
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang sering ditemukan di perairan Indonesia ternyata memiliki dampak negatif terhadap ekosistem. Meskipun tampak biasa, spesies ini bisa menjadi ancaman bagi keseimbangan lingkungan air karena sifat invasifnya. Salah satu contoh adalah Sungai Ciliwung, di mana populasi ikan sapu-sapu meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dari penelitian yang dilakukan pada 2011, hanya ada sekitar 12 ekor ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. Namun, dalam survei terbaru antara 2023 dan 2024, jumlahnya telah mencapai 287 ekor. Peningkatan ini menunjukkan adanya pertumbuhan populasi yang sangat cepat, yang dapat mengganggu keberlanjutan ekosistem sungai.
Penelitian yang memperlihatkan hal ini dilakukan oleh Iqbal Mujadid dkk. Mereka melakukan pengamatan di 18 stasiun pemantauan sepanjang Sungai Ciliwung, yang meliputi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan DKI Jakarta. Total panjang sungai yang diteliti adalah 9 km dari total 120 km. Dibandingkan dengan penelitian Hadiaty pada 2011 yang hanya melibatkan 16 stasiun, penelitian Iqbal Mujadid dkk lebih luas dan mendetail.

Dalam penelitian tersebut, Iqbal Mujadid dkk menemukan total 296 ekor ikan sapu-sapu di 18 stasiun. Namun, untuk membandingkan hasil dengan data dari penelitian Hadiaty, mereka menggunakan angka 287 ekor sebagai acuan. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis dari 12 ekor menjadi 287 ekor dalam waktu 14 tahun.
Ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies ikan eksotis atau alien, yang berarti tidak berasal dari Indonesia dan dipindahkan ke lokasi baru oleh manusia. Spesies ini dianggap berbahaya karena kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi air yang tercemar dan tidak memiliki predator alami. Hal ini membuatnya mudah berkembang biak tanpa kendala alami.
Di bagian hilir Sungai Ciliwung, terutama di wilayah DKI Jakarta 1 dan 2, ikan sapu-sapu paling dominan. Wilayah ini memiliki kualitas air rendah dan tingkat pencemaran tinggi, sehingga banyak spesies ikan lain tidak mampu bertahan. Kulit keras ikan sapu-sapu juga membuat predator lokal sulit memangsa spesies ini, sehingga populasi terus berkembang.

Kenaikan jumlah ikan sapu-sapu berdampak langsung pada keseimbangan ekosistem. Spesies ini mendominasi ruang hidup dan sumber makanan, menyebabkan persaingan dengan ikan lokal. Akibatnya, populasi ikan asli seperti ikan regis (Mystacoleucus marginatus), benter (Barbodes binotatus), kehkel (Glyptothorax platypogon), dan bogo (Channa limbata) terus menurun.
Penelitian ini menunjukkan bahwa empat spesies ikan lokal mengalami penurunan kelimpahan. Penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka bersaing dengan ikan sapu-sapu dalam mencari makanan dan ruang. Ikan regis dan benter bersaing langsung dengan ikan eksotis, sedangkan kehkel bersaing dengan spesies lain seperti bristlenose pleco (Ancistrus sp.).

Ikan sapu-sapu juga memiliki risiko kesehatan jika dikonsumsi. Menurut studi Puspitasari (2018), ikan ini mengandung bakteri koliform yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Selain itu, penelitian Ismi (2019) menemukan logam berat dalam daging ikan sapu-sapu, yang berpotensi menimbulkan keracunan jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Studi Deriano (2022) juga menemukan mikroplastik dalam tubuh ikan sapu-sapu. Mikroplastik sulit dicerna oleh tubuh manusia dan bisa menyebabkan efek jangka panjang terhadap kesehatan. Oleh karena itu, konsumsi ikan sapu-sapu tidak disarankan, terutama dari daerah yang tercemar.

Dengan semua risiko ini, penting bagi masyarakat untuk sadar akan dampak ikan sapu-sapu terhadap lingkungan dan kesehatan. Kebijakan pemerintah yang melarang masuknya spesies invasif juga perlu ditegakkan agar ekosistem perairan tetap terjaga. Penelitian seperti yang dilakukan oleh Iqbal Mujadid dkk memberikan data penting untuk mengambil tindakan lebih lanjut.











