Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Jadwal Azan Magrib Ramadan 2026 di Jakarta dan Sekitarnya, 21 Februari 2026

Jadwal Imsakiyah dan Sholat Selama Ramadan 1447 Hijriah di Jakarta

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama telah merilis jadwal imsakiyah di seluruh kota di Indonesia. Berikut adalah jadwal sholat lima waktu dan azan magrib selama Ramadhan 1447 Hijriah, khususnya untuk Jakarta dan sekitarnya.

Berdasarkan hasil sidang isbat, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Berikut ini adalah jadwal imsakiyah, sholat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya untuk Kota Jakarta:

Tanggal Imsak Subuh Zuhur Ashar Magrib Isya
Sabtu, 21 Februari 04.32 04.42 12.10 15.19 18.17 19.27
Minggu, 22 Februari 04.32 04.42 12.10 15.18 18.17 19.27
Senin, 23 Februari 04.32 04.42 12.10 15.17 18.17 19.26
Selasa, 24 Februari 04.32 04.42 12.09 15.16 18.17 19.26
Rabu, 25 Februari 04.32 04.42 12.09 15.15 18.16 19.26
Kamis, 26 Februari 04.32 04.42 12.09 15.15 18.16 19.25
Jumat, 27 Februari 04.33 04.43 12.09 15.14 18.16 19.25
Sabtu, 28 Februari 04.33 04.43 12.09 15.13 18.15 19.24
Minggu, 1 Maret 04.33 04.43 12.09 15.12 18.15 19.24
Senin, 2 Maret 04.33 04.43 12.08 15.11 18.14 19.24
Selasa, 3 Maret 04.33 04.43 12.08 15.10 18.14 19.23
Rabu, 4 Maret 04.33 04.43 12.08 15.09 18.14 19.23
Kamis, 5 Maret 04.33 04.43 12.08 15.08 18.13 19.22
Jumat, 6 Maret 04.33 04.43 12.07 15.08 18.13 19.22
Sabtu, 7 Maret 04.33 04.43 12.07 15.09 18.12 19.21
Minggu, 8 Maret 04.33 04.43 12.07 15.09 18.12 19.21
Senin, 9 Maret 04.33 04.43 12.07 15.10 18.12 19.20
Selasa, 10 Maret 04.33 04.43 12.06 15.10 18.11 19.20
Rabu, 11 Maret 04.33 04.43 12.06 15.10 18.11 19.19
Kamis, 12 Maret 04.33 04.43 12.06 15.11 18.10 19.19
Jumat, 13 Maret 04.33 04.43 12.06 15.11 18.10 19.18
Sabtu, 14 Maret 04.33 04.43 12.05 15.11 18.09 19.18
Minggu, 15 Maret 04.33 04.43 12.05 15.12 18.09 19.17
Senin, 16 Maret 04.33 04.43 12.05 15.12 18.09 19.17
Selasa, 17 Maret 04.32 04.42 12.05 15.12 18.08 19.16
Rabu, 18 Maret 04.32 04.42 12.04 15.12 18.08 19.16
Kamis, 19 Maret 04.32 04.42 12.04 15.13 18.07 19.16
Jumat, 20 Maret 04.32 04.42 12.04 15.13 18.07 19.16

Tradisi Ngabuburit di Bulan Ramadan

Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, tradisi ngabuburit kembali menjadi kebiasaan yang akrab di tengah masyarakat. Aktivitas menunggu adzan Maghrib ini sering diisi dengan berbagai kegiatan agar waktu terasa lebih cepat berlalu. Namun, dibalik tradisi tersebut, ada pesan penting yang perlu direnungkan: apakah ngabuburit yang kita lakukan benar-benar bernilai ibadah, atau justru berpotensi mengurangi esensi puasa itu sendiri?

Menurut Ustaz Rikza Maulan dalam program Tanya Ustaz, ngabuburit pada dasarnya adalah aktivitas menunggu waktu berbuka dengan melakukan kegiatan tertentu. Namun, Dewan Penasihat Rumah Zakat ini mengatakan jika dalam praktiknya, tradisi ini bisa dipandang dari dua sisi positif dan negatif.

Dari sisi positif, ngabuburit dapat menjadi momentum ibadah yang penuh pahala. Mengisi waktu dengan tilawah Al-Quran, zikir, memperbanyak doa, atau berbagi takjil kepada sesama adalah bentuk kegiatan yang sangat dianjurkan. Bahkan, waktu menjelang berbuka puasa merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa.

“Mengisinya dengan amal saleh bukan hanya membuat waktu terasa cepat, tetapi juga mempertebal kualitas spiritual selama Ramadan,” ujar Ustaz Rikza.

Sebaliknya, ngabuburit juga bisa menjadi aktivitas yang kurang bernilai apabila hanya diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya berjalan tanpa tujuan jelas sekadar menghabiskan waktu, bermain game berlebihan, atau terlalu lama menggulir media sosial tanpa kontrol. Aktivitas seperti ini memang tidak membatalkan puasa, tetapi berpotensi mengurangi nilai dan esensi ibadah itu sendiri.

Lebih jauh, tanpa disadari, konten yang dikonsumsi saat menggulir media sosial bisa saja mengandung unsur yang tidak pantas, seperti membuka aurat, ghibah, atau fitnah. Hal ini tentu bertentangan dengan substansi puasa yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu serta menjaga pandangan, lisan, dan perilaku.

Dalam sebuah hadis disebutkan, ketika seseorang yang berpuasa dicerca atau diperlakukan tidak baik, hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri yang menyeluruh.

Ulama seperti Imam Al-Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga. Pertama, puasa umum, yakni sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga anggota tubuh dari perbuatan sia-sia dan dosa. Ketiga, puasa yang lebih tinggi lagi adalah ketika hati benar-benar terjaga, dipenuhi rasa takut tidak diterimanya amal dan harap agar ibadah diterima Allah SWT.

“Karena itu, ngabuburit sebaiknya diisi dengan kegiatan yang membawa manfaat dan kebaikan. Jangan sampai waktu yang seharusnya menjadi kesempatan emas untuk meraih pahala justru berlalu sia-sia, atau bahkan menambah dosa,” kata Dewan Penasihat Rumah Zakat ini.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang mengurangi nilai ibadah. Maka, bijaklah dalam memilih aktivitas ngabuburit, agar Ramadan benar-benar menjadi momentum peningkatan kualitas diri dan keimanan.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *