Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Ramadan: Jalan Menuju Takwa dan Cinta Ilahi

Tema Kultum: Ramadan dan Penyucian Hati

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim.

Saudara-saudara yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kita patut bersyukur kepada Allah karena masih bisa berjumpa dengan bulan Ramadan. Kebetulan ini kita berada di awal bulan Ramadan ya. Otomatis insyaAllah semangat kita ini menggebu-gebu. Bukan hanya di awal saja melainkan sampai akhir dari pada bulan Ramadan. InsyaAllah kita akan senantiasa semangat terus menjalankan ibadah puasa dan kita berdoa kepada Allah semoga diberikan kelancaran, kesehatan. Sehingga kita dapat menunaikan ibadah puasa dengan sesempurna mungkin.

Saudara semua yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

(Dalam bahasa Arab) Ramadan bisa bermakna mensucikan atau membersihkan hati kita. Kemudian kalau kita ingat lagi daripada ayat Al-Quran tentang diwajibkannya puasa atau seruan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُm لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus-siyamu kama kutiba ‘alallazina ming qablikum la’allakum tattaqun.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al Baqarah: 183].

Sampai pada dua ayat yang paling membuat kita senantiasa semangat beribadah adalah, di situ Allah mengatakan:

وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

[Al Baqarah: 185]

Siapa yang melakukan kebaikan, maka kebaikan itu untuk dirinya.

Kalau tidak ada udhur (halangan), maka bagaimana caranya kita tetap menyempurnakan puasa kita, khususnya puasa Ramadan. Karena poin utama tujuan puasa adalah la’allakum tattakun, supaya kita menjadi pribadi yang semakin bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala, ada satu kitab bernama Lafa’iful Ma’alif karangan daripada Syekhul Imam, Al-Hafidh Zaynuddin Abul Fard Abdul Rahman Al-Hambali Ad-Dinushfi. Dalam kitab ini terdapat penjelasan puasa, supaya kita ini bisa makin enjoy menjalankan ibadah puasa. Supaya kita ini lebih semangat untuk beramal salih di dalam bulan Ramadan yang kita ketahui di dalam bulan Ramadan dilipat-gandakan setiap amal kebaikan.

Di dalam Kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan sebuah hadis Nabi ﷺ bahwa setiap amal ibadah yang kita kerjakan sesungguhnya kembali kepada diri kita sendiri. Bahkan khusus bagi umat Baginda Muhammad ﷺ, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saudara-saudara yang dirahmati Allah, dalam hadis tersebut Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa puasa memiliki nilai yang sangat istimewa. Maka sungguh beruntung orang yang dalam kesempatan ini benar-benar bersemangat menjalankan ibadah puasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui sabda Nabi ﷺ, menegaskan dalam hadis qudsi bahwa seluruh amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Tentang puasa Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Dari sini dapat kita pahami bahwa puasa bukanlah ibadah yang biasa. Ia memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menjelaskan kewajiban puasa agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Ternyata puasa secara de facto merupakan amaliah para nabi terdahulu, yang kemudian disempurnakan oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif disebutkan, seseorang meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya semata-mata karena Allah. Inilah hakikat puasa. Ketika seorang hamba menjalankan ibadah puasa, ia berusaha menyempurnakan ibadah tersebut dengan meninggalkan syahwat, meninggalkan makan, dan meninggalkan minum, semuanya li ajli Allah — karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Padahal kita tahu, syahwat yang disalurkan secara halal, seperti hubungan suami istri, itu diperbolehkan. Makan dan minum juga jelas diperbolehkan. Allah berfirman:

“Wa kulu wasyrabu”, makanlah dan minumlah kalian.

Namun dalam keadaan berpuasa, ceritanya berbeda. Orang yang berpuasa justru dituntut meninggalkan sesuatu yang hukumnya mubah (boleh), semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang menjadikan puasa sangat istimewa. Maka orang yang berpuasa memiliki derajat khusus di hadapan Allah.

Puasa dan Sabar

Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif karya Zainuddin Abul Faraj Abdurrahman Al-Hanbali Ad-Dimasyqi dijelaskan bahwa puasa termasuk bagian dari praktik kesabaran (minas shabr). Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa Nabi SAW menamai Ramadan sebagai bulan kesabaran. Dalam riwayat Tirmidzi juga disebutkan:

الصومُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa itu separuh (dari) sabar.”

Artinya, orang yang berpuasa sejatinya sedang melatih dan menyempurnakan kesabarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah mengingatkan bahwa manusia pasti diuji. Ujian itu bisa berupa rasa takut dan rasa lapar. Bukankah ini bagian dari puasa? Bedanya, dalam puasa kita mengetahui kapan sahur dan kapan berbuka, sehingga rasa lapar itu kita jalani dengan kesadaran dan niat ibadah.

Para ulama menjelaskan bahwa sabar terbagi menjadi tiga:

  • Sabar dalam ketaatan kepada Allah (shabrun ‘ala tha’atillah). Kita sabar untuk terus menjalankan perintah Allah.
  • Sabar dalam menjauhi larangan Allah (shabrun ‘an maharimillah). Kita sabar meninggalkan sesuatu yang diharamkan. Ini membutuhkan usaha dan kesungguhan, terlebih saat berpuasa.
  • Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang menyakitkan (shabrun ‘ala aqdarillahil mu’limah). Yaitu sabar atas takdir yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Menariknya, ketiga jenis sabar ini terkumpul dalam ibadah puasa. Di dalam puasa ada:

  • Sabar dalam ketaatan (menjalankan perintah puasa).
  • Sabar menjauhi syahwat dan hal-hal yang membatalkan puasa.
  • Sabar menghadapi rasa lapar, haus, lemah badan, dan letihnya jiwa.

Semua unsur kesabaran itu hadir dalam puasa.

Balasan bagi Orang yang Sabar

Sebagai penutup, Allah menjanjikan balasan luar biasa bagi orang-orang yang sabar. Dalam Surah Az-Zumar ayat 10 disebutkan:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan pahala tanpa batas. Balasan mereka tidak dihitung dengan hitungan biasa. Tidak seperti matematika. Allah memberikannya tanpa batas.

Ada kisah dari seorang ulama bernama Dzunnun. Beliau pernah ditanya, “Kapan seseorang bisa merasakan cinta kepada Tuhannya?” Beliau menjawab, “Jika sesuatu yang dibenci Allah menjadi lebih ia benci, dan ia melewatinya dengan kesabaran.” Makan dan minum adalah sesuatu yang kita sukai. Namun ketika puasa, kita meninggalkannya karena Allah. Di situlah letak cinta.

Ulama lain mengatakan, cinta bukan sekadar pengakuan. Cinta sejati adalah ketika engkau membenci apa yang dibenci oleh Kekasihmu. Jika Allah dan Rasul-Nya tidak menyukai suatu hal, maka kita pun menjauhinya, meskipun sebenarnya itu sesuatu yang kita sukai dan hukumnya boleh. Itulah hakikat cinta.

Akhirnya, beruntunglah orang yang berani meninggalkan syahwat yang hadir di hadapannya, demi janji Allah yang belum ia lihat dengan mata, tetapi ia yakini sepenuh hati.

Semoga di awal Ramadan ini Allah memberikan kita kemudahan, kelancaran, dan kesehatan, hingga kita mampu menyempurnakan ibadah puasa. Semoga kita juga dipertemukan dengan Lailatul Qadar.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *