirakan akan mengalami penipisan bahan baku pada 2028. Hal ini yang akan mengangkat sentimen positif terhadap harga emas dunia maupun logam mulia.

Karyawan menunjukkan logam mulia Galeri 24 Pegadaian di Galeri 24 Salemba, Jakarta, Jumat (31/10/2025). – (/Prayogi)
Pembelian oleh Bank Sentral Global
Sementara itu, Kementerian Perdagangan menyebut penguatan harga patokan ekspor (HPE) emas pada periode pertama Maret 2026 didorong pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah dinamika ekonomi. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan, HPE emas meningkat dari 159.475,43 dolar AS per kilogram menjadi 161.568,53 dolar AS per kilogram. Harga referensi (HR) emas juga naik dari 4.960,24 dolar AS per troy ounce (t oz) menjadi 5.025,35 dolar AS per troy ounce.
“Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven serta pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dunia,” ujar Tommy dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Sementara itu, HPE konsentrat tembaga (Cu ≥ 15 persen) untuk periode pertama Maret 2026 sebesar 6.684,18 dolar AS per Wet Metric Ton (WMT). Nilai tersebut turun 0,12 persen dibandingkan periode kedua Februari 2026 yang tercatat sebesar 6.692,35 dolar AS per WMT.
Tommy menyampaikan, penurunan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan penguatan dolar AS di tengah fase konsolidasi harga tembaga global.
Selama periode pengumpulan data, harga tembaga London Metal Exchange (LME) sempat menembus 13.000 dolar AS per ton dan mencapai sekitar 13.300 dolar AS per ton pada 11 Februari, sebelum terkoreksi ke kisaran 12.500-12.700 dolar AS per ton dan kembali bergerak mendekati 13.200 dolar AS per ton pada akhir Februari 2026.
“Dalam rentang penghitungan tersebut, harga tembaga (Cu) turun 1,44 persen dan perak turun 15,09 persen, sementara emas (Au) naik 1,31 persen,” kata Tommy.
Ketentuan tersebut ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 375 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar tertanggal 27 Februari 2026, yang berlaku untuk periode 1-14 Maret 2026.
Penetapan HPE dan HR didasarkan pada masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengacu pada harga pasar internasional. Harga tembaga merujuk pada LME, sedangkan emas dan perak mengacu pada London Bullion Market Association (LBMA).
Proses penetapan turut melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











