Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Pondok Pesantren di Ngaliyan Semarang Berusia Lebih dari 4 Abad

Sejarah dan Keberlanjutan Pesantren Salafi Luhur Dondong

Di tengah kepadatan lalu lintas di jalur Pantura Semarang–Kendal, terdapat sebuah pesantren tua yang tetap menjaga kesunyian di dalam gang sempit. Pesantren ini berada di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Meski tampak sederhana dari luar, kompleks pesantren ini menyimpan sejarah yang sangat panjang, lebih dari empat abad lamanya.

Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Salafi Luhur Dondong, sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan pada tahun 1609 M. Hingga kini, bangunan-bangunan lamanya masih difungsikan sebagai ruang ibadah, pengajian, dan tempat santri menimba ilmu. Salah satu santri muda yang tinggal di sini adalah Muhammad Afif Ilyas, yang memilih mondok di Dondong karena nilai sejarah dan sanad keilmuan yang terus dijaga turun-temurun.

“Pesantren ini umurnya lebih dari 400 tahun. Saya baru Desember 2025 kemarin jadi santri di sini,” kata Afif, Rabu (18/2/2026).

Bangunan Tertua yang Masih Difungsikan

Di dalam area pesantren, terdapat satu bangunan yang menonjol karena usia dan keasliannya. Bangunan itu dikenal sebagai Kompleks A, bagian tertua pesantren yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan mengaji. Struktur bangunannya masih mempertahankan bentuk awal, seperti tembok tebal bercat putih, jendela kayu, serta rangka atap kayu tanpa plafon modern.

Lantai ubin lama dengan penanda shaf salat menunjukkan fungsi utamanya sebagai ruang ibadah sejak ratusan tahun lalu. Bangunan tua itu bukan sekadar peninggalan, melainkan ruang hidup yang terus dipakai santri setiap hari.

“Ini termasuk bangunan tertuanya, di dalam ada delapan kamar, yang ruang utamanya digunakan mengaji,” ujar Afif. Di bagian teras, terdapat kentongan tua yang menjadi bagian dari sejarah pesantren. Namun tidak semua benda berusia ratusan tahun ditampilkan secara langsung.

“Kentongan yang asli yang tua ada, yang ditampilkan di sini pajangan,” kata Afif. Di bagian dalam, suasana ruang terasa lapang dan minim ornamen. Perabot yang ada hanya meja kayu, galon air, bangku panjang, serta beberapa sajadah yang terhampar di lantai. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi kecil di bagian atas dinding. Kesederhanaan ruang itu mencerminkan karakter pesantren salaf yang menempatkan fungsi dan keberkahan ilmu di atas kemegahan bangunan.

Musala Abu Darda dan Makam Pendiri

Masih satu kawasan dengan bangunan lama, berdiri Musala Abu Darda’ yang menjadi pusat kegiatan ibadah santri. Musala tersebut telah mengalami perbaikan, namun bagian inti bangunan tetap dipertahankan keasliannya. “Untuk musalanya juga tua, tapi sudah direnovasi, yang asli yang di dalamnya,” tutur Afif.

Di samping musala, terdapat sebuah joglo kayu yang menaungi makam pendiri pesantren, KH Syafi’i Pijoro Negoro. Area makam diberi pembatas kayu dan papan penanda batas suci. Dia juga menjelaskan susunan makam yang ada di dalam joglo tersebut.

“Makamnya itu makam Kiai Haji Priyonegoro. Di makamnya ada tiga, di sebelah makamnya itu istrinya, kemudian yang satunya Mbah Maskon, kemungkinan mantunya,” sebutnya.

Jejak Perlawanan

Secara harfiah, pada tahun 1600-an, wilayah yang kini menjadi Kelurahan Wonosari (Ngaliyan) merupakan hutan lebat yang didominasi oleh pohon Kedondong Hutan. Saat Kiai Syafi’i Pijoro Negoro datang untuk “babat alas” (membuka lahan), beliau memilih lokasi yang dikelilingi pohon-pohon ini sebagai penanda wilayah.

Riwayat KH Syafi’i Pijoro Negoro tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama. Dalam berbagai sumber lisan dan arsip pesantren, dia dikenal sebagai bagian dari perjuangan Mataram Islam melawan VOC. Pendiri pesantren ini hidup sezaman dengan Sultan Agung. Dalam penyerbuan ke Batavia pada 1629, KH Syafi’i disebut menjadi komandan pasukan Mataram. Setelah peperangan, dia menetap di Kampung Dondong dan mendirikan padepokan yang kemudian berkembang menjadi pesantren.

Pada masa berikutnya, kawasan Dondong juga diyakini memiliki keterkaitan dengan jaringan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).

Sanad Keilmuan

Di tengah minimnya jumlah santri, Pondok Pesantren Luhur Dondong tetap dikenal karena sanad keilmuan yang kuat. Nama-nama besar ulama Nusantara disebut memiliki keterkaitan dengan pesantren ini. Salah satunya adalah KH Sholeh Darat, ulama besar Semarang yang dikenal sebagai guru sejumlah tokoh nasional.

Sanad tersebut yang membuat Afif mantap memilih mondok di pesantren tua tersebut. “Kenapa ingin mondok di sini? Karena dari sanad, dari keilmuannya, dari kitabnya, saya melihat para lulusan-lulusannya,” kata Afif.

Saat ini, jumlah santri yang menetap di Pondok Pesantren Luhur Dondong relatif tidak banyak. Meski demikian, aktivitas belajar dan ibadah tetap berjalan setiap hari. “Total santri di sini sekitar 17–18 orang. Delapan kamar. Ditempati santri, ada yang pekerja, ada yang sekolah dua,” ujar Afif.

Dia sendiri menjalani kehidupan mondok sambil bekerja. “Saya mondok di sini sambil bekerja. Bekerja di Shopee,” katanya. Keseharian santri berlangsung di antara bangunan tua yang masih difungsikan, termasuk kamar Afif yang berada tepat di depan ruang mengaji.

“Saya inginnya punya waktu lebih panjang untuk nyantri di sini,” pungkas Afif.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *