Profil PPS Tasikoki: Pusat Penyelamatan Satwa di Sulawesi Utara
PPS Tasikoki berada di Desa Watudambo, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut). Lokasi ini menjadi satu-satunya pusat penyelamatan satwa di Pulau Sulawesi yang aktif menangani satwa liar korban perdagangan ilegal. Jarak dari Kota Bitung ke PPS Tasikoki adalah sekitar 15,7 km dengan waktu tempuh sekitar 29 menit menggunakan kendaraan bermotor lewat Jl. Likupang – Bitung dan Girian – Kema. Sementara jarak dari Kota Manado, ibu kota Provinsi Sulut, ke PPS Tasikoki adalah sekitar 40-41 kilometer. Perjalanan dari pusat kota Manado ke Tasikoki memakan waktu sekitar 50 menit hingga 1 jam 15 menit, tergantung kondisi lalu lintas dan rute yang dipilih.
PPS Tasikoki memiliki luas kawasan mencapai 55 hektar. Sebagian besar dari luasan tersebut digunakan untuk kandang karantina, kandang rehabilitasi, klinik, dapur pakan, serta fasilitas pendukung lainnya. Area pelepasliaran dilakukan di kawasan hutan yang telah ditentukan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Fasilitas dan Aktivitas Wisata di PPS Tasikoki
PPS Tasikoki menawarkan wisata edukasi konservasi yang memungkinkan pengunjung belajar tentang pentingnya menjaga satwa liar dan habitatnya. Pengunjung dapat mengakses Education Centre, area kunjungan satwa, serta guest house. Aktivitas seperti pemandangan alam dan edukasi konservasi juga tersedia.
Di area kunjungan yang telah ditentukan, wisatawan dapat melihat langsung beberapa satwa yang sedang menjalani rehabilitasi. Berbagai satwa hasil sitaan ditemukan di sini, mulai dari burung, primata, hingga mamalia seperti beruang madu. Selain satwa dari luar Sulawesi seperti orangutan dan kasuari, pengunjung juga dapat menyaksikan satwa endemik seperti monyet hitam Sulawesi dan babirusa.
Setiap kunjungan biasanya diawali di Education Centre, tempat rombongan pelajar maupun wisatawan umum mendapatkan pemaparan tentang konservasi, perdagangan satwa liar, dan peran masyarakat dalam menjaga ekosistem.
Proses Rehabilitasi dan Karantina
Karena merupakan pusat rehabilitasi, kunjungan ke Tasikoki harus melalui permohonan terlebih dahulu. Interaksi langsung dengan satwa sangat dibatasi demi keamanan dan kesejahteraan hewan. Setiap satwa yang baru tiba wajib menjalani karantina dan pemeriksaan kesehatan. Staf menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan sepatu khusus saat melakukan perawatan.
Menurut Andrew Leonardo Donsu, staf sekaligus pemandu di Tasikoki, wisata edukasi seperti ini penting karena Sulawesi masih menjadi jalur perdagangan satwa liar. “Kesadaran harus dibangun bersama. Kalau masyarakat paham dampaknya, angka perburuan dan perdagangan bisa ditekan,” ujarnya.
Data dan Tantangan
Dalam data terbaru, 274 ekor satwa liar sedang direhabilitasi di Tasikoki. Jumlah tersebut terdiri dari:
* 109 mamalia.
* 28 reptil.
* 137 aves (burung).
Satwa yang masuk ke Tasikoki umumnya merupakan hasil sitaan aparat penegak hukum, penyerahan sukarela masyarakat, hingga korban penyelundupan lintas daerah maupun lintas negara. Sulawesi Utara disebut menjadi titik transit terakhir sebelum satwa diselundupkan ke Filipina maupun wilayah Jawa.
Puluhan Satwa Berhasil Kembali ke Alam
Dalam kurun waktu 3-5 tahun terakhir, puluhan satwa endemik Sulawesi berhasil dilepasliarkan, termasuk primata, burung, dan reptil. Monitoring pasca-lepasliar dilakukan melalui observasi lapangan bersama mitra konservasi. Sebagian besar satwa mampu beradaptasi dengan baik, meski ancaman deforestasi dan perburuan tetap menjadi tantangan jangka panjang.
Protokol Keamanan dan Pencegahan Zoonosis
PPS Tasikoki menerapkan karantina ketat, pemeriksaan kesehatan rutin, penggunaan alat pelindung diri oleh staf, serta pembatasan interaksi langsung antara manusia dan satwa. Kunjungan masyarakat dibatasi dan harus mengajukan permohonan minimal 72 jam sebelumnya. Kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan satwa, mencegah stres, dan memastikan biosekuriti.
Selain rehabilitasi, PPS Tasikoki aktif menggelar kunjungan edukatif terjadwal, penyuluhan ke sekolah, kampanye digital, program konservasi berbasis komunitas.

Pendanaan dan Dukungan
PPS Tasikoki didukung oleh 2 dokter hewan, 9 keeper, 2 staf administrasi, serta relawan yang jumlahnya tidak menentu. Pendanaan berasal dari donasi individu, dukungan lembaga mitra, program CSR perusahaan, serta kerja sama konservasi. Biaya terbesar operasional Tasikoki adalah pakan dan perawatan medis. Pemeriksaan laboratorium dinilai cukup mahal, sementara fasilitas pengujian sampel di Sulawesi Utara masih terbatas.

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











