Perubahan Tren Pernikahan di Kalangan Generasi Z
Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin modern, tren pernikahan sederhana kian menjadi pilihan utama bagi generasi Z. Mereka lebih memilih menggelar acara pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) tanpa adanya pesta besar-besaran. Bagi Gen-Z, pernikahan cukup dianggap sah secara hukum dan agama, tanpa perlu adanya prosesi yang terlalu meriah.
Namun, di balik keputusan tersebut, para pelaku industri pernikahan mulai menyuarakan kekhawatiran. Mereka melihat bahwa pergeseran ini bukan hanya tentang efisiensi biaya, tetapi juga berdampak pada hilangnya makna pernikahan sebagai momen sakral yang seharusnya dirayakan dengan penuh sukacita.
Pandangan dari Para Pelaku Industri
Founder Whulyan Attire, Ayu Wulan, menilai bahwa Gen-Z memiliki motivasi berbeda dalam memandang pernikahan. “Banyak Gen-Z yang memandang pernikahan sebagai acara penting sah saja. Intimate wedding, menikah di KUA, lalu selesai. Padahal pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari atau pesta makan-makan,” ujarnya.
Menurut Ayu Wulan, pernikahan tetap perlu dihargai sebagai momen besar dalam hidup, meskipun tidak harus identik dengan kemewahan. “Yang ingin kami tekankan, pernikahan itu harus dirayakan dengan sukacita. Bukan karena takut menikah, bukan karena tekanan tren, tapi karena kesadaran akan maknanya,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap cara pandang generasi muda. “Semua orang sekarang hidup di media sosial. Kalau narasi yang muncul adalah menikah cukup sah lalu jalan-jalan, lama-lama esensi pernikahan itu sendiri bisa hilang.”
Tantangan yang Dihadapi Industri Pernikahan
Pandangan serupa disampaikan oleh Lita dari Visesa Wedding Organizer. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh pelaku usaha wedding menghadapi tantangan yang sama akibat perubahan perilaku konsumen. “Hampir semua vendor menghadapi kegelisahan serupa. Tantangannya adalah bagaimana membuat pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan,” katanya.
Lita menambahkan bahwa banyak calon pengantin muda yang sebenarnya belum memiliki gambaran jelas soal pernikahan. “Mereka datang tanpa bayangan. Setelah melihat, mencoba, dan mendapat edukasi, baru muncul gambaran wedding dream mereka.”
Angka Pernikahan yang Menurun
Founder Mitra Flower & Decorations, Sumitro, membeberkan fakta penurunan angka pernikahan secara nasional yang berdampak langsung pada industri. “Di 2025, penurunan pernikahan terasa paling parah bagi pelaku usaha wedding,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa jumlah pernikahan di Indonesia turun dari 2,2 juta pada 2013 menjadi sekitar 1,4 juta pada 2025. “2023 masih 1,5 juta, 2024 turun lagi. Bahkan saat pandemi 2020 masih di angka 1,7 juta,” katanya.
Sumitro menilai perubahan gaya hidup Gen-Z turut memengaruhi keputusan menikah. “Mereka semakin minimalis. Di dekorasi yang penting foto bagus. Bunga artificial makin diminati, bunga asli makin jarang dipakai,” jelasnya.
Adaptasi Tren yang Berubah
Perwakilan Melodia, Risky, mengatakan bahwa selera Gen-Z turut mengubah tren lighting dan tata suara dalam pernikahan. “Sekarang arahnya ke soft, tidak mencolok tapi tetap kelihatan. Banyak yang memilih warna amber white,” ujarnya.
Menurut Risky, perubahan ini menuntut vendor untuk terus menyesuaikan diri. “Trennya bergeser, dan kami harus mengikuti,” katanya.
Pernikahan Bukan Ajang Pamer
Fotografer wedding, Bayu, melihat perubahan besar pada preferensi klien. “Dulu dekorasi serba mewah, sekarang lebih praktis dan intimate. Warna netral, yang penting bagus secara visual,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kenyamanan tamu tetap harus diperhatikan. “Visual tamu yang datang juga harus dimanjakan,” ujarnya.
Sementara itu, Owner Sonokembang Catering, Pramudita Ananta Prabowo, menegaskan bahwa pernikahan bukanlah ajang pamer. “Pernikahan itu membahagiakan, bukan kompetisi siapa paling wah. Ini momen bersatunya dua keluarga dan saling mendoakan,” ujarnya.
Ia menilai penurunan angka pernikahan juga dipicu stigma bahwa pernikahan harus selalu tampil megah. “Padahal pernikahan bisa sederhana tapi tetap bermakna,” katanya.
Kesepakatan Bersama
Para pelaku industri sepakat bahwa tren pernikahan boleh berubah mengikuti zaman. Namun, makna dan esensi pernikahan sebagai ikatan sakral diharapkan tetap dijaga. “Yang dibutuhkan sekarang adalah narasi positif soal pernikahan, terutama di media sosial,” pungkas Pramudita.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











