Sejarah dan Tradisi Bubur Harisah di Kampung Arab Cirebon
Bubur harisah, sebuah warisan kuliner yang telah bertahan selama tiga generasi, masih terus diracik hingga kini di Kampung Arab Cirebon. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan warisan sejarah yang hidup di setiap bulan Ramadan.
Warisan kuliner yang berasal dari nenek moyang ini masih dibagikan secara gratis kepada masjid dan warga sekitar. Tradisi ini dijaga oleh Fatimah Bayasut (67), warga Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Di rumah produksi sederhananya, aroma rempah khas Timur Tengah menguar sejak pagi hari. “Ini sejarahnya sudah dari nenek moyang, sudah diadakan setiap bulan Ramadan saja,” ujar Fatimah saat diwawancarai.
Ia mengaku tidak lagi mengingat sejak tahun berapa tradisi tersebut dimulai. “Ya, itu tanya sudah lupa ya, saking lamanya,” ucapnya dengan senyuman. Menurut Fatimah, bubur harisah berbeda dari bubur pada umumnya karena menggunakan racikan rempah khas Timur Tengah. Rempah-rempah yang digunakan antara lain kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, dan ketumbar.
Proses memasak bubur harisah pun membutuhkan waktu panjang. Sejak pagi hari, bubur dimasak dengan santan dan daging kambing agar cita rasanya semakin kuat. “Oh iya ada, dari mulai pagi kan dikasih daging kambing juga,” ujarnya. Tradisi ini sudah berjalan turun-temurun hingga generasi ketiga. Fatimah meneruskan tradisi tersebut bersama sang kakak, Abdullah bin Muhammad bin Sahil. “Tiga (generasi). Iya, sama Pak Abdullah Bin Muhammad Bin Sahil,” jelas dia.
Tradisi bubur harisah ini pertama kali dirintis oleh Sech Mohammad Islam Bayasut dan terus bertahan hingga kini. Setiap hari selama Ramadan, produksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Sore harinya, sebanyak 100 porsi bubur harisah dibagikan. “Berapa porsi? 100. Ke masjid dan sama keluarga, tetangga-tetangga yang minta, kita kasih,” katanya. Pembagian dilakukan ke masjid-masjid di wilayah Kampung Arab serta kepada warga yang membutuhkan. Tradisi itu berlangsung selama satu bulan penuh.
Menariknya, seluruh biaya produksi berasal dari dana yayasan keluarga tanpa mengandalkan sumbangan luar. “Dari dana sini semua, yayasan,” ucap Fatimah. Dari pantauan di lokasi, suasana gotong royong terasa kental. Seorang pria berpeci dan wanita lanjut usia terlihat menata wadah styrofoam di atas meja panjang berlapis taplak batik. Di sudut lain, seorang perempuan bercadar hitam dengan cekatan menyendok bubur dari panci aluminium besar ke dalam wadah. Potongan daging berwarna cokelat gelap tampak tersusun di atas bubur putih kental yang kaya rempah.
Bangunan rumah bergaya lama dengan langit-langit kayu hijau dan pilar putih menjadi saksi tradisi yang tak pernah absen setiap Ramadan. “Ada sih di mana-mana, tapi tidak kayak di rumahan saja. Cuman kita yang adakan di sini ada di Panjunan, di rumah,” jelas dia.
Sejarah Kampung Arab Cirebon
Kampung Arab Cirebon merupakan salah satu kawasan bersejarah yang berada di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Wilayah ini tumbuh dari komunitas para pedagang dan ulama keturunan Arab yang datang ke pesisir utara Jawa sejak abad ke-15. Sejak masa Kesultanan Cirebon, wilayah pelabuhan menjadi pusat pertemuan berbagai bangsa.
Pedagang dari Hadramaut (Yaman) datang melalui jalur perdagangan laut dan menetap di sekitar pelabuhan Cirebon. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan ajaran Islam. Perkembangan Islam di Cirebon sendiri erat kaitannya dengan peran Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang mendirikan dan mengembangkan Kesultanan Cirebon pada abad ke-15. Interaksi antara ulama lokal dan pendatang Arab memperkuat identitas religius kota ini.
Seiring waktu, para pendatang Arab membentuk komunitas tersendiri yang kini dikenal sebagai Kampung Arab Panjunan. Pola permukiman khas terlihat dari rumah-rumah tua dengan arsitektur perpaduan Timur Tengah, Jawa, dan kolonial. Di kawasan ini juga berdiri masjid-masjid tua yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Salah satu yang paling terkenal adalah Masjid Merah Panjunan yang berdiri sejak abad ke-15 dan menjadi simbol akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tiongkok.
Kampung Arab bukan sekadar kawasan etnis, melainkan pusat tradisi keagamaan yang masih hidup hingga kini. Tradisi Maulid Nabi, pembacaan salawat, hingga kuliner khas Ramadan seperti bubur harisah menjadi bagian dari identitas kawasan ini. Keluarga-keluarga keturunan Arab di Panjunan umumnya masih mempertahankan silsilah marga (fam) seperti Alaydrus, Assegaf, Alatas, dan lainnya. Nilai kekeluargaan dan pendidikan agama menjadi fondasi kehidupan sosial di kampung ini.
Meski Kota Cirebon terus berkembang, Kampung Arab tetap mempertahankan ciri khasnya. Aktivitas keagamaan tetap ramai, terutama saat Ramadan. Tradisi berbagi makanan, pengajian, dan kegiatan sosial masih rutin dilakukan. Keberadaan Kampung Arab memperlihatkan bahwa Cirebon sejak dahulu merupakan kota pelabuhan yang terbuka terhadap pertemuan budaya. Warisan sejarah itu masih terasa kuat hingga hari ini, menjadikan kawasan ini bukan hanya pusat religi, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan budaya di Kota Cirebon.











